Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bab #08 Terpukau

            Ketika aku kelas tiga SMP, aku punya seorang teman, kawan-kawan memanggilnya Hendrik. Dia lelaki berpostur tubuh tinggi semampai. Jika aku mengobrol dengannya, kepalaku musti agak mendongak. Tubuhnya bak peserta lomba atletik di suatu pekan olahraga tingkat nasional. Itu membuat kesan dirinya seorang yang aktif, energik, dan penuh vitalitas. Dia kelas tiga SMP Sekolah Kristen juga, akan tetapi karena tongkrongannya di atas rata-rata murid SMP, maka jika Hendrik memakai celana panjang ia seperti anak SMA, gak ada SMP-SMPnya sama sekali!

          Rambutnya lurus, tidak berombak sama sekali, tidak kaku tetapi rambutnya lemas. Jika ia berpaling, maka rambut itu bergoyang-goyang. Rambut yang seperti itu membuat semakin menarik wajahnya dan memang sejatinya ia mempunyai paras muka yang tampan. Raut mukanya yang begitu menarik itu semakin seakan magnet yang kuat, karena dia memang mudah tersenyum, tertawa, cerah, ceria dan sumringah.

           Dalam hatiku berguman, tentu teman-teman perempuan yang sebaya dengannya sering melirik sembunyi-sembunyi dan menjadi bahan rumpian yang hangat, bahkan panas. O iya, menurutku teman-teman perempuannya semakin tergila-gila dengan dia karena dia sering memakai sepeda motor tril kemana-mana. Oi, betapa "ngengkeng" nya dia. "Ngengkeng" itu bahasa Bengkulu yang artinya "keren dan gagah". 

Akan tetapi ternyata aku keliru! Mengapa? Kita ikuti saja bab ini, nanti kita akan tahu sendiri.

           Mengapa aku mengetahui sampai sedetail itu? Tentu saja aku tahu, karena temanku itu tinggal satu komplek perumahan denganku, di komplek perumahan Nusa Indah, 3,5 kilometer dari pusat kota Bengkulu. Sehingga, aku sering berjumpa dengannya. Tidak sampai disitu, aku sering bermain dengannya, bermain apa saja. 

          Seringnya kami bermain skateboard, dan sepatu roda bersama-sama dengan teman-teman yang lain di jalan raya. Di jalan raya? Ya, memang jaman itu skateboard adalah masih merupakan barang langka, sehingga tidak ada tempat area bermain mainan itu seperti halnya jaman sekarang. Lebih dari itu,  aku bahkan pernah bermain skateboard di lapangan terbang Padang Kemiling!

           Beberapa waktu yang lalu, bapak-ibuku pulang dari berpergian ke negeri tetangga. Mereka membawa oleh-oleh yang banyak sekali. Ada tas sekolah, sepatu merek ternama, buku-buku, alat-alat tulis, dan lain-lain. Wow banyak sekali. Aku senang sekali.

          Dan, yang paling membuat aku berbinar adalah buah tangan berupa skateboard dan jaket ber "hoodie" terbuat dari bahan parasit. Hoodie pada dasarnya sweater dengan topi. Kebanyakan didisain dengan saku di depan dan tali untuk menyesuaikan topinya. Hoodie bisa dibuka di depan dengan kancing atau reseleting. Jaket hoodieku lain dari pada yang lain, karena biasanya berbahan kaos sweater, ini berbahan parasut. Itu lho, bahan yang dipakai untuk payungnya terjun payung. Keren bukan? Dan, tentu skateboard dan jaket hoodie parasut itu yang paling aku sayangi dan banggakan. Apalagi jaket hoodie parasut itu bercorak warna persis seperti bendera salah satu negara super power waktu itu, lengkap dengan belang-belang merah, putih, biru dan corak bintang-bintang pada salah satu sudutnya. Esok lusa setelah aku dewasa nanti, baru aku tahu kalau kebanggaan terhadap negara super power itu adalah suatu kehinaan.

            Skateboard dan jaket hoodie parasut seperti itu adalah barang langka di kotaku ini.

          "Woi! Ngengkeng nian Diman pakai jaketnya yang baru," teriak salah satu temanku satu klub sepatu roda, si Kris di suatu momen latihan bersama. 

