Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#07 Pemahaman proses kerja kebiasaan

Pendahuluan

           Proses kerja kebiasaan secara umum dapat dibagi menjadi empat tahap sederhana, yang terangkum dalam dua fase, fase masalah dan fase solusi:

Fase masalah

1. Memperoleh isyarat
2. Memicu hasrat
          

Fase solusi

3. Aksi tanggapan
4. Menikmati hasil
          Kita langsung ke contoh dalam kehidupan nyata, agar mudah dipahami:
       

          Pola empat tahap itulah, yang merupakan poros setiap kebiasaan. Pikiran kita akan mengalir pada proses tersebut dengan tahapan yang sama, kapanpun, dan apapun kebiasaan kita, baik kebisaan baik maupun buruk.

          Pertama, ada isyarat. Isyarat menstimulus pikiran untuk mulainya perilaku. Dan ini adalah "informasi kecil" yang "menjanjikan hasil". Isyarat seperti ini telah secara alami telah dialami dalam sejarah manusia sejak dulu kala. Ingin mendapatkan makanan, air, dan kebutuhan pokok lainnya, merupakan isyarat yang menjanjikan hasil (terpenuhi kebutuhan tersebut). Pikiran kita selalu menganalisis kondisi-kondisi kita untuk mendapatkan isyarat tempat adanya "hasil", dan tentu saja isyarat ini akan menimbulkan "hasrat" untuk mendapatkannya. Isyarat terkait dengan "meramalkan" hasil.

          Kedua, timbulnya hasrat. Hasrat, gairah atau nafsu menjadi daya tenaga yang merupakan penggerak di balik layar kebiasaan. Tanpa itu semua, kita tak punya alasan untuk melakukan aksi. Yang kita hasratkan bukanlah kebiasaan itu sendiri, akan tetapi perubahan kondisi dari isyarat menuju hasilnya.

          Kita ingin mengopi bukan karena kebiasaan ngopi itu sendiri, tetapi kita ingin pikiran dan badan kita segar.

          Begitu juga orang merokok bukan karena kebiasaan merokok itu sendiri, tetapi ia ingin pikiran dan badannya segar.

          Setiap hasrat, terkait keinginan untuk mengubah situasi baik di dalam maupun di luar diri kita.

          Hasrat pada satu orang berbeda dari hasrat pada orang lain. Bisa berproses ke aksi tanggapan baik maupun buruk. Menurut kaidah, suatu isyarat dapat merangsang hasrat, tetapi dalam kenyataannya orang termotivasi untuk melakukan tanggapan yang berlainan walaupun isyaratnya sama. Makna isyarat, tergantung bagaimana orang menafsirkannya. Pikiran, perasaan, emosi, dan masa lalu sang pengamatlah yang mengubah isyarat menjadi gairah yang bagaimana. Hasrat selalu terkait dengan gairah terhadap hasil.

          Ketiga, aksi tanggapan. Tanggapan adalah kebiasaan sesungguhnya yang kita lakukan yang dapat berbentuk pikiran atau aksi. Tanggapan tergantung dari 2 hal:

          ✓ Hasrat atau motivasi, jika hasrat atau motivasinya lebih kecil dari tanggapan yang musti dikerahkan, maka kita tidak akan melakukannya. Jadi hasrat minimal sebanding dengan aksi tanggapan.

          ✓ Kemampuan, kebiasaan dapat terjadi hanya bila kita mampu melakukannya. Misalnya, kita ingin mengopi, tetapi bila mengopi sakit maag kita kambuh, berarti kita tidak mampu melakukan kebiasaan tersebut.

          Sehingga, aksi tanggapan juga terkait mendapatkan hasil.

          Keempat, terakhir bahwa tanggapan melahirkan hasil, ganjaran atau imbalan.Hasil adalah target akhir setiap kebiasaan. Isyarat, hasrat, dan tanggapan semua berorientasi kepada hasil. Dan, kita mencari hasil karena ada 2 poin yang dapat dituntaskan:

          ✓ Pertama, hasil memuaskan hasrat kita. Hasil akan memberi manfaat bagi kita. Makanan dan air membuat kita mempunyai tenaga untuk bertahan hidup. Mengopi membuat pikiran dan badan kita segar. Dari sini, kita pahami semakin saat itu juga manfaat dari suatu hasil, semakin kita berhasrat  untuk melakukan hal untuk mendapatkan hasil tersebut. 

          Untuk sekejap, hasil mendatangkan kepuasan, dan kelegaan hasrat. Coba bandingkan yang demikian:

          Bila seseorang berdagang barang, ada dua kondisi. 

          Kondisi pertama, ia memasarkan produk dengan ilmu pemasaran, seperti branding, positioning, dan sebagainya. Mungkin hari itu ia tak dapat pelanggan, tetapi untuk jangka panjang dia akan mendapatkan pelanggan dan hasil penjualan yang melimpah, in syaa Allah. Ini namanya hasil tertunda atau tidak saat itu juga. 

          Namun, pada pilihan kondisi kedua ia bisa berjualan, agar hari itu juga ada barang yang terjual, dengan berbagai cara bujuk rayu, bahkan mungkin dengan banting harga. Maka, ia hari itu juga barangnya laku, walaupun hanya satu. Ia tidak ingin dapat hasil nanti-nanti. Musti hari itu juga. Inilah namanya hasil saat itu juga. 

