Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bab #06 Kondangan

            1974, menjelang tengah hari.

            Langit lingkungan perumahan Nusa Indah saat itu cerah ceria, menyambut hari. Seakan langit tahu, hari itu adalah hari istimewa. Ya, hari Jum'at, hari Raya mingguan.

            Angin semilir membelai-belai pepohonan singkong karet di halaman rumahku. Suaranya berbisik-bisik kepada dedaunan. Dedaunan mengangguk-angguk bagaikan mengerti bisikan alam itu.
            Aku seperti biasanya, 'asik' menyuarakan suara mobil sembari menjalankan mobil-mobilan kayu buatanku sendiri di permukaan tanah halaman rumahku. Bermain selepas pulang sekolah adalah suatu 'kemerdekaan' bagi diriku dari tekanan-tekanan pelajaran pada pikiranku di sekolah. 

             Aku dan keluargaku baru saja pindah rumah. Dulu kami tinggal di rumah tua peninggalan penjajah Inggris di jalan Kebun Ros, di pusat kota Bengkulu. Kini, kami tinggal di pinggiran kota sekitar 3,5 kilometer dari pusat kota. Lho, tepian kota namun masih dekat ya? Kota Bengkulu di tahun-tahun itu, masih kota kecil, di tepi pantai barat daratan Sumatra. Bahkan, kapal besar tak mampu merapat di pelabuhannya yang kecil dan dangkal kedalaman lautnya.
            Halaman rumahku luas. Merupakan lapisan hamparan rumput selebar enam meter yang mengelilingi rumahku. Lapisan terluar adalah pagar bambu utuh tegak berbaris setinggi dua meter mengelilingi halaman.

            Pagar setinggi itu, nampaknya sengaja dibuat agar aku tidak 'nggeladrah' main sampai keluar halaman rumah. Huh! kesal juga aku rasanya dikekang, ditekan, ini tidak boleh, itu tidak boleh, dan harus ini, harus itu. Ibuku sangat ketat, menjaga diriku agar tidak terlalu banyak bermain di luar dengan anak kampung. Bahkan, terkadang aku dibuatkan jadwal harian kegiatan jam per jam, dari pagi sampai malam.

            Masih terpatri dalam ingatanku,  perkataan Ibu, "Anak kampung itu kotor, tidak bersandal, sarungan, dan sering main ke masjid. Sedangkan anak ningrat itu anak baik, resik, 'necis', banyak berada di rumah, dan tidak main ke masjid." 
            Ningrat? Apa perduliku! Orang-orang tua sering aneh-aneh.
            Pernah suatu ketika, waktu aku baru kelas dua Sekolah Dasar, ibuku memberi peraturan layaknya sekolah militer, "Sekarang tidur dulu! Boleh main keluar rumah sore, mulai jam setengah tiga ya!"

            Dan, aku masih ingat sekali siang itu, mataku sulit terpejam.
            Selalu terbayang-bayang imajinasiku, menjadi sopir truk mobil-mobilan kayuku. Mulutku selalu berdengung, bak suara mesin diesel mobil truk betulan.     

            Aku menarik mobil itu dengan seutas tali. Truk itu melewati tanjakan gundukan pasir, melewati turunan lobang di tanah yang penuh genangan air hujan, terimajinasi dari truk gagah berani mengambil resiko menyebrangi sungai ketika jembatan rusak.

            Ketika truk melewati tanjakan dengunganku, makin keras, "Ngeeeengg!!!! Ngeeeeeeeeeng!!"
Ketika turunan, "Ciiit, esss aaahh, ciitt eesss.  aaahh...". Betul-betul sulit membedakannya dengan bunyi rem angin asli mobil truk betulan. Iyolah!

            Imajinasi dan khayalanku menggelembung. Membuncah. Aku gelisah. Aku menatap jam dinding. Jam dua siang. Masih setengah jam lagi. Rumah sepi. Suara Ibu tak terdengar lagi. Pasti sudah lelap. Aku sudah tak bisa bertahan lagi. Seakan peraturan Ibu belum pernah kudengar. Aku menghambur keluar rumah. Mobil-mobilan truk kayu kusambar.

