Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#05 Identitas penulis membentuk kebiasaan menulis kita

Pendahuluan

           Jika kita sulit membiasakan kebiasaan menulis, masalahnya bukan pada diri kita. Letak masalahnya pada sistem kita. Kebiasaan yang menghalangi untuk menulis berulang dan terus menerus terulang, bukan karena kita tidak ingin membiasakan menulis. Akan tetapi kita telah memiliki sistem yang salah untuk berusaha melakukan kebiasaan menulis.

          Mengapa mudah sekali mengulang kebiasaan-kebiasaan sia-sia bahkan kebiasaan-kebiasaan buruk, dan sulit membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dalam hal ini menulis?

          Orang sering merasa sulit mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik menulis. Seperti menulis buku harian, menulis ayat Al-Qur’an dengan tafsirnya, dan sebagainya adalah sejatinya sesuatu yang menyenangkan sanubari selama sehari dua hari. Selanjutnya ternyata hal itu menjadi sesuatu yang mengganggu dan mungkin membosankan.

          Menerapkan suatu kebiasaan menulis sulit karena dua masalah:
  1. Kita berusaha membiasakan menulis karena keliru sasaran.
  2. Kita berusaha membiasakan menulis dengan cara yang salah.

Keliru sasaran

          Kita akan membayangkan ada 3 lapisan tempat perubahan mampu terjadi. Kita bayangkan seperti lapisan-lapisan suatu telur. Lapisan terluar cangkang kulit telur, lapisan lebih dalam putih telur, dan lapisan terdalam kuning telur.

          Lapisan terluar, yaitu cangkang kulit telur adalah lapisan hasil atau sasaran menulis kita, seperti menulis artikel asyik dibaca, menerbitkan buku, dan produk tulisan lainnya.

          Lapisan tengah, yaitu putih telur adalah lapisan proses kerja kebiasaan menulis kita. Yaitu sistem menerapkan rutinitas kebiasaan menulis.

          Lapisan terdalam, yaitu kuning telur adalah lapisan identitas kita sebagai penulis. Yaitu pandangan dunia terhadap diri kita, citra diri kita, atau penilaian diri kita baik dari diri kita sendiri atau dari orang lain, bahwa kita sesosok penulis.
  • Hasil tulisan adalah apa-apa yang kita dapatkan
  • proses kebiasaan menulis adalah apa yang kita lakukan, 
  • identitas terkait apa yang kita yakini bahwa kita seorang penulis.
          Yang perlu kita perhatikan adalah arah perubahan. Karena, banyak orang memulai proses kebiasaan menulis berbasis hasil. Sedangkan yang betul adalah membangun kebiasaan menulis berbasis identitas. 

          Maksudnya bagaimana?

Berbasis identitas maksudnya, kita memulai kebiasaan menulis berfokus pada kita ingin menjadi sosok seperti apa. Tentu saja, sosok penulis. 

          Dan ternyata kata "identitas" sendiri berasal dari bahasa Latin "essentitas" yang artinya "ada", dan "identidem", yang berarti "berulang". Jadi secara leterleks identitas berarti "ada yang diulang".

          Misalkan ada dua orang sedang berusaha berlatih kebiasaan menulis. Ketika ditanya, apakah mereka menulis?

          Orang pertama menjawab, "Iya saya berlatih menulis."

          Sedang orang kedua menjawab, "Iya saya memang penulis."

          Perbedaan itu hanya kecil, tetapi jawaban orang kedua mengisyaratkan identitas dia seorang penulis. Menulis adalah bagian kehidupannya sekarang, dan dia dengan tegas mengidentifikasikan dirinya sebagai penulis.

          Sebagian besar orang tidak mempertimbangkan perubahan identitas sebagai penulis ketika ingin bisa menulis. Mereka hanya berpikir bagaimana mampu menulis. Mereka menetapkan sasaran-sasaran dan menentukan aksi-aksi yang harus diambil dalam rangka mencapai sasaran tersebut, tanpa meyakini identitas dirinya yang akan mendorong aksi-aksi tersebut. Mereka tidak mengubah cara pandang terhadap dirinya sendiri, dan tak sadar bahwa, identitas lama mereka dapat menyabot rencana baru sebagai penulis.

          Di balik setiap sistem aksi selalu terdapat sistem keyakinan. Ada seperangkat keyakinan yang membentuk sistem, ada identitas penulis di balik kebiasaan-kebiasaan menulis.