          Nah, secara naluri alami sejak dahulu kala manusia lebih cenderung untuk mendapatkan hasil saat itu juga daripada hasil tertunda. Manusia dahulu ingin makan, berburu dan langsung mendapat hasil, dimakan saat itu juga. Karena apa? Mungkin belum mempelajari ilmu pertanian modern yang hasilnya tentu tertunda. Semakin komplek kebudayaan dan ilmu pengetahuan, semakin kita tak mendapat hasil saat itu juga atau hasil tertunda.

          Sehingga, wajar naluri alamiah manusia sejak dulu kala ingin hasil saat itu juga. Dan naluri ini sampai zaman now masih ada pada manusia, walaupun teknologi dan ilmu pengetahuan telah begitu majunya. Manusia cenderung kurang sabar untuk mendapatkan hasil tertunda.

          ✓ Kedua, hasil membuat pikiran kita mampu memilah aksi-aksi mana yang musti diingat untuk masa yang akan datang. Sistem syaraf kita berkesinambungan memonitor tanggapan-tanggapan mana yang memuaskan dan memberi kenikmatan hasrat kita.

Jika itu nikmat, maka pikiran kita menetapkan bahwa aksi yang dilakukan berguna. Namun, jika ia membuat kecewa pikiran, maka pikiran akan menyimpulkan bahwa aksi tersebut tak berguna. 

          Hasil menutup lingkaran kebiasaan, dan menjadikan umpan balik kembali ke isyarat. Itulah lingkaran kebiasaan.

          Sekarang coba kita balik. Hilangnya isyarat maka kebiasaan kita tak akan pernah dimulai. Misalkan, kita tak punya pengalaman hasil mengopi adalah pikiran dan badan segar. Ini namanya tak ada isyarat. Lalu, akibatnya ya tentu tak ada hasrat atau gairah untuk mengopi, lha kita belum tahu hasilnya, bagaimana bergairah untuk ngopi. Dengan kata lain kita tak punya motivasi untuk bertindak. Tak adanya hasrat tentu berkonsekwensi tidak melakukan aksi mengopi. Kita tak mampu melakukannya. Dan, memang cikal bakalnya tidak pernah mengalami hasil pikiran dan badan segar karena mengopi. Sama saja dengan, hasilnya gagal. Akibatnya, kita tak punya argumen untuk melakukannya kembali.

          Semua tahap, baik isyarat, hasrat, dan tanggapan saling mempengaruhi terjadinya perilaku. Dan, adanya hasil yang memuaskan membuat kebiasaan akan terulang.

          Untuk mudahnya, isyarat memicu hasrat, yang memotivasi tanggapan, yang mengantar pada hasil yang memuaskan hasrat yang akhirnya terhubung ke isyarat kembali. 

Isyarat > Hasrat > Tanggapan > Hasil > Isyarat > Hasrat > Tanggapan > Hasil > dan seterusnya.

          Keseluruhannya membentuk lingkaran umpan balik yaitu siklus lingkaran kebiasaan, sehingga lama kelamaan menciptakan kebiasaan yang otomatis.

          Pikiran terus menerus memantau lingkungan timbulnya masalah, mendeteksi apa yang terjadi kemudian, mencoba membuat aksi-aksi tanggapan yang berbeda, akibat pembelajaran dari hasil. Seluruh proses kerja kebiasaan terkadang terjadi hanya sepersekian detik, dan kita menggunakannya tanpa sadar bahwa itu rekaman-rekaman peristiwa yang lalu.

          Ketika kita telah beranjak dewasa, tanpa sadar kita jarang memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kita yang hampir mengambil sebagian besar kegiatan kehidupan kita. Kebanyakan kita tak perlu berpikir, ketika naik sepeda, mengendarai sepeda motor atau mengemudikan kendaraan roda empat. Bahkan, sampai selalu berganti baju santai yang lebih nyaman di rumah bila pulang dari berpergian, memegang hidung atau telinga yang tak pernah meleset, dan banyak lagi. Setelah puluhan tahun pikiran bawah sadar kita terprogram, akhirnya dalam diri kita terjadi otomatisasi dan bertindak tanpa berpikir.
          

Empat pedoman menimbulkan kebiasaan

          Kita dapat mengubah empat tahap proses kerja kebiasaan menjadi ragangan praktis yang dapat digunakan merancang kebiasaan-kebiasaan baik termasuk menulis dan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan sia-sia bahkan buruk.

          Empat pedoman tersebut, jika berada di tempat yang tepat, maka menciptakan kebiasaan baik termasuk menulis menjadi mudah. Pedoman tersebut sangat erat kaitannya dengan empat tahap proses kerja kebiasaan di atas:

          Di sini ditambahkan, cara nenghentikan kebiasaan sia-sia atau buruk dengan cara membalik pedoman tersebut, lawan dari itu semua:
      
         Untuk menimbulkan kebiasaan menulis, cukup kita bertanya pada diri kita:
         
         Jika kita bertanya, "Mengapa aku tidak melakukan menulis sesuai yang aku rencanakan? Mengapa aku seperti tak pernah menyediakan waktu untuk menulis?"

         Jawabannya, dapat ditemukan entah di dalam ke empat pedoman di atas.

         Berikutnya nanti, kita akan membahas satu-persatu pedoman tersebut dan bagaimana kita mampu menggunakannya untuk membuat proses sistem kerja kebiasaan-kebiasaan menulis dapat timbul secara wajar, dan bahkan kebiasaan-kebiasaan sia-sia atau buruk dapat perlahan-lahan lenyap. (ibman)

***
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.

Posting Komentar untuk "#07 Pemahaman proses kerja kebiasaan"

Menjadi Penulis Terampil
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com