Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bab #04 Dislokasi

  Kini, inilah ceritaku ketika aku berumur sembilan tahun, baru saja naik kelas tiga Sekolah Dasar. Kisah tak peduli nasehat bapak-ibuku. Dalam diriku ada perasaan ingin keluar dari kungkungan Bapak dan Ibu. Terutama yang aku rasakan pengaruh ibuku.

Derai rintik hujan bagaikan mengucapkan selamat datang di kota Curup kepada aku, Bapak dan Ibu yang sedang melaju di atas mobil Jeep Mambo tipe chasis panjang beratap kanvas. Bapak memegang kemudi di sebelah kanan, Ibu duduk di kiri, sedang aku di tengah. Tempat duduk mobil bagian depan memang tersambung, sehingga kami bertiga bisa duduk di depan semua, apalagi badanku yang kurus, sangat mudah diselipkan diantara Bapak dan Ibu. 

Hawa dingin menyelubungi kota. Kota Curup memang kota yang terletak di pinggang pegunungan Bukit Barisan. Mobil yang kami naiki melaju lebih lambat dari sebelumnya. Barisan rumah-rumah sekaligus toko-toko yang rapat berjajar di kanan-kiri jalan. Ada saluran air berupa kali kecil di salah satu sisi jalan. Air jernih dari pegunungan senantiasa mengalir pada saluran tersebut. Jalan yang kami lewati sepi, hanya satu dua kendaraan saja yang lewat. Hujan gerimis membuat penghuni kota berpikir ulang untuk keluar rumah. Jika tidak penting-penting banget, lebih baik meringkuk dalam gulungan selimut ditemani hangatnya kepul asap kopi khas Curup. 

Aku tahu, hal itu menandakan kami telah mendekati rumah yang akan kami tuju. Karena telah berulang kali, kami menuju tempat itu.


Jika suasananya lain, maka atmosfir kota Curup yang sejuk dan sedang dibasuh rintik hujan berderai-derai membuat kita akan selalu baper dalam suasana syahdu. Namun, sungguh sekarang aku dalam suasana pada waktu dan tempat yang tidak tepat sama sekali. Aku sedang rusuh, tegang akan menghadapi sesuatu yang pada hari-hari belakangan ini aku sangat takuti. 


Malam itu bagaikan siang. Lampu sorot dari berbagai penjuru menyinari kesibukan. Ada yang bergegas menaiki raksasa besi terapung itu, membawa barang-barang bawaan, koper, buntalan, kardus-kardus terikat tali rafia, oleh-oleh, atau apa saja yang mampu dibawa, dibawa. Kuli-kuli sibuk memanggul, membantu, membawa barang-barang yang dirasa berat bagi penumpang. Adapula yang masih sibuk menawarkan sekedar jasa yang mengandalkan otot itu. Bahkan, ada yang langsung merebut barang-barang yang dibawa. Bukan ingin memiliki atau menjambret, tapi membantu. Membantu, kok maksa. Ya, terpaksa memaksa demi sekepal nasi untuk anak dan isteri yang menunggu cemas di rumah.

Bau amis air asin bercampur bau karat besi badan kapal meruap dari permukaan laut yang beriak-riak tiada henti. Sesekali terdengar suara nyilu berderit-derit dinding besi kapal bergesekan dengan bantalan karet tubir dermaga.

Semua itu tampak olehku dari atas geladak kapal. Aku berdiri gelisah di samping bapakku, yang juga sedang mengamati keramaian di permukaan dermaga pelabuhan Merak, di bawah sana. Ah, hanya begini pemandangannnya. Biaso ajo, kata orang Bengkulu.

Tiba-tiba Bapak menunjuk ke arah bawah seraya memekik lirih, "Lihat!"

Aku pun mengarahkan bola mataku ke arah yang ditunjuk Bapak. Ada apa?

Tampak sebuah mobil "Jeep Mambo" berwarna hijau telur asin sedang merayap perlahan menuju suatu jaring raksasa yang terjuntai dari atas ke bawah. Jaring itu teranyam dari tali sebesar lengan tangan manusia yang sangat kuat, dihamparkan begitu saja di atas permukaan dermaga, dan bagian atas jaring terikat dengan tali yang kuat pula terhubung dengan suatu alat katrol.

