Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#10 Merancang Konteks

Menjadikan ISYARAT 
Kebiasaan Menulis TERLIHAT

           Pada diri kita, banyak sekali syaraf sensoris. Baik secara sadar maupun tidak. Secara tak sadar seperti merasakan suhu udara meningkat sebelum turunnya hujan, terasa "sumuk" karena kelembaban udara naik, atau nyeri pada bagian tubuh kita sebelum mengetahui sebenarnya sakit apa, bahkan kita bisa "merasakan waktu" telah berjalan 5, 10, 15 menit, setengah jam, satu jam tanpa melihat jam dinding kita.
 
          Secara sadar, ada lima indera yang mana dengannya kita sanggup merasakan dunia. Melihat, mendengar, mencium bau, sentuhan dan mengecap rasa. Semua itu diarahkan ke sistem syaraf sensoris.

          Namun, yang paling hebat di antara semua kemampuan sensoris itu adalah penglihatan. Menurut para ahli, tubuh kita mempunyai sekitar 11 juta reseptor sensoris. Sekitar 10 juta difokuskan untuk penglihatan. Bahkan ada pakar yang berkata, bahwa setengah sumber daya otak digunakan untuk penglihatan. Subhanallah.

          Sehingga, tak mengherankan jika isyarat-isyarat visual menjadi katalisator utama perilaku kita. Dengan argumen inilah, maka ditetapkan dengan sangat yakin bahwa,
 
perubahan atau isyarat-isyarat kecil berupa apa yang kita lihat mampu menggiring kita kepada apa yang kita lakukan.

          Maka dari itu, betapa pentingnya hidup atau beraktivitas di lingkungan yang diisi petunjuk-petunjuk visual. Tidak terbayang oleh kita betapa kacaunya, jika kita bekerja di sekitar kita tanpa isyarat-isyarat yang dapat dilihat.

          Seorang pembelanja, akan terpicu membeli produk pertama kalinya karena melihat suatu produk dan "merasa memerlukannya". Ia membeli produk bukan karena ingin, melainkan karena produk itu disajikan di depannya. Barang-barang yang ditaruh setinggi mata di toko cenderung lebih banyak dibeli daripada barang-barang yang dipajang dekat lantai. 

          Begitu pula iklan yang sama di jalan-jalan terkadang sampai beberapa kali dalam jarak berdekatan, menghujam penglihatan kita berulang-ulang. Perulangan pada penglihatan akan direkam pikiran bawah sadar yang akan memicu pembelian tanpa sadar.

          Orang sering memilih produk, bukan karena apa produk itu, tetapi karena dimana produk itu.

          Jika camilan ada di meja kerja kita, sulit untuk tak mengambil dan mengemilnya sambil bekerja. Aku sendiri mengalami hal tersebut. Sampai-sampai istriku heran mengapa camilan yang baru dibeli tadi malam, keesokan paginya toples camilan yang ada di meja kerjaku sudah melompong. Untuk mengantisipasi hal tersebut, aku memakai trik meletakkan toples camilan di atas meja makan yang ada di ruang makan lantai bawah rumahku. Sehingga jika aku ingin mengambil camilan, aku musti turun ke bawah ke ruang makan, lalu mengambil camilan semampunya, yakni hanya segenggam tanganku. Dengan mempersulit atau menghalangi pandangan dan jangkauanku, itu menghambat kecepatan habisnya camilan. Dan, aku berhasil! Keesokannya camilan masih tersisa dalam toples.

          Lingkungan seolah-olah seperti tangan tak terlihat yang membentuk kebiasaan kita. Contoh lagi, di masjid kita cenderung tidak berisik, lain halnya di pasar yang merupakan medan area kebisingan. Begitu pula di jalanan gelap, kita akan berusaha waspada. Maka, perubahan perilaku yang umum bukan dari dalam diri kita, melainkan dari luar. Kita diubah oleh dunia yang meliputi kita. 

          Setiap kebiasaan tergantung pada konteks.

          Bahkan bukankah, kepekaan itu memang dari dalam, akan tetapi mampu dilatih perlahan-lahan dari luar.

          Dan, ternyata walaupun kita berpikir, "Aku mampu mengendalikan diri." Namun, sesungguhnya banyak perilaku yang kita lakukan setiap hari bukan dorongan dari pikiran sadar, tetapi dari pilihan yang paling terlihat.

Bagaimana merancang kontek untuk keberhasilan kebiasaan menulis

          Setiap kebiasaan, juga tentunya kebiasaan menulis dimulai dengan isyarat, dan isyarat yang menonjol lebih memungkinkan untuk terlihat. Hanya saja, lingkungan kita sehari-hari dimana kita berkegiatan sulit untuk menyelipkan atau menempelkan kebiasaan menulis dikarenakan tak ada isyarat yang jelas untuk menyulut perilaku tersebut.
  • Sulit menulis, karena laptop tersimpan di meja kerja yang tertutup.
  • Sulit memulai membaca buku, karena rak buku ada di ruang gudang. 
  • Sulit posting di blog, karena belum membuat blog, dan sebagainya.
          Ketika isyarat-isyarat yang membangkitkan kebiasaan menulis samar atau tak nampak, maka terabaikan dan akibatnya perilaku dilupakan.

