Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#04 Macam-macam Kalimat

 3. Macam-macam Kalimat

Dengan mempergunakan dasar-dasar kesenyapan dan intonasi dapat kita membagi kalimat dari bermacam-macam segi tinjauan. Sebelum kita sampai kepada pembedaan pengertian Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk, terlebih dahulu kita meneliti kemungkinan bermacam-macam kalimat yang dalam tatabahasa lama diabaikan.

Macam-macam kalimat yang akan dibicarakan disini ialah:
  1. Kalimat minim lawan kalimat panjang.
  2. Kalimat minor lawan kalimat mayor.
  3. Kalimat inti lawan kalimat transformasional.

3.1. Kalimat minim lawan kalimat panjang

Untuk mendapat gambaran yang jelas tentang kedua macam kalimat yang dipertentangkan itu, marilah kita memperhatikan dulu kalimat-kalimat berikut:

          I.   1. diam!
       2. pergi!
 II.  3. amat mahal!
       4. yang baru!
       5. yang akan datang!
III.  6. sudah siap!
       7. ia mengambil buku itu.
       8. dia ada di dalam.
       9. kami pergi ke Bandung.
  • Kalimat 1 dan 2 hanya terdiri dari satu patah kata saja, tidak lebih dari itu, serta diapit oleh kesenyapan awal dan kesenyapan final. Kita semua akan menerima bahwa kata-kata itu sudah merupakan kalimat karena adanya unsur-unsur yang lengkap: ekspresi, intonasi, arti dan situasi. Intonasinya menunjukkan bahwa ujaran itu sudah final. Dan kalimat itu terdiri dari satu kontur.
  • Kalimat 3 dan 4 terdiri dari dua patah kata, sedangkan kalimat 5 terdiri dari tiga patah kata. Situasi yang dimasuki kalimat-kalimat itu misalnya menjawab pertanyaan orang lain. Dalam hal ini kalimat-kalimat tersebut mengandung semua unsur yang diperlukan untuk menyebutnya sebagai kalimat. Struktur ketiga kalimat itu berbeda dengan struktur kalimat keenam walaupun kalimat 6 terdiri dari dua patah kata. Perbedaan itu terletak dalam kemungkinan pemecahan kalimat-kalimat itu atas bagian-bagian yang lebih kecil. Kalimat ketiga, keempat dan kelima tidak bisa dipecahkan lagi dalam posisi lepas, yang dapat berdiri sendiri sebagai tutur. Sedangkan, masing-masing bagian dari kalimat 6 dapat berdiri sendiri sebagai suatu kalimat. Bagian-bagian dari kalimat 3, 4 dan 5 (mahal, baru dan datang) dapat menduduki posisi lepas, jadi dapat berdiri sendiri sebagai kalimat kalau perlu; tetapi kata: amat, yang dan akan, tidak bisa berdiri sendiri dalam posisi yang demikian. Kata-kata yang, akan, amat, selalu mengikat kata-kata berikutnya untuk dapat bersama-sama muncul dalam suatu tutur. Ikatan itu dapat membentuk satu kontur, atau lebih tepat hanya bisa membentuk satu kontur saja.
  • Lain halnya dengan kalimat 6  / sudah siap! / Tiap bagian dari kalimat ini dapat muncul dalam posisi lepas, dan masing-masingnya dapat memasuki satu kalimat dengan satu kontur bila perlu: 
sudah!
siap!