          Klub sepatu roda? Betul, aku dan teman-temanku SMP Kristen membentuk suatu kumpulan kegiatan untuk bermain latihan sepatu roda bersama-sama. Kami berlatih setiap Sabtu sore dan Minggu pagi di jalan raya pinggir alun-alun kota. Terkadang di lapangan tenis dan basket yang terletak di alun-alun juga. Nama klubnya "Joyce Circle", guru bahasa Inggris kami yang memberi nama. Artinya "Lingkaran Kegembiraan". Kami juga punya seragam kaos lengan panjang bertuliskan nama klub tersebut. Kaos itu yang melindungi kulit kami ketika terjatuh menghantam kerasnya aspal jalan sewaktu latihan.

          Pada suatu hari Minggu. Mentari baru saja keluar dari persembunyiannya. Embunpun masih bertengger di pucuk-pucuk daun. Sinar matahari panasnya belum mampu menguapkan embun-embun tersebut. Kami klub Joyce Circle telah bergerak ke alun-alun kota. Puluhan pasukan bersepatu roda berkumpul di jalan raya tepi alun-alun. Sejatinya anggota klub hanya belasan anak-anak SMP Kristen, namun dari belasan tersebut mengajak adik-adik, saudara-saudara mereka. Ada yang masih seusia SD, ada pula yang seusia SMA. Maka, jadilah anggota klub beranak-pinak menjadi puluhan. Kota Bengkulu kala itu sangat jarang kendaraan yang hilir mudik, sehingga kami leluasa bermain sepatu roda dan skateboard di jalan raya.

           "Aih, keren sekali jaketnya," Hendrik juga berkomentar kagum, ketika melihatku.

           "Bolehlah ambo cubo jaket kau?" bujuk Hendrik sambil tersenyum ramah.

           Aku lepas jaket kesayanganku, serta merta aku berikan kepadanya. Aku juga ingin lihat, bagaimana jika Hendrik ini memakai jaketku. Orangnya sudah keren, pakai jaket cogah pula.

           "Wau, ngengkeng nian kau Drik." seruku terpesona.

           Tak berapa lama, Hendrikpun ikut bermain latihan sepatu roda dengan menggunakan jaketku. Semua temanku satu klub melihatnya takjub.

          Ketika matahari semakin matang dan hampir tegak lurus di atas kepala-kepala kami, maka semua anggota klub bersiap untuk menyelesaikan latihannya dan pulang.

          "Diman, ambo pinjam jaket kau ini ya?" Hendrik rupanya masih ingin memakainya. 

          Aku tahu, dia akan pulang menaiki sepeda motor tril nya. Tentu gagah nian jika dia memakai jaket itu sembari mengendarai sepeda motornya. Aku juga senang jika melihat Hendrik seperti itu. 

          Mengapa tidak aku saja? Mana aku punya sepeda motor? Apalagi tril. Bapakku tak pernah ingin membelikan aku sepeda motor, maka aku beli pakai tabunganku sendiri : sepeda balap.

          Jadi, biarlah untuk beberapa waktu jaketku dipinjam Hendrik. Aku ikut bahagia, jika temanku senang.

          Beberapa hari kemudian, aku bertemu dengan Hendrik di komplek perumahan kami. Kami berjumpa di jalan depan rumahnya.

          "Hei, Diman ... jaket kau masih ambo pinjam ya..." Hendrik menyapa cerah kepadaku.

         "O iyo, tak apolah, pakailah dulu." jawabku menenangkan sambil tersenyum.

            "Ado sesuatu lagi endak ambo katakan ...eeeng..." Hendrik ingin menyampaikan sesuatu lagi, tapi ragu-ragu. Tepatnya, raut wajahnya menunjukkan keengganan.

          "Apo dio Drik, kecek lah, tak usah tak enak ...lha kito khan berteman." aku mendorong dia untuk segera sampaikan apa yang mau dikatakan.

          "Ambo ko butuh uang, ado keperluan mendesak, kalo bulih ambo ndak pinjam uang samo kau ..." akhirnya Hendrik sampaikan juga hajatnya kepadaku.