          Perilaku yang tidak mencocoki dengan identitas diri tidak akan bertahan lama. Kita mungkin ingin bisa menulis setiap hari, akan tetapi identitas kita cenderung tidak menunjukkan seorang penulis. Mengubah kebiasaan itu sulit, jika kita tidak mengubah keyakinan kita terhadap identitas kita. Sehingga itu tidak akan mengubah pula kebiasaan lama kita kepada kebiasaan baru menulis.

          Kita mempunyai sasaran baru dan rencana baru, akan tetapi kita tidak mengubah siapa kita.

          Aku ditakdirkan selesai dari sekolah umum sebagai arsitek. Ini jelas-jelas identitas. Akan tetapi aku seolah-olah menolak identitas ini, mengapa?

          Setelah aku mengikuti kajian-kajian Ahlus Sunnah, dengan keterbatasan ilmuku waktu itu bahwa banyak sekali bangunan-bangunan yang aku ragukan apakah fungsi-fungsinya tidak menyelisihi Islam yang merupakan keyakinan tauhid. Seperti misalkan bangunan museum, bar, dan pada umumnya banyak bangunan yang sifatnya umum tempat bercampurnya beragam kegiatan. Boleh jadi ada kegiatan yang masih syar'i dan ada pula yang tidak. Sehingga waktu itu, agar aku lepas dari keragu-raguan tersebut, aku mulai mencoba usaha dibidang lain.

          Pertama, aku mencoba mengembangkan usaha dengan tema produk-produk islami, seperti gamis, madu, habbah sauda, parfum, dan sebagainya. Aku membuka semacam kios di rumah di bilangan Depok. Bahkan aku sampai-sampai berjualan di kajian-kajian, di masjid-masjid dekat daerah terminal angkutan umum Blok M, Jakarta Selatan.

          Ternyata identitas lama itu tetap menyabot diriku. Aku diminta mendesain suatu rumah tinggal di daerah Tebet. Maka jadilah desain rumah dengan nama Rumah Kenangan dengan nuansa desain rumah kolonial di tengah kebisingan ibu kota. Sampai-sampai desain rumah tersebut tercium oleh beberapa media massa offline, online maupun media elektronik, dan tersebar. Padahal itu desain perdanaku dari identitas lamaku sebagai arsitek.

          Tak berapa lama, aku dan keluargaku pindah tinggal di daerah Jawa Tengah, tepatnya di pinggiran kota Muntilan. Kondisi daerah tidak memungkinkan mengembangkan identitas arsitekku. Akhirnya, aku punya ide ingin membuka usaha bengkel sepeda motor. Dan, tidak tanggung-tanggung, aku mengikuti kursus sebagai mekanik sepeda motor di suatu lembaga pendidikan di daerah Janti, Jogjakarta. Dan akhirnya selesai dengan menggenggam serifikat kelulusannya. Ketika mulai membuka bengkel di rumah, tiba-tiba akupun diminta mendesain rumah tetanggaku. Batallah membuka bengkel.

          Berjalannya waktu, akhirnya mengantarkan aku bekerja di suatu rumah sakit di daerah Banyumas. Tugasku di bidang kesehatan? Bukan. Aku bersama team arsitek lainnya diberi tugas mendesain pengembangan rumah sakit tersebut untuk lokasi di kota Pemalang dan Purbalingga. Di sela-sela itu, aku tak menyerah untuk mencoba peruntunganku di bidang lain. Karena aku suka dengan bidang kesehatan alami, dan waktu itu ada kesempatan mengikuti pelatihan terapi alami di suatu pondok pesantren di daerah Kroya. Pikirku, mungkin saja aku bisa mengubah kegiatan di bidang itu. Namun, ternyata tak kunjung terealisasi juga.

          Kegagalan demi kegagalan aku lewati akibat usahaku agar mampu usaha dibidang selain arsitek. Sekarang aku faham, mengapa itu semua terjadi? Karena aku tidak yakin mengganti identitasku, sebenarnya siapa aku? Apakah aku seorang pedagang produk-produk islami, ataukah aku seorang mekanik sepeda motor, ataukah aku seorang terapis kesehatan alami. Sementara identitas lamaku selalu membayang-bayangiku, dan memorak porandakan rencana dan sasaran-sasaran baruku.