  • Kalimat 7, 8 dan 9 merupakan gabungan dari bermacam-macam kalimat di atas. Jadi pada prinsipnya bagian dari kalimat itu dapat pula membentuk satu kalimat lagi.
Bila kita mengambil kalimat-kalimat dalam kelompok I (dapat dipecah) menjadi satu model tersendiri, sedangkan kalimat-kalimat dalam kelompok II (tidak bisa dipecah) menjadi model yang lain, maka kita dapat memperinci lagi semua kalimat dalam kelompok sebagai berikut:



          
          Inti dari semua uraian ini adalah: bahwa, 
  • Ada kalimat yang dapat dipecahkan lagi atas kontur-kontur dan ada yang tidak.
  • Pemecahan atas kontur-kontur itu secara potensial terdiri atas kata-kata yang dapat memasuki satu kalimat tersendiri. Sedangkan ada kata yang tidak bisa memasuki satu kalimat. Inilah menjadi ciri dari kalimat yang disebut kalimat minim dan kalimat panjang.

Batasan: 

Kalimat minim adalah kalimat yang tidak dapat dipecahkan atas kontur-kontur yang lebih kecil lagi. Contoh kalimat 1, 2, 3, 4, dan 5.
 
Kalimat panjang adalah kalimat yang secara potensial dapat dipecahkan lagi atas kontur-kontur yang lebih kecil. Contoh kalimat 6, 7, 8, dan 9.

 

 3.2. Kalimat minor lawan kalimat mayor

Pembedaan kalimat atas kalimat minim dan kalimat panjang merupakan hasil tinjauan dari segi kontur. Tetapi bukan hanya dari segi ini saja dapat kita teliti hakekat sebuah kalimat. Kita dapat melihat dari segi lain, misalnya melihat adanya unsur-unsur pusat atau inti yang membina kalimat itu.

Kita mengambil lagi contoh-contoh di atas, dengan mengadakan pengelompokan yang lain:

I. 1. diam!
2. pergi!
3. amat mahal!
4. yang baru!
5. yang akan datang!
6. sudah siap!

II. 7. ia mengambil buku itu.
8. dia ada di dalam.
9. kami pergi ke Bandung.

  • Kalimat-kalimat 1, 2 yaitu diam dan pergi masing-masingnya sudah membentuk satu pusat.
  • Kalimat-kalimat 3, 4, 5 dan 6, masing-masingnya mengandung satu pusat yaitu: 

  Pusat kalimat 3: mahal, 

  Pusat kalimat 4: baru, 

  Pusat kalimat 5: datang

  Pusat kalimat 6: siap 

Unsur-unsur yang lain merupakan unsur-unsur tambahan atau unsur penjelasan terhadap unsur pusat (inti) tadi.

  • Kalimat 7, 8 dan 9 mengandung dua unsur pusat, yaitu: 

  Pusat kalimat 7: ia dan mengambil 

  Pusat kalimat 8: dia dan ada 

  Pusat kalimat 9: kami dan pergi

Unsur-unsur buku itu, di dalam, dan ke Bandung adalah unsur-unsur tambahan pada unsur pusat tersebut.

 Atas dasar pengertian yang baru ini yaitu dengan meninjau unsur-unsur pusat atau inti yang membina sebuah kalimat dapat dibedakan kalimat-kalimat atas: kalimat minor dan kalimat mayor.

Batasan: 

Kalimat minor adalah kalimat yang hanya mengandung satu unsur pusat atau inti (kalimat 1, 2, 3, 4, 5, dan 6).

Kalimat mayor adalah kalimat yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur pusat atau inti (kalimat 7, 8 dan 9).

 

 3.3. Kalimat inti lawan kalimat transformasional

Taraf lain yang akan menjadi persoalan selanjutnya adalah meneliti kalimat-kalimat mayor. Kalimat mayor (kalimat  yang sekurang-kurangnya mengandung dua unsur pusat) inilah yang akan menurunkan bermacam-macam persoalan, dari kalimat inti sampai kepada kalimat transformasional, dari kalimat tunggal sampai kepada kalimat majemuk. 

Pendeknya kalimat mayor menjadi dasar strategi dalam pengamatan tutur yang lebih kompleks.

Bila kita telah menerima anggapan dasar yang mengatakan bahwa kalimat itu adalah suatu struktur, maka pangkal tolak untuk menganalisa kalimat juga harus bertolak dari unsur-unsur yang membentuk struktur tersebut.