            "Hayooo !!! kapok enggak !!! boleh main jam setengah tiga, jam dua sudah ngilang!!!" Ibu menebaskan sapu lidi ke pahaku berkali-kali.
            "Ampun buuu, ampun buuu....," teriakku, lirih menahan pedas pahaku. Bulir-bulir air dimataku tak terbendung. Mengucur deras tiada henti, seiring rasa pedih di pahaku. Suaraku sesenggukan.
            Pukulan sapu lidi bertubi-tubi membuat tangisku semakin keras, tersenggal-senggal. Tak cukup itu saja, Ibu mulai mencubiti pahaku dengan gemas. Akhirnya aku lari ke sana ke mari, berusaha menyelamatkan diriku. Akan tetapi Ibu masih gregetan mengejarku. Tangisku semakin menjadi-jadi.

            "Sreek, sreek, sreek ...," suara sandal dipakai setengah diseret membelah ingatanku pada kenangan pedih.
             Aku menghentikan permainan truk kayuku. Mataku mengintip di sela-sela pagar bambu. Terlihat bayangan anak sedang berjalan di jalan depan rumahku. Pandanganku berjalan mengikutinya di antara celah-celah bambu. Ketika sampai di depan gerbang pekarangan rumah dan tinggi pagar bambu agak rendah, oh ... rupanya si Ato temanku, tetangga sebelah. Wajahku menyala berbinar-binar. Aku anak laki-laki sendiri dalam keluargaku, bakal bermain tidak sendiri lagi. Ato kesini tentu ingin bermain bersamaku. Wah, bakal seru ini.

             Tapi, Ato bagaikan kereta api berjalan dengan tetap lajunya melewati depan gerbang halaman rumahku  tanpa mengindahkan aku yang temannya sedang bermain mobil-mobilan truk kayu.
            "Woi ! endak kemano kau?" lengkingku dengan logat asli Bengkulu yang kental. Telah dua tahun lewat aku tinggal di kota ini.
            "Sholat Jum'at!!!" balas Ato lebih melengking lagi, dan ia semakin ditelan jarak.
            Aku tertegun. Ingin meneriaki Ato kembali. Suaraku seperti duri ikan tersangkut di kerongkongan leherku. Macet. Ato semakin tenggelam dalam jarak, semakin jauh. Aku menatap Ato yang semakin mengecil. Terpaku. 

            Dalam tatapan aku mengamati Ato, dan aku baru menyadari, Ato yang bukan orang Jawa itu memakai sarung, berbaju rapi dan menenteng kopiah yang belum dipakainya. Ada apa? Mengapa Ato tidak berpakaian main seperti biasanya? Pakaian Ato seperti orang akan menuju sholat hari Raya Iedul Fithri yang biasa aku lakukan setahun sekali di kampung mbahku. Apakah sekarang hari ini hari Raya juga?
            "Sholat Jum'at?" pertanyaan itu bertubi-tubi menghujani benakku. Kemana gerangan temanku si Ato itu siang-siang begini? Apakah 'sholat Jum'at' itu sama dengan acara hari Raya di hari Jum'at? Siang itu menyisakan pertanyaan yang tak terjawab bagiku.

            Aku waktu itu belum menyadari bahwa pertanyaan dan kejadian itulah yang akan mengubah sebagian besar jejak-jejak hidupku dengan cara yang membuat aku kagum atas kebesaran-Nya. Dan semua itu akan terjawab belasan tahun kemudian. Jauh di depan sana. Dan, selama itu pula kejadian siang itu mengukir sangat tajam di relung hatiku. Selalu teringat, dan senantiasa teringat, seakan bayang-bayang yang selalu mengikuti diriku.

            Sayup-sayup terdengar adzan Zhuhur dari masjid di tepi jalan masuk komplek.

***

            Semenjak itu aku selalu gelisah. Dari kedalaman hati yang sangat dalam ada getar-getar yang berlantasan memanggil-manggil. Seolah-olah ada yang melambai-lambaikan tangan agar aku kembali. Kembali? Kembali kemana? Pulang kemana? Apakah aku sedang pergi menjauh? Menjauh dari apa? Ajaib. Tapi, itulah yang kurasakan.
            "Pak, orang Islam itu kalau sholat Jum'at itu apa saja yang musti dilakukan di masjid?" akhirnya aku beranikan diriku untuk bertanya. Bertanya kepada siapa lagi kalau bukan kepada Bapak.
            "Ya masuk masjid, kamu musti sholat dua raka'at, lalu duduk dengarkan ceramah ustadz yang berdiri di depan, terus sholat bareng-bareng dua raka'at lagi, sudah begitu saja." Bapak berusaha menjelaskan sesederhana mungkin.