          Sekonyong-konyong aku teringat masa-masa kelulusan sekolah menengah atasku. Ketika itu aku diajak temanku untuk tes peminatan di Jurusan Psikologi Universitas Indonesia. Hasilnya? Aku dianjurkan sekolah di bidang arsitektur dan senirupa. Rupanya bibit-bibit identitas inilah yang selalu mengandaskan usahaku untuk mencoba bereksplorasi di bidang lain.

          Maka, sejak itulah aku tetapkan keyakinan bahwa identitas diriku adalah arsitek. Dan, aku meneliti bidang arsitektur apa yang bisa aku fokuskan agar tidak ragu-ragu lagi sebagai seorang Ahlus Sunnah. Dengan pengalaman desain perdanaku Rumah Kenangan, desian rumah ketika di Muntilan, lahirlah www.sketsarumah.com yang menfokuskan desain bangunan rumah tinggal.

          Motivasi akan muncul secara apa adanya, ketika kebiasaan menjadi identitas kita. Di satu pihak kita bilang, "Aku orang menginginkan ini." Dan, sangat berbeda dengan kita mengatakan, "Aku orang seperti ini."

          Semakin kita bangga terhadap bidang sesuatu terkait identitas kita, semakin kuat pula motivasi kita untuk mempertahankan kebiasaan-kebiasaan terkait dengannya. 

          Bila kita bangga sebagai Ahlus Sunnah, maka kita akan mengembangkan berbagai kebiasaan untuk merawat dan menjaga identitas tersebut. Di antara menjaganya tentu saja selalu berorientasi kepada ilmu. Orientasi kepada ilmu, berkonsekwensi menjaga kebiasaan belajar. Dan untuk memicu itu semua butuh keterampilan menulis. 

          Bila kebanggaan sebagai Ahlus Sunnah berperan, maka kita akan berjuang mati-matian untuk mempertahankan kebiasaan-kebiasaan belajar dan menulis. Sehingga kita bisa simpulkan, 

identitas seorang Ahlus Sunnah sama saja dengan identitas seorang pelajar dan penulis. 

          Perubahan perilaku adalah perubahan identitas. Kita mungkin memulai kebiasaan menulis karena motivasi, tetapi satu-satunya alasan kita untuk dapat menpertahankannya karena itu bagian dari identitas kita sebagai Ahlus Sunnah yang pelajar sekaligus penulis.

          Kita mungkin saja dapat membujuk diri kita saat ini untuk menulis syair, kisah, artikel atau catatan kajian, akan tetapi jika kita tak mengubah keyakinan sebagai penulis, maka sukar untuk mempertahankannya dalam jangka waktu lama, apa lagi waktu tak terbatas sampai mati. Perubahan itu hanya bersifat temporer, kecuali kebiasaan menulis menjadi bagian dari siapa diri kita.

          Dengan memasukkan identitas kita sebagai penulis, maka kita tak usah susah payah membujuk diri kita untuk menulis. Penelitian menunjukkan begitu orang meyakini identitas penulis dalam identitas kita, kita akan lebih mungkin bertindak selaras dengan keyakinan itu. Kita tak lagi terlalu sungguh-sungguh untuk mengubah perilaku. Cukup sekedar bertindak seperti tipe orang - yaitu penulis - yang kita yakini sebagai diri kita sendiri. Tanpa sadar, perilaku kita menulis mencerminkan identitas kita sebagai penulis.

          Mungkin, kita akan berjuang melawan kebiasaan-kebiasaan lama kita untuk membiasakan menulis, karena sibuk atau banyak urusan lainnya. Namun, bagaimanapun dalam jangka waktu yang panjang, mengapa kita tak bisa mempertahankan kebiasaan menulis kita, alasan utamanya adalah citra diri kita yang menjadi penghalang. 

          Maka dari itu sebagai pribadi pelajar dan penulis Ahlus Sunnah, agar kita tak terganjal dengan identitas kita yang lama (dalam kasus "aku" di atas sebagai arsitek), 

kita tak dapat terikat pada satu versi identitas. Kemajuan keilmuan menuntut pembelajaran ulang. Menjadi versi diri yang paling baik menuntut kita untuk mengedit (meng update) keyakinan-keyakinan kita, dan menaik kelaskan identitas kita.

          Yang jelas, kita semua adalah Ahlus Sunnah, pelajar dan penulis. Kita adalah kebiasaan kita, dan kebiasaan kita adalah kita.

***
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.

Posting Komentar untuk "#05 Identitas penulis membentuk kebiasaan menulis kita"

Menjadi Penulis Terampil
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com