Hei, itu ternyata mobil keluargaku. Pantas Bapak menunjuk-nunjuk. Mobil Jeep itulah yang dipakai keluargaku melakukan perjalanan mudik di masa liburan Lebaran tahun ini. Keluargaku pulang kampung dari Bengkulu menuju Surabaya, kampung halaman mbahku tinggal. Sungguh perjalanan sangat panjang bagiku. Sekarang, aku dan keluargaku telah kembali lagi dari mudik menuju Bengkulu, kota tempat Bapak berdinas.

Pemandangan dari atas yang belum pernah terlihat olehku itu tetap tak terlalu menarik bagiku. Aku selalu ingat ruangan kabin kapal. Tepatnya, tempat tidur susun yang ada di dalam kabin tersebut.

Mobil itu bergerak perlahan memasuki jaring. Setelah seluruh badan mobil di dalam jaring, sekonyong-konyong jaring raksasa yang meliputi dan membungkus mobil itu terangkat ke atas. Katrol yang terhubung pada jaring itulah yang menggerakkannya. Jaring dan katrol raksasa itu bagaikan tangan raksasa yang dengan mudah mengangkat mobil keluargaku. Mobil dengan mudah berpindah dari permukaan dermaga menuju permukaan atas kapal, khusus area tempat mobil-mobil akan diangkut. Pada masa itu - tahun 1973 - belum ada kapal jenis "feri" untuk angkutan penyebrangan dari tanah Jawa ke daratan Sumatra. Kapal yang digunakan adalah kapal jenis penumpang biasa, sehingga barang-barang besar dan berat termasuk mobil-mobil diangkut dengan memindahkannya ke atau dari kapal dengan alat katrol.

"Pak, ayo balik ke kamar ...," aku menggoyangkan tangan Bapak. Aku resah ingin segera kembali ke kabin. Jangan-jangan tempat tidur yang di atas ditempati kakak-kakakku.

Bapak menatapku heran.  Mimik wajahnya bertanya. Mengapa musti cepat-cepat? 

Aku tahu maksud tatapan Bapak. Bukankah menonton kesibukan dermaga dari atas geladak kapal adalah suatu pemandangan yang jarang dilihat di daratan sana? Lagi pula kapal belum juga berangkat. Masih lama. Masih banyak mobil yang harus diangkut. Mau apa di dalam kabin yang sumpek? Namun, aku tahu Bapak pasti sudah tahu, mengapa aku ingin bergegas kembali ke kabin.

"Ayooo ...!" aku kembali merengek. Wajahku memelas. Tangan Bapak semakin aku tarik-tarik.

Bapak hanya menatapku, sudah menebak apa keinginanku, sambil menggeleng-geleng kepalanya.

Beberapa jam yang lalu, ketika bola matahari mulai membenamkan dirinya di balik horizon perbukitan sekitar pelabuhan di ujung barat pulau Jawa itu, dan riak-riak air laut keemasan akibat pantulan cahayanya, keluargaku telah sampai di pelabuhan itu. Setelah membeli tiket dan mengurus administrasi pengangkutan mobil, dan menyerahkan mobil ke bagian pemindahan mobil ke kapal, keluargaku serta merta menuju kapal, menaiki tangga ke pintu masuk utama penumpang-penumpang. Bapak membeli tiket untuk kabin satu ruangan cukup untuk satu keluarga.

Setelah, melewati lorong-lorong di antara kabin-kabin, sampailah di kabin yang kami pesan. Pintu masuknya tidak seperti pintu masuk kamar rumah tinggal, tetapi pintu berbentuk empat persegi panjang dengan sudut-sudut berbentuk oval. 

Begitu masuk ke kabin, terlihatlah kamar dengan ruangan yang tak terlalu luas. Ada tiga tempat tidur bersusun. Pada salah satu sisi ruangan, tampak sebuah jendela kecil berbentuk segi empat oval juga, mirip bentuk pintu masuk, namun lebih kecil. Ruangan dilengkapi dengan washtafel dan cermin, meja kecil. Yang spesial dari kabin itu adalah dindingnya terbuat dari besi bercatkan warna krem. Aku mengkhayal bagaikan kami di dalam mesin perang. Ya, tentu saja karena ini kamar di dalam kapal, bukan di suatu rumah layaknya di rumah kami yang berdinding tembok batu bata.