Dalam tarap pertama sebuah kalimat dapat dipecahkan atas dua struktur yaitu struktur segmental dan suprasegmental. Maksud dari pada pemisahan kedua struktur ini adalah agar kita dapat menyisihkan segala warna arti yang mungkin ditimbulkan oleh struktur suprasegmentalnya atau oleh situasinya yang menyertai rangkaian arti yang didukung oleh unsur-unsur segmentalnya. Karena struktur segmentalnya pertama-tama terjadi dari rangkaian kata-kata maka penelitian hakekat kalimat pun akan dilakukan melalui struktur rangkaian kata-kata itu.

Berdasarkan hakekat bentuk kata, kata-kata dapat dibagi atas empat macam yaitu: kata benda, kata kerja, kata sifat dan kata tugas. Kata tugas fungsinya pertama-tama untuk memperluas sebuah kalimat. Sebab itu wujud sebuah kalimat yang paling kecil dalam kalimat mayor haruslah  terbentuk dari ketiga jenis kata yang lain (kata benda, kata kerja dan kata sifat). 

Wujud dari gabungan yang paling minim sebagai inti dari suatu kalimat mayor haruslah selalu terdiri dari dua unsur pusat (seperti telah dijelaskan di atas). Dari kedua unsur pusat inilah kelak dapat diperluas dengan berbagai macam unsur tambahan yang lain sehingga terdapatlah kalimat-kalimat yang kompleks.

Jenis kalimat mayor yang hanya terdiri dari dua unsur pusat itu disebut Kalimat Inti, 

untuk mempertentangkannya di satu pihak dengan, 

Kalimat Luas, yaitu kalimat yang mengandung dua unsur pusat disertai satu atau lebih unsur tambahan yang lain. 

Di pihak lain Kalimat Inti ini kita pertentangkan dengan, 

Kalimat Transformasional, yaitu perubahan dari struktur-struktur kalimat inti menjadi suatu struktur yang baru.

Jadi pengertian kalimat transformasional dengan sendirinya juga mencakup kalimat luas. Tetapi, bukan hanya itu saja. Perubahan susunan kalimat inti, perubahan intonasi kalimat inti juga termasuk dalam kalimat transformasional, walaupun hanya terdiri dari dua unsur pusat. 

Jadi pengertian Kalimat Inti haruslah mencakup beberapa ketentuan /syarat Kalimat Inti adalah sebagai berikut:

  1. Mengenai tata-urut katanya.
  2. Mengenai intonasinya. Intonasinya selalu intonasi yang paling netral artinya intonasi itu tidak boleh menyebabkan perubahan atau pergeseran arti leksikalnya. (arti leksikal adalah arti atau makna asli seperti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI)
  3. Mengenai jumlah katanya: hanya dua kata.
  4. Mengenai unsur pusatnya: kedua kata itu sekaligus menjadi unsur pusat atau inti kalimat.

Bila salah satu syarat di atas tidak dipenuhi lagi, maka kalimat itu bukan kalimat inti.

Kalimat transformasional harus menunjukkan bahwa sudah timbul perubahan-perubahan pada kalimat inti, baik berupa perubahan intonasi, perubahan susunan kata, penambahan unsur-unsur segmental yang baru pada unsur-unsur tadi.

***

Tugas Latihan

       Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini di buku tulis /kertas jawaban! 

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Kalimat Mayor! Berikan contoh, dan sebutkan pusat-pusatnya!

Contoh : Kami pergi ke Pantai Baron

Pusat : kami dan pergi

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Kalimat Inti! Dan, apa pula yang dimaksud dengan Kalimat Luas? Demikian pula, jelaskan yang dimaksud dengan Kalimat Transformasional! 


www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.

Posting Komentar untuk "#04 Macam-macam Kalimat"

Menjadi Penulis Terampil
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com