          Hah! Pinjam uang? Aku selama ini tidak pernah uangku dipinjam oleh teman-teman. Tapi, baru sekarang ada teman mau pinjam uang. Seperti orang dewasa saja pinjam uang untuk nafkah. Kami masih usia remaja waktu itu jika dikatakan tidak pernah, ya jaranglah pinjam-pinjam uang. Uangku juga paling seberapa? Paling untuk jajan saja.

          Aku lihat mimik wajah Hendrik, terlihat raut yang memohon. Sepertinya dia butuh sekali. Untuk apa ya? Masa orang tuanya tidak memberi uang. Tapi karena kesantunan Hendrik dalam menyampaikan, maka aku tepis pertanyaan-pertanyaan dalam benakku itu. Aku kasihan.

           "Kau butuh berapo, Drik?" 

           Lalu, Hendrik menyebutkan nilai yang cukup besar. Uang sebanyak itu, melebihi uang jajanku. Tapi, sebentar aku ingat sesuatu. Aku sering menabung uangku, jika Bapak memberiku ketika Bapak akan dinas keluar kota. Baiklah, akan aku ambil dulu ke rumah.

           "Aku ambik dulu ke rumah ya ..." tanpa pikir panjang akupun pulang.

          Hendrik mengangguk lega, dan tersenyum. Tak berapa lama aku sudah kembali dengan uang-uang itu.

          Selang waktu beberapa lama, bahkan telah lama sekali, aku mulai merasa aneh dengan Hendrik ini. Setiap ada kemungkinan bertemu, berpapasan, dia selalu menghindariku. Ada apa? Aku mulai berpikir yang tidak-tidak. Dan lagi, aku baru ingat,  jaket hoodie parasutku belum dikembalikan kepadaku. Aku sampai lupa, berarti memang sudah lama sekali. Belum lagi, hutang yang cukup mengeruk tandas tabungankupun belum dibayar olehnya.

            Apa karena itu semua? Ya pasti, karena itu. Terakhir terjadi perbincangan dengan Hendrik, ya soal itu. Lalu bagaimana ya? Bagaimanalah aku mau menagih jaketku dan uangku, kalau akan terjadi berpapasan saja ia menghindar. Padahal itu jaket kesayanganku, yang mungkin - untuk saat itu - belum ada yang jual di negeri Indonesia. Tapi, bukankah pertemanan itu lebih utama? Jadi bagaimana ini? Kenapa aku jadi pusing sendiri? Ah, sudahlah biarlah pikirku. Apalah artinya barang-barang mati itu? Barang hidup lebih berarti. Melihat teman senang itu lebih membahagiakan. Mungkin Hendrik masih suka pakai jaketku. Aku dengar dari kawan-kawanku, Hendrik sering masih memakai jaketku ketika ia menaiki motor trilnya. Ya sudah. 

          Lalu uangku bagaimana? Haruskah aku tagih? Tapi bertemu saja sulit, bagaimana menagih? Mungkin Hendrik belum ada uang untuk membayar, kasihan juga. Tapi, motor tril saja punya, masa bayar hutang yang nilainya tidak sebesar harga motor tril tidak bisa? Aku jadi berpikir kembali, dan bolak-balik pertanyaan-pertanyaan bertalu-talu di kepalaku. Duh, pening aku.

           Daripada aku puyeng, sudahlah aku lupakan jaketku, uangku berikut yang pinjam. Aku lupakan Hendrik saja. Lagi pula dia tak mau bertemu denganku. Jadi? Anggap saja ia tidak ada. Selesai. Plong. Tamat.

           Sabtu sore. Jadwal klub Joyce Circle latihan seperti biasanya. Setiap Sabtu sore kami tidak latihan di jalan raya pinggir alun-alun, karena kalau sore berseliweran mobil, sepeda motor, delman, dan kendaraan-kendaraan lainnya. Tidak seperti Minggu pagi, jalan raya sekitar alun-alun lengang. Esok lusa akan ada istilah CFD yaitu Car Free Day, setiap kota di Indonesia pada hari Minggu pagi daerah sekitar alun-alun dibebaskan dari kendaraan bermotor karena untuk kegiatan berolah raga. Mungkin, kamilah cikal bakalnya.

          Maka, kami latihan di halaman gudang kantor bapaknya Kris. Halaman itu luas. Sebagian permukaan halamannya di plaster, cukup luas untuk latihan kami.