          Berikut beberapa trik untuk merancang ulang lingkungan kita, dengan menjadikan isyarat-isyarat lebih tajam untuk mendatangkan kebiasaan menulis:

  • Jika kita ingin tak lupa membaca buku atau kitab setelah pulang dari masjid untuk shalat Isya, letakkan buku yang akan kita baca di atas meja kecil (biasa untuk tempat lampu tidur) di samping tempat tidur.  
  • Jika setelah shalat Lail dan Witir ingin menulis di aplikasi Keep Notes pada gawai cerdas, buka aplikasi tersebut, lalu jangan ditutup, namun tutup layar hp langsung pada mode wallpaper, lalu letakkan hp di dekat tempat biasa kita shalat di rumah.
  • Jika ingin selalu bisa melihat dan membaca kalimat-kalimat motivasi untuk kebiasaan menulis, taruh poster-poster itu di wallpaper gawai cerdas kita, atau cetak di print digital seukuran kertas A4 atau A3 sekalian, lalu tempel-tempel di ruang kerja, kamar tidur, perpustakaan pribadi, bahkan mungkin di ruang tamu sebagai hiasan berkelas.
  • Jika ingin sering melihat tulisan-tulisan orang lain, yang akan memotivasi diri kita untuk menghidupkan kebiasaan menulis, kita bisa mengikuti komunitas Ahlus Sunnah dengan tema menulis, seperti grup WhatsApp ataupun Channel Telegram.
  • Dan banyak lagi ide-ide kreatif yang bisa kita kembangkan demi menstimulus perilaku menulis dengan menciptakan isyarat-isyarat pandangan. Jika penulis ada gagasan lagi, yang akan datang akan disampaikan.
          Merancang lingkungan memungkinkan kita mengambil kendali dan menjadi arsitek dalam hidup kita sebagai penulis. 

          Jadilah kita perancang identitas kita sebagai penulis, sebagai pelajar dan sebagai pemburu ilmu, tidak hanya terombang-ambing begitu saja mengikuti arus.

Keseluruhan konteks adalah isyarat memicu kebiasaan menulis

          Isyarat yang menyulut kebiasaan menulis, biasanya spesifik. Namun sejalan dengan berjalannya waktu kebiasaan menulis menjadi terkoneksi pada isyarat-isyarat dengan konteks keseluruhan seputar kebiasaan menulis.

          Contoh saja, apa yang telah kita lakukan. Ternyata, kita lebih banyak menulis dalam situasi-situasi sosial dalam komunitas "asyik menulis" daripada sendirian, melihat teman-temsn menulis, melihat poster motivasi menulis di screen saver dan wallpaper hp kita, melihat poster-poster yang sama yang kita cetak untuk hiasan ruangan, melihat buku dan kitab di rak perpustakaan kita dan toko buku, dan sebagainya. 

          Kita telah membangun "hubungan khas" dengan benda-benda, dan apapun yang kita bisa lihat. Tindak tanduk kita bukan ditentukan oleh benda-benda di lingkungan, tetapi oleh hubungan kita dengan semua itu. Maka dari itulah disebut konteks yang berasal dari bahasa asing context yang berarti "hubungan". Oleh sebab itu, sejak kini kita coba untuk berhenti berpandangan tentang lingkungan yang berisi benda-benda. Namun, kita mulai berpikir lingkungan yang terisi dengan hubungan.

          Bagaimana itu maksudnya?

          Maksudnya, kita berpikir dalam konteks bagaimana kita berinteraksi dengan benda-benda, ruang-ruang di sekitar kita. Setiap orang mempunyai konteks (hubungan) yang berbeda terhadap benda-benda ataupun ruangan yang ia temui. Mungkin, bagi kita suatu tempat tidur adalah suatu tempat rebahan sambil menulis. Namun, bagi orang lain tempat tidur adalah tempat ia tidur dengan pulasnya. Itulah konteks itu.

          Orang berbeda mempunyai kenangan berbeda pada benda, maka dari itu benda yang sama bisa menimbulkan kebiasaan yang berbeda.

          Apa potensi yang sanggup kita dapatkan?

          Kita mampu melatih diri kita untuk mengoneksi kebiasaan menulis dengan konteks tertentu pula. Bahkan, kita bisa mengubah konteks suatu benda, yang tadinya tak ada hubungannya dengan kebiasaan menulis, lambat laun bisa terhubung.