Akupun melihat tiga tempat tidur susun berbaris, sontak aku berbinar wajahku, dan langsung naik ke tempat tidur yang susun atas. Aku duduk di atasnya, dan melenting-lentingkan tubuhku ke atas sehingga badanku membal-membal di atas kasur. Lalu, aku mencoba tidur di atasnya. Nyaman. Dan, mampu melihat ke bawah, seakan-akan menguasai, mengawasi, memonitor seluruh keadaan kabin sampai ke sudut-sudutnya.

"Pak, aku tidur disini ya ...," sembari menoleh ke Bapak, aku sendiri bingung itu perkataan minta idzin atau pernyataan. Sepertinya berat ke arah pernyataan, karena aku ingin sekali tidur di atas.

"Kamu nanti jatuh Diman ...," Ibu yang menjawab pertanyaanku, mendongak ke atas, "ayo turun, turun ...," Ibu cemas, melambai-lambaikan tangannya ke arah bawah.

Bapak sejenak terdiam, sambil melihat aku. Bapak mengamati tempat tidur susun itu. Tempat tidur itu terbuat dari besi, memang kuat, akan tetapi jika diperhatikan kembali, tempat tidur bagian atas bagaikan tebing jurang tanpa pengaman pagar. Blong-blongan. Ketinggian tempat tidur lumayan menjulang sekitar dua meter, cukup membuat tubuh berdebam jika jatuh meluncur ke permukaan lantai kabin.

Bapak menggeleng-gelengkan kepalanya separuh hati sepakat dengan ibu, "Nanti kamu jatuh Man." Mungkin Bapak pernah merasakan bagaimana menjadi anak laki-laki.

"Kok, kalau di rumah Mbah boleh?" aku berkilah. 

"Nggak ada yang jatuh disana," tambah aku membeberkan fakta, menguatkan alasan.

"Tempat tidur susun di rumah Mbah yang atas ada pagarnya, ini kamu lihat sendiri khan tanpa pagar," Bapak berusaha menjelaskan, dan raut wajahnya mulai khawatir.

Aku bergeming. Iya ya, kok ini tidak ada pagarnya. Masa' yang bikin kapal tidak berpikir sejauh itu. Ah, kok jadi repot memikirkannya, bukan urusanku. Yang penting aku bisa tidur di atas malam ini. Hei, bermalam? Betul, perjalanan mengarungi selat Sunda pada waktu itu sangat panjang dan lama. Semalam suntuk. Perjalanan dari pelabuhan Merak akan menuju pelabuhan Tanjung Karang. Belum ada pelabuhan Bangkaheuni, seperti sekarang yang mampu memangkas jarak tempuh kapal sangat banyak.

"Pokoknya aku mau tidur di atas," aku "kekeh" pada keinginanku. Sesekali aku memanjakan keinginanku, aku rasa tak mengapa. Masa' hidup ini harus selalu menuruti perkataan Bapak dan Ibu. Selama ini aku selalu terpenjara dengan aturan-aturan ketat bahkan menurutku keras. Apa-apa tidak boleh. Semua kegiatan dijadwal dalam suatu daftar kegiatan harian yang ditempel di dinding kamarku oleh Ibu. Ada jam tidur siang, jam makan, jam belajar, jam bermain itupun tidak boleh keluar halaman rumah, jam tidur malam dan lain-lain kegiatan yang di atur menit demi menit. Melanggar sedikit, maka sapu lidi, gayung kamar mandi dan cubitan pada paha yang berbicara. Ya, nasib.

"Jangan ... Ngadimaan", Ibu berusaha mencegah. Ada denting kecemasan di matanya. Lengkap sudah ibu menyebut namaku, menunjukkan kesungguhannya melarangku.

Bapak mencoba mengalihkan perbantahan, "Kita keluar yuk Diman, ke atas geladak kapal, lihat-lihat pemandangan."

O iya, pasti bagus pemandangan dari atas geladak kapal. Aku agak mengendur dan sedikit lupa akan keinginannya tidur di tempat tidur atas. Tapi, kalau aku keluar, boleh jadi tempat tidur atas direbut kakak-kakakku dan ibu.

"Ayoooo...!" sergah Bapak dan serta merta melangkah menuju pintu keluar kabin diujung kalimatnya.

"Tunggu pak ...," tanpa disuruh kedua kalinya aku bersegera turun dari tempat tidur atas.