          Di tengah-tengah latihan kami letih. Kami istirahat duduk-duduk, jongkok-jongkok di atas permukaan plaster di bawah rindangnya pepohonan yang tumbuh di pinggir plasteran.

          "Diman, ambo sudah lamo idak liyek jaket kau yang bagus itu, biaso kau pakai latihan..." Kris membuka pembicaraan di sela-sela istirahat kami.

           Aku terkesima dengan perkataan Kris. Aku diam saja. Aku ingat, bahwa aku akan melupakannya. Aku hanya tersenyum tipis sebagai responku.

           "Iyo, mano jaket kau Diman? Jaket bagus janganlah cuma disimpan rapi dalam lemari. Dipakai oi! Rezki itu berasa dinikmati kalau dipakai, bukan disimpan." Sarmito yang berbadan besar bertanya dan menimpali perkataan Kris.

           Teman-teman yang lainpun akhirnya perhatian mereka terpusat kepada aku. Mereka serempak menatapku. Menunggu jawaban.

            Aku tetap diam. Aku ingat janjiku pada diriku. Aku telah melupakan jaketku, uangku dan Hendrik.

           "Woi Diman, jangan diam ajo! Kalau sudah tak suka jaket itu kasihlah ke ambo ...he he." canda Nano, adiknya Kris.

           Akhirnya teman-teman yang lainpun mendesak-desak agar aku menjawab. Aduh, bagaimana ini?

           "Jaket itu sudah ambo hibahkan." jawabku singkat, hanya sekedar untuk menghindar desakan pertanyaan teman-teman.

            "Dikasih ke siapo!!?" Kris penasaran, mungkin dia berpikir mengapa tidak dikasih ke dia, siapapun pasti mau diberi jaket itu.

           Wah gawat, aku menjawab untuk menghindar malah makin runyam urusannya. Aku salah jawab rupanya. Bisa rame urusannya ini.

           "Iyo siapo!?" Sarmito malah melotot.

           "Hendrik," jawabku lirih dan datar. Setelah itu aku tertunduk. Aku tidak ingin teman-teman melihat perubahan parasku.

           Teman-teman melihat keanehan diriku. Tentu saja aneh, mengapa pula aku tertunduk.

           "Kau kenapo Man?" kali ini Nano yang bertanya. Tak berapa lama dia pegang dahiku, ia angkat kepalaku. Maka terlihatlah wajahku yang seakan ingin menangis. Semua temanku menatapku.

          "Iko pasti ado yang idak beres," tebak Sarmito. "Ambo ingek beberapo lamo yang lalu Hendrik dipinjami jaket oleh Diman," sambungnya.

          "Nah, ambo tahu ... Pasti belum dikembalikan samo Hendrik. Ambo liyek dio sering pakai jaket itu kalo naik motor trilnyo. Lagaknyo ngengkeng nian, padahal jaket pinjam. Lah idak tahu malu tu orang! Ambo tahu Hendrik orangnya cemmano, ya bgitulah!" Kris mengacung-acungkan telunjuknya mulai membuat suasana hangat.

         "Kurang ajar tu Hendrik, tampang bulih ganteng tapi hati busuk!" Sarmito memukul-mukul tinju kanannya pada telapak tangan kirinya. Panas sudah.

         Celaka, ini pasti bakal seru! Aku memang anak yang tidak suka keributan, mana lagi badanku kerempeng. Dan, teman-teman tahu itu. Sepertinya memang teman-teman telah memendam kebencian kepada Hendrik. Apa karena dia rupawan, sedang kami ini jelek-jelek wajahnya? Nah lho

           Esok lusa ketika dewasa baru aku tahu dari guruku, setiap manusia punya rasa dengki, dan itu tak bisa hilang dari hatinya. Yang bisa dilakukan adalah mengendalikan, memendam rasa iri tersebut agar tidak keluar, atau diarahkan kepada kebaikan. 

           Entah apa yang akan terjadi, setelah sore itu. Aku hanya melihat sisi baiknya saja. Teman-teman adalah teman-temanku yang baik. Mereka tidak rela aku dijatuhkan, dan dilecehkan. Padahal, aku sendiri sudah tidak memasalahkan.  Dan, firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu terkait kehormatan seorang teman.