            Akan tetapi ganjilnya, Bapak tidak pernah mengajak aku untuk sholat Jum'at ke masjid. Bahkan sholat yang setiap hari lima kalipun, Bapak tidak pernah memerintahkanku. Sholat yang tiap hari itu hanya kami lakukan berjama'ah bersama-sama di rumah ketika bulan puasa Ramadhan, itupun hanya sholat Maghrib. Absurd!
            Aku bingung, kata Bapak aku ini orang Islam, akan tetapi membaca huruf-huruf Arab saja tidak bisa. Terkadang lihat teman-temanku yang Islam fasih sekali membaca huruf-huruf Arab dalam kitab suci orang Islam, Al Qur'an, aku jadi malu. Aku jengah ketika datang momen-momen yang terkait Islam, buta huruf Arab, bahkan tidak faham sama sekali pada agama sendiri.
            "Bu, kalau sholat itu baca apa saja ya? Kok aku kalau sholat cuma gerak-gerak tok ikut gerakan Bapak saja," aku selalu bertanya-tanya kepada Ibu yang sering di rumah. Bapak sering dinas ke kantor, bahkan sering ke proyek di pedalaman hutan propinsi Bengkulu. Sibuk.
            Pertanyaan-pertanyaan tentang sholat, bacaan sholat, bacaan Al Qur'an, mengapa orang Islam musti sholat, berlanjut terus, makin mendesak dadaku semakin menggelembung. Siap meletus kapanpun waktunya.

            Para pembaca pasti tercengang, "Apakah si Ngadiman ini tidak diajari agama? Lha yang dipelajari di sekolah apa? Apakah tidak ada pelajaran agama Islam?"
            Ya, tentu saja tidak belajar agama, karena aku di Bengkulu disekolahkan oleh bapak-ibuku di sekolah Kristen. Konon sekolah itu sekolah yang paling elit dan "bonafide" sekota Bengkulu. Ya bagaimanalah ada pelajaran agama Islam? 
            Bahkan sebelum belajar di kelas dimulai dengan doa ala Kristen, "Atas nama bapa dan putra dan roh kudus ......" 
            Sebagian guru-gurunya dan kepala sekolahnya adalah suster-suster biarawatinya orang-orang Kristen.
            Sanubariku selalu gelisah, resah dan bergolak. Mengapa aku dikumpulkan dengan orang-orang yang tak seagama? Bahkan, aku punya keluarga yaitu keluarga kakak Ibu yang mereka semua orang-orang Kristen. Setiap liburan, aku sekeluarga sering liburan ke rumah mereka di Bandung. Apalagi jika liburan akhir tahun yaitu pada hari raya mereka, Natal dan Tahun Baru, bahkan mereka pernah mengajak aku dan kakak-kakakku ke gereja. Kami ikut masuk ke dalam gereja, hanya duduk menonton mereka beribadah kepada tuhan-tuhan mereka. Astaghfirullah!

            Kami terkadang mendapat hadiah-hadiah yang menarik dari gereja, seperti dompet yang bagus, kartu-kartu Natal yang indah, dan sebagainya. Waktu itu aku masih polos, lugu, dan belum tahu bahwa itu penggiringan perlahan-lahan agar kami lama-kelamaan ikut agama mereka.
Hanya saja, aku senang-senang saja mendapat hadiah-hadiah, namun untuk tergoda ikut agama Kristen, ternyata tidak. Mungkin itulah penjagaan-Nya. Entahlah.
            Akhirnya semua itu hanya soal waktu saja akan meledak dari sanubariku, suatu saat aku beranikan menyampaikan uneg-unegku "Ibu, ajari aku bacaan sholat..." aku memohon dengan sangat kepada Ibu.
          Ibuku terkesima, menatapku.

***
Cerita atau kisah ini adalah salah satu episode atau cuplikan dari kisah hidup seseorang dengan nama samaran Ngadiman. Nantikan kisah lengkapnya dalam sebuah buku Novel Nonfiksi.

Belajar Cara Menulis Cerita Nyata

Posting Komentar untuk "Bab #06 Kondangan"

Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis
Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com