Kali ini aku benar-benar cemas jika tempat tidur atas telah ditiduri kakak-kakakku Mbak Tinuk dan Mbak Endi, juga Ibuku. Tetapi, untuk kembali ke kabin sendirian aku tak punya keberanian. Terbayang olehku lorong-lorong di antara kabin-kabin kapal yang begitu panjang dan berliku-liku, banyak persimpangan pula. Aku pasti tersesat jika kembali sendirian. Akhirnya aku tarik-tarik tangan Bapak untuk bersama kembali ke kabin.

Bapak masih bertahan, masih melihat-lihat kesibukan dermaga.

Akupun menarik tangan Bapak kembali sekuat tenaga. Masa', aku harus selalu menuruti kemauan bapak-ibu ku. Aku ingat kembali, aku sering dicubit, dibentak, dipukul, jika melakukan kesalahan kecil saja. 

Bapak akhirnya mengalah, baiklah. Kami akhirnya kembali ke kabin.

Sesampai di depan pintu kabin, aku buka pintu kabin, aku lihat ke tempat tidur. Ternyata tempat tidur atas belum ada penghuninya. Ibu dan dua kakakku tidur di bawah semua. Aku segera naik ke atas. Hanya soal waktu, akhirnya aku terlelap nyaman bagaikan tidur di awan-awan.

Besok lusa, ketika aku telah besar dan dewasa, aku baru menyadari betapa bahayanya aku tidur di tempat tidur susun tanpa pengaman pagar. Dan, aku membayangkan dengan imajinasiku kejadian tersebut detik demi detik, menit demi menit.

Aku bayangkan pada waktu itu telah tidur dengan nyenyaknya. Perjalanan berkendaraan Jeep, dari sepanjang daratan pulau Jawa dari timur yaitu kota Surabaya tempat tinggal mbahku sampai di ujung baratnya telah menghisap seluruh tenagaku.

Aku tidur gelisah, karena sangat letihnya di atas kasur kapuk tempat tidur atas. Berguling ke kiri dan ke kanan. Aku membayangkan, tak mungkin aku berguling-guling dengan cepat dalam satu gerakan ke satu arah, karena aku memang tidur dalam keadaan gelisah jika lelah sekali.

Aku berguling mengarah ke tubir tempat tidur, terhenti dalam posisi tengkurap. Lebar tempat tidur hanya selebar pintu rumah. Tersisa dari tepi tempat tidur sangat sempit sekali.

Aku tak tahu bapakku sudah tidur apa belum. Yang aku tahu waktu itu Bapak cemas, tetapi tak mampu melarangku, karena Bapak tahu aku anak laki-laki yang mustinya sifat pemberani dan beresiko dibiarkan tumbuh.  Dan, aku berharap Bapak mengawasiku. Tapi bagaimanalah akan mengawasi, Bapak tentu lebih capek, karena Bapaklah yang mengemudikan mobil sepanjang perjalanan.

Aku berguling kembali menuju tubit tempat tidur, aku terlentang. Nyaris menggantung di tepi tebing tempat tidur.

Tangan kananku telah tergantung di tepi tempat tidur. Terhenti beberapa detik.

Berat badanku tak bisa bertahan dari kasur tanpa penghalang pagar itu. Akhirnya badanku melorot perlahan-lahan tanpa ada yang tahu dan tanpa ada yang menahan. Ya, semua telah nyenyak. Dan pada titik tertentu akhirnya berat badanku telah terkalahkan gravitasi bumi yang begitu kuat menghisap ke bawah.

Tubuhku meluncur bebas tanpa hambatan, dalam posisi miring ke kanan. Terhempas.

Pause.

Jika aku tahu seperti sekarang sedang menulis kisah ini, mungkin aku berusaha berguling ke arah berlawanan, tidak ke arah tubir tempat tidur tapi ke arah dinding dimana tempat tidur diletakkan menempel dinding besi kapal. Akan tetapi apalah mau dikata, tinta pena takdir telah tertulis dan mendahului segalanya.

Aku jatuh berdebam.

Sikut tangan kananku dengan tulang yang masih muda, yang pertamakali mendarat di kerasnya lantai besi kapal. Aku membayangkan, jika waktu itu aku sadar pasti mendengar suara keras derak tulang hasta dan tulang lenganku karena terpisah, dan terlepas dari sendinya.

Inilah imajinasiku, tangan kananku yang mengalami dislokasi, sehingga secara masuk di akal, bahwa aku jatuh ke arah kanan dengan sikut tangan kanan menghunjam lebih dahulu. Karena jika bagian tubuhku lain yang mendarat dahulu, tentu itu menjadi bantalan bagi tubuh yang lain pula termasuk tangan kananku. Ini tidak, tangan kanankulah yang porak poranda lebih dahulu, sedang bagian tubuh lainnya selamat dan mendarat dengan mulus.