           Bahkan, teman-temanku akhirnya tahu juga kalau Hendrik meminjam uangku cukup banyak. Hendrik sampai saat ini belum juga mengembalikan uang itu. Teman-temanku semakin gregetan dan gemas terhadap Hendrik.

          Sore yang redup. Matahari mulai memadamkan cahayanya sedikit demi sedikit. Kami melintas di daerah Anggut Atas, kota Bengkulu. Aku dan Sarmito akan menemui seseorang di komplek perumahan Tembok. Sarmito di depan mengemudikan sepeda motor bebeknya, aku dibonceng. Kami menyusuri jalan Anggut Atas menurun menuju arah jalan Anggut Bawah. 

          Tak berapa lama, sampailah kami di gerbang komplek perumahan Tembok yang jalannya agak menanjak. Komplek perumahan memang posisi letaknya bertengger lebih tinggi dari jalan utama Anggut Bawah.

            Setelah masuk komplek perumahan, di jalan lingkungan tepat di belokan di depan kami, sekonyong-konyong muncul pula sepeda motor tril. Eh, ternyata Hendrik. Jarak kami sekitar sepelemparan batu. Mungkin 10 meter an.

           Begitu melihat pengendara sepeda motor tril itu si tokoh utama yang sedang hangat dibicarakan oleh teman-temanku akhir-akhir ini, Sarmito serta merta memasang raut muka mengeras, rahangnya terlihat berdenyut-denyut, dan matanya memancarkan panasnya api kebencian. Aku dapat merasakan gemuruh perasaan itu, walau aku duduk di belakang.

           "Hendrik..." Sarmito berkata lirih sambil agak memalingkan muka ke kanan agak ke belakang, agar aku mendengar. Ya, aku sudah melihat.

          5 meter lagi, kami akan berpapasan.

           Aku sudah khawatir dan ngeri lihat gestur Sarmito. Otot-otot badannya seperti bergemertak. Aku ingat, ketika di halaman kantor bapaknya Kris, Sarmitolah yang mengepal-ngepalkan tinjunya gregetan terhadap Hendrik.

          2 meter lagi.

          Aduh, aku tak mau ribut-ribut. Kalau terjadi kelai bagaimana? Hendrik santai saja seperti tidak merasa bersalah, bahkan berusaha tersenyum.

           1 meter.

          Sarmito melotot, mulutnya mencibir. Wah, apa yang akan dilakukannya?

         "Cuiiih!" Sekumpulan cairan kental dalam mulut Sarmito dilontarkannya ke jalan aspal lingkungan komplek tepat di depan Hendrik. Ternyata tadi, begitu Sarmito melihat Hendrik lepas dari belokan, Sarmito punya ide jahil mengumpulkan ludah di mulutnya. Lalu menghina Hendrik dengan cara melontarkan cairan itu di hadapannya, di depan matanya.

           Hendrik matanya terbelalak. Dia tak sempat melakukan apa-apa.

           Tak ada sedetik kemudian kami telah berpisah. Aku lihat dari kaca spion sepeda motor, Hendrik sempat menoleh ke belakang dengan paras wajah tidak berbentuk lagi. Keki, kesal. Campur aduk.

          "Kau telah menghina Hendrik, To ..." Aku mengingatkan agar tidak seharusnya begitu.

           Sarmito malah merespon dengan arogan, "Untung bukan wajahnya yang aku ludahi!". Ups ....sangar!

          "Biar ajo, orang seperti itu musti dikasih pelajaran. Lagaknya macam orang cemmano gitu, sombong nian!" tambah Sarmito, terlihat wajahnya ditekuk-tekuk. Puas.

          Kabar-kabar perseteruan antara kami dan Hendrik makin menyebar bagaikan api kebakaran di perumahan rakyat miskin dari kayu dan kardus di musim kemarau. Hampir seluruh murid SMP Kristen telah merasakan lidah-lidah apinya. Panas. Merangas. Dan, bahkan telah menjalar ke murid-murid SMA Kristen yang terletak di sebelah SMP Kristen. Memang kami bersebelahan, hanya saja tanpa pagar.