          Misalkan kita ambil contoh tadi tentang tempat tidur. Tempat tidur mempunyai konteks dengan kita terhadap kebiasaan menulis. Akibatnya apa? Akhirnya kita sulit untuk istirahat secara total ketika di atas tempat tidur, karena konteks tadi. Maunya pikiran kita ketika telah naik tempat tidur, berpikir terus apa yang bisa kita tulis. Sehingga kita selalu gelisah, sulit istirahat. Untuk mengubah konteks tersebut, maka kita musti melakukan kebiasaan menulis di meja kerja kita sampai letih dan mengantuk. Ketika mengantuk, mulailah kita beranjak ke tempat tidur untuk istirahat, tidur. Kondisi ini musti kita ulang-ulang. Sehingga lambat laun "benda tempat tidur" tersebut berubah konteksnya terhadap kita. Ketika kita melihat tempat tidur, langsung terdefinisikan dengan perilaku istirahat. Jadi, pada akhirnya kita mudah terlelap ketika naik ke tempat tidur. Pikiran kita telah merekam, bahwa tidur adalah aktivitas satu-satunya yang berlangsung di atas tempat tidur.

          Daya dahsyat konteks menampakkan suatu teknik tertentu juga. Yaitu, bagi yang baru memulai kebiasaan menulis:

Kebiasaan baru menulis bisa mudah dilakukan di lingkungan yang baru pula, tempat yang memicu kebiasaan baru menulis.

          Maka dari itulah, mengapa ada program semisal "pesantren kilat di bulan Ramadhan di suatu vila daerah Puncak, Bogor." Karena, bagi para peserta di tempat yang baru, akan lebih mudah melakukan kebiasaan baru dalam beribadah kepada Allah subhana wa ta'ala. Benda-benda, ruangan-ruangan atau apapun yang ada pada vila tersebut belum mempunyai konteks terhadap para peserta. Dan, pada acara pesantren kilat itulah mulai terjadi konteks yang terasosiasikan kepada ketaatan pada agama. Sehingga perilaku islami yang diinginkan lebih mudah tereksekusikan. Karena, para peserta telah lepas terhadap lingkungannya yang telah lama terdefinisikan pada konteks yang mungkin akan menghambat perilaku dan identitas baru yang diinginkan. Muslim yang shalih.

          Konteks baru yang terhubung dengan kebiasaan baru menulis, memudahkan kita untuk lepas dari isyarat-isyarat lama yang menyulut untuk menghalangi kita dalam menjalani kebiasaan menulis. 

          Bagaimana caranya?

         Jika mampu, 
  • rancanglah suatu ruangan atau suatu pojok area di rumah kita, atau di tempat kita berdiam semisal di asrama ponpes, dengan desain ruangan atau area yang berisi benda-benda yang mempunyai konteks dengan kebiasaan menulis. Misalnya laptop, poster motivasi menulis, buku-buku, kitab-kitab. 
  • Bahkan mungkin benda-benda yang mungkin untuk orang biasa tidak ada konteksnya dengan kebiasaan menulis, tetapi bagi kita ada konteksnya, seperti (dalam kasus penulis pribadi): alat seduh kopi (karena itu telah mempunyai konteks dalam diri penulis dengan kebiasaan menulis). 
  • Bahkan, jika kita lebih mampu lagi, kita membagi aktivitas digital kita secara terpisah. Seperti laptop hanya untuk menulis, tablet hanya untuk membaca, dan gawai cerdas hanya untuk telpon, medsos dan pesan singkat. 
          Lebih ekstrim lagi, 
  • jika kita sedang menulis di laptop, minta tolong istri atau asisten kita untuk menyembunyikan telpon pintar kita, lalu pada pukul tertentu sesuai kesepakatan ia bisa mengembalikannya kepada kita.
          Memang betul, di era informasi kini kita musti piawai bisa melakukan apa saja tanpa dipengaruhi lingkungan. Iya memang, itu bisa jadi mampu kita lakukan, tetapi jika kebiasaan-kebiasaan menulis telah solid terbentuk, sudah terotomatis begitu saja di pikiran bawah sadar kita. Namun, untuk memulai kebiasaan menulis yang bagi kita masih baru, sangat darurat kita butuh lingkungan yang menimbulkan konteks kebiasaan menulis. Karena, kebiasaan menulis itu sedang proses dilahirkan. Sesuatu yang baru lahir atau baru tumbuh perlu kita rawat, kita jaga karena ia masih lemah. Dalam perjalanan waktu ia semakin menguat, dan semakin spontan, cukup terdelegasikan kepada pikiran bawah sadar kita.

          Jika menginginkan kebiasaan menulis yang stabil dan terduga, kita juga membutuhkan lingkungan yang stabil dan terduga. Lingkungan stabil, tempat tumbuhnya kebiasaan menulis mudah terbentuk.

***
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

Posting Komentar untuk "#10 Merancang Konteks"

Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menjadi Penulis Terampil
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com