Setelah peristiwa jatuh, aku tidak mampu mengimajinasikan entah itu suasana keributan, kepanikan, dan keterkejutan bapak-ibu dan kakak-kakakku. 

Mataku mengerjap-ngerjap berusaha siuman dari tidurku. Lamat-lamat aku mendengar suara-suara, suara Ibu dan suara Bapak. Suara-suara kepanikan. Bisik-bisik nama Allah. Ada apa? 

Lambat laun syaraf-syaraf tubuhku mulai menyala, menyalurkan rasa ke pikiranku. Mengapa badanku terasa sakit semua?

Aku ingin bangkit. Uh, mengapa tangan kananku terasa berat. Bapak mencegahku, "Tidur saja ... jangan banyak gerak," Bapak menahan tubuhku yang ingin bangun, menekan dadaku dengan lembut.

Hei, ada suatu payung yang terikat pada tangan kananku. Pantas berat. Lho, kok? Kenapa? Aku coba gerakkan tangan kananku. Uh, nyeri sekali. Aku bermimpi? Oh, ternyata tidak.

"Tanganmu patah," sebagai jawaban dari Bapak.

Kesadaranku semakin pulih. Aku telah berbaring di tempat tidur bawah. Bukankah aku tadi malam tidur di atas? Tangan patah? Kesadaranku semakin menyergap pikiranku. Aku mulai mampu menghubung-hubungkan kejadian-kejadian. Tidur di atas - payung terikat di tangan - tangan patah, oh mungkin aku jatuh ketika tidur. Kok, tidak terasa. Bangun-bangun telah terbaring dengan tangan kanan terikat payung. Lalu apa gunanya payung ini? Aku mengamati payung itu. Tangan kananku tak dapat dibengkokkan karena payung itu terikat tepat pada daerah sendi sikutku.

"Payung itu agar tulang tanganmu tetap pada posisinya. Tulang bagian atas dan bawah lepas," Bapak memberi jawaban berikutnya atas wajahku penuh tanda-tanda tanya berikutnya.

Tulang tangan kananku lepas? Aduh bagaimana ini? Aku mulai panik. Bagaimana aku nanti sekolah? Bisakah aku menulis? Sebentar lagi masuk sekolah ... Liburan sebentar lagi usai. Aku paling takut jika tidak bisa sekolah. Ibuku mendidik secara disiplin dan keras agar aku selalu belajar dengan tekun, sehingga nilai-nilai pelajaranku tak pernah di bawah sembilan, lebih sering angka sepuluh. Senantiasa juara di kelas mengalahkan teman-temanku sekelas. Aku sangat malu dan merasa bersalah jika salah satu saja nilai ulangan pelajaranku di bawah angka sembilan.

Tanpa mampu aku kendalikan, tiba-tiba kedua bola mataku terasa hangat, dan semakin hangat dan akhirnya panas, membuat meleleh bulir-bulir air di dalamnya. Mataku lambat laun dibanjiri bulir-bulir itu yang semakin membanjir. Dan, akhirnya tumpah, terjun bagai air terjun di pipiku. Perasaanku teraduk-aduk antara nyeri di tangan kananku dan pedih di dalam sanubariku. Aku seperti pesakitan tertuduh atas kecerobohan dan penentanganku terhadap larangan Bapak dan Ibu tadi malam. Apalah mau dikata, akibat ini harus aku terima.

Bapak menatapku. Menyeka air mataku. Mengeluarkan kalimat-kalimat yang menenangkan. Ibu dan kedua kakakku mengelilingiku. Ikut merasakan kesedihanku.

"Pooong!" suara terompet kapal terdengar tanda kapal akan merapat di pelabuhan Tanjung Karang. Matahari baru saja keluar dari persembunyiannya.  Kami telah sampai di ujung selatan pulau Sumatra.

Kami sekeluarga akan melanjutkan perjalanan yang masih jauh. Tanjung Karang - Bengkulu. Entah apa yang harus dilakukan dengan tanganku ini. Yang jelas, kami harus segera turun dari raksasa besi terapung ini.