            Mengapa sampai menyebar ke murid-murid SMA? Karena Hendrik sendirilah yang menyebarkannya. Hendrik punya banyak teman murid-murid SMA. Dia sering berkunjung ke area sekolah SMA Kristen, yang dapat di akses dengan mudah karena tanpa pagar. Postur tubuh Hendrik yang sebaya murid SMA itulah membuat mudah diterima bergaul dengan mereka.

          SMP dan SMA Kristen membara.

          Aku masih ingat, kejadian menggemparkan itu. Pagi itu bukan hari Senin. Karena kami memakai seragam baju putih dan bawahan coklat muda, bawahan spesial SMP Kristen. Karena, jika hari Senin biasa kami memakai putih-putih. 

           Pagi masih menyisakan dinginnya, ketika kami murid-murid SMP Kristen akan bersiap memulai hari untuk belajar. Lonceng sekolah belum berdentang. Sehingga murid-murid masih banyak di luar kelas, ada yang mengobrol, ada yang baru sampai, sebagian murid ada yang telah berada di dalam kelas, mempersiapkan buku, ada juga yang menyelesaikan PR yang belum selesai dikerjakan tadi malam di rumah. Semua menunggu lonceng dipukul tepat pukul 07.00.

           Tiba-tiba dari arah salah satu kelas, seorang murid berlari menuju kelas yang lain. Aku lihat murid itu adalah Hendrik. Ternyata dia meluru menuju kelasnya Sarmito. Hendrik telah dikuasai dendam, setelah kejadian di komplek perumahan Tembok.

          Sarmito sedang berdiri sambil mengobrol dengan murid yang lain di depan pintu kelasnya.

          Hendrik telah mencapai jarak pukul, maka ia mengacungkan tinjunya. Siap menghantam kepala Sarmito.

           Bukan Sarmito jika tidak merasakan kesiur angin pukulan yang sampai lebih dulu, sebelum kepalan Hendrik mendarat di wajahnya. Sarmito menggeser kepalanya sedikit. Sarmito berhasil mengelak. Tinju Hendrik melewati beberapa sentimeter di depan kepala Sarmito menebas udara kosong.

          Ternyata Sarmito tidak hanya mengelak, bersamaan itu pula Sarmito melihat pertahanan Hendrik terbuka, ketika meninju udara kosong. Gak pake lama Sarmito mengangkat kakinya dan menjejakkan ke depan, tepat mengenai dada Hendrik. Hendrik terjengkang, sampai keluar dari selasar sekolah, mendarat di rerumputan yang masih basah oleh embun pagi. Bagaimana tidak, Sarmito yang besar dan tinggi itu memang lawan sebanding dengan Hendrik.

          Melihat dirinya di atas angin, Sarmito merangsek bak harimau belum sarapan, membela kehormatan temannya, aku. Sarmito hendak menyerang Hendrik kembali, ketika Hendrik berusaha bangkit kembali. Tapi, serangan Sarmito tak pernah sampai.

           Teman-teman SMP lain yang terkesima menonton di sekitar perkelahian, segera menyadari. Mereka bergegas memegang bahu, dan tangan Sarmito dengan kuat. Mencegah terjadinya perkelahian lebih parah lagi. Begitu pula Hendrik yang terjengkang dan telah bangkit, dipegang beberapa teman yang lain. Semua teman berusaha mencegah, dan memisahkan dua harimau yang sedang menggelegak.

           "Biarkan! Jangan dipisah! Anak iko patut dikasih pelajaran! Dasar perampok!" pekik Sarmito sambil menunjuk-nunjuk Hendrik.

           "Apa kau kecek? Perampok?" Hendrik menggeliat-geliat berusaha melepaskan diri dari cengkeraman teman-teman, ingin menghajar Sarmito lagi, tapi pegangan teman-teman lebih kuat.

           "Sudah, sudah ... iko di dalam sekolah, kalau ketahuan guru, kalian pasti dihukum....cukup!" sahut salah satu teman.

           Sarmitopun tersadar bahwa kejadian baru saja di dalam sekolah. Sarmito mengendur. Tidak berusaha ingin menyerang kembali. Hendrikpun demikian. Akhirnya mereka kembali ke kelas masing-masing. Tanpa penyelesaian. Dendam masih bergejolak di dalam jantung masing-masing.

            Aku terpaku, menatap dari depan kelasku. Semua gara-gara aku.