Kami keluar dari kabin, berjalan di lorong-lorong kapal, lalu keluar turun melalui tangga kapal. Kami mendapati  di luar hujan merintik. Derai hujan gerimis jatuh bersama air mataku, seolah ikut merasakan apa yang aku rasakan.

Bapak berjalan di atas dermaga pelabuhan di bawah rinai gerimis hujan, membopong aku. 


“Kita telah sampai.” Bapak baru saja mematikan mesin mobil, sembari memalingkan wajahnya kepadaku.

Aku terhenyak dari lamunan bekuku. Tersadar telah tiba di depan rumah sinshe itu.

Patah-patah aku turun dari mobil. 

Ibu turun lebih dahulu, karena ia duduk di sisi pinggir dekat pintu mobil. Tangan kanan Ibu memegang lengan kiriku dan tangan kirinya mengenggam telapak tangan kiriku setengah menarikku secara halus agar segera turun dari mobil. Menenangkanku, semua baik-baik saja. 

Lalu, aku berjalan seolah melawan sesuatu, ada dorongan dari arah depanku, sambil tangan kiriku tetap di pegang Ibu setengah ditarik dengan lembut. Aku membujuk kaki-kakiku agar terus mau berjalan ke pintu masuk rumah yang kami datangi.

Akhirnya aku telah sampai di bawah bingkai pintu rumah itu. Aku berhenti sejenak, di hadapanku sebuah ruang tamu yang cukup besar dengan beberapa kursi tamu.

“Masuk, masuk ... silahkan masuk,” seorang bertubuh besar tak terlalu tinggi, berkulit kuning cerah, bermata sipit dengan tangan menyambut, “duduk, duduk ...”

Ya, aku tahu dia, karena beberapa hari terakhir ini memang kami sering berjumpa. Dialah sosok yang orang-orang menjuluki dengan gelar “Encek Lampung”. Gelar itu sangat terkenal di seantero propinsi Bengkulu. Gelar yang tersemat dikarenakan ia seorang ahli pengobatan patah tulang. Entah siapa sebetulnya nama dia sebenarnya, aku tak sempat bertanya pada Bapak karena sosok itu begitu menakutkan bagiku.

Setelah bincang-bincang layaknya obrolan menyambut tamu, Encek Lampung mulai membuka balutan perban pada siku tangan kananku yang terlihat menggelembung bengkak. Ia memijat-mijat dan mengurut-urut tangan kananku, sambil mengajak berdialog agar aku tidak terlalu perhatian pada tangan kananku. Aku tak bisa mengerti lagi kalimat-kalimat Encek Lampung yang menerobos lubang telingaku. Kalaupun itu pertanyaan untuk mengalihkan perhatianku, entah bertanya apa. Aku tak bisa menjawab. Aku tak mampu konsentrasi. Nyeri menjalar pada tangan kananku.  

Bapak duduk disampingku sambil memegangi aku, memelukku, agar aku tidak lari.

Mataku terasa hangat. Butiran-butiran air mulai merembes antara bola mata dan kelopaknya membuat penglihatanku agak terhalang. Blur. Air itu semakin banyak, dan akhirnya meluap tak tertahankan terjun menelusuri pipiku dan jatuh menghempas di lantai ruang tamu. Air itu membanjir sebelum waktunya. Ketakutanku telah jauh mendahului rasa sakit yang aku tahu itu akan aku rasakan, beberapa detik ke depan.

Encek Lampung tersenyum, seolah ia telah terbiasa memberi senyuman pada orang-orang yang dia obati. Ritual prosesi pemijatan yang telah berulang kali ia lakukan. Ia memang harus murah senyum, mau tidak mau.

Aku tahu sebentar lagi ia akan membetulkan tulang tangan kananku yang belum benar pada posisinya dengan cara yang aku bisa katakan dengan cara paksa. Tetapi bagaimanalah tidak dipaksa, tulang itu harus kembali pada posisi yang sebenarnya jika ingin normal kembali seperti layaknya tangan normal manusia.

Sontak nyeri sakit pada persendian tangan kananku menghentak seakan sembilu menusuk dan mengiris tulang-tulang tangan kananku.

Aku menjerit. Jeritanku bagaikan pekikan yang menggaung dari negeri antah berantah dalam perut bumi yang sangat dalam.

Orang keturunan Tionghoa itu telah melaksanakan tugasnya.

***


Belajar Cara Menulis Cerita Nyata
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

Posting Komentar untuk "Bab #04 Dislokasi"

Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis
Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com