            Siangnya, ketika lonceng berdentang tanda saatnya pulang, aku pulang berjalan kaki bersama Kris. Biasanya, jika aku tidak bersepeda, aku dijemput oleh supir kantor bapakku. Tapi, ini tidak ada jemputan, mungkin supir kantor sedang sibuk. Jika demikian, biasanya aku menunggu jemputan di rumah Kris.

           Demikian pula siang ini, jemputan tak terlihat. Akhirnya aku putuskan untuk pulang bersama Kris ke rumahnya dengan berjalan kaki. Jaraknya dari sekolah cukup melelahkan betis kaki.

           Siang itu sangat terik matahari menerpa bumi kota Bengkulu. Kami berjalan terengah-engah di atas jalan aspal yang kami telusuri mendaki dengan kemiringan kurang lebih seperti kemiringan atap rumah. Kami sangat letih, lebih-lebih dengan panas matahari yang menyengat. Kami baru menempuh jalan sekitar sepanjang lapangan bola selepas melewati gerbang sekolah. Di kanan-kiri jalan ada tebing dengan tumbuhan semak-semak. Jalan menanjak itu sekitar dua rumah panjangnya. Setelah itu, jalan agak mendatar. Ketika jalan sudah mulai mendatar kami agak lega dan nafas kami sudah tidak memburu.

       Mendadak, dari balik semak-semak pepohonan keluarlah dua sosok manusia. Satu orang, aku sangat mengenalnya, Hendrik, yang tadi pagi terjengkang. Satu lagi bercelana panjang yang belakangan kemudian kami tahu ternyata satu sekolah dengan kami, hanya saja dia sudah tingkat SMA. Hendrik menghampiri Kris dengan cepat, sedang yang satu orang lagi, yang bercelana panjang meluruku. Gerakan kedua manusia tersebut setengah berlari dan sangat cepat.

      "Plak !, plak ! ...", tiba-tiba kudengar suara tamparan. Tidak berapa lama, pipiku terasa panas. Aku baru sadar kemudian, kalau aku yang ditampar oleh orang yang bercelana panjang itu. Kemudian, kerah bajuku ditarik dan diangkat. Aku tak tahu bagaimana nasib Kris waktu itu, karena aku sedang dalam keadaan terkejut dan "shock" sekali.

           "Awas ya kamu macam-macam !!", gertak orang itu dengan biji matanya seakan-akan akan meloncat keluar ke arahku.

           Aku tak bisa berbuat apa-apa karena sangat terkejut. Aku juga, bukan anak yang pandai berkelahi waktu itu. Yang aku rasakan hanya takut dan takut. Aku "mengkeret" seperti baju belum disetrika.

            Setelah itu, mereka pergi.

          Aku dan Kris akhirnya terburu-buru pulang. Kami takut ada yang menyerang kembali. Karena, jika pun kami pandai berkelahi, kami yang seusia SMP ini bukan lawan yang setara dengan mereka yang dari tinggi badan saja sudah beda jauh.

          Namun, aku heran juga mereka yang dikatakan telah besar dan dewasa itu mengapa tidak malu melawan anak-anak seperti kami ini. Mentang-mentang kami masih SMP, lalu mereka semena-mena. Jika aku jadi mereka, pasti aku tidak melakukan apa yang mereka lakukan, walaupun pasti menang. Hina.

          Kehormatan seseorang itu lebih berharga daripada hanya sekedar terlihat hebat di mata manusia. Kehormatan dan harga diri itu menenangkan. Agaknya seperti itu kata-kata nasehat dari orang-orang tua kita.

            "Diman, dipanggil ke kantor!" Petugas administrasi sekolah idzin masuk ke kelasku kepada guru yang sedang mengajar dan memanggilku.

          Deg! Pasti tentang kejadian heboh kemarin.

          Aku berjalan dengan jantung masih berdegub keras, menuju kantor kepala sekolah. Ketika aku telah sampai di bawah bingkai pintu ruangan itu, aku melihat telah duduk disana Kepala sekolah suster Kristiana, Kris, Sarmito, dan Hendrik. Semua menatapku.

***


Belajar Cara Menulis Cerita Nyata
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

Posting Komentar untuk "Bab #08 Terpukau"

Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis
Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi dan #novel nonfiksi di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com