Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#02 Mengapa kebiasaan menulis sederhana menghasilkan perubahan besar menjadi Penulis Terampil

Pendahuluan

        Telah menjadi anggapan umum, bahwa kesuksesan yang mantap menuntut aksi yang mantap pula. Menulis buku yang cetar membahana dengan membebani diri kita untuk membuat perubahan yang akan menggetarkan bumi dan menjadi viral dimana-mana.

          Sedangkan, penambahan hanya 1%, seperti menyalin tulisan, atau hanya membuat satu kalimat setiap hari - terkadang tak terasa - yang padahal penambahan tersebut lebih jauh berarti ketika dalam jangka waktu panjang. Penambahan dari suatu tulisan kecil atau ringan tetapi berlanjut dalam waktu lama bisa merupakan hal yang sangat dahsyat.

          Kebiasaan adalah seperti uang hasil dari lintah darat. Bunga berbunga. Pengaruh kebiasaan menulis menjadi berlipat-lipat sewaktu kita mengulang-ngulang kebiasaan menulis tersebut.

          Penambahan keterampilan menulis yang dihasilkan pada satu hari tertentu mungkin terkesan kecil, akan tetapi efek yang terjadi selama berbilang bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian sanggup sangat dahsyat. Ketika kita mencoba menengok ke belakang dua, lima atau mungkin sepuluh tahun yang lalu, dan membandingkan dengan saat ini terkait keterampilan menulis kita, kita melihat kenyataan yang luar biasa.

          Di keseharian kita anggapan tersebut terkadang sulit diterima. Kita sering tak mengindahkan perubahan-perubahan kecil karena memang mengesankan gak penting banget untuk saat itu. Jika kita menabung sedikit uang sekarang, kita tidak langsung menjadi jutawan. Jika kita belajar bahasa Arab selama 2 jam sekarang, kita tidak serta merta berhasil menguasai bahasa Arab. Kita telah berusaha melakukan perubahan, akan tetapi hasilnya tak pernah langsung terlihat. Ujung-ujungnya kita mudah kembali ke rutinitas semula, dan tidak melanjutkan usaha tersebut.

          Kabar buruk yang lebih mengenaskan adalah, bahwa perubahan jangka panjang tersebut membuat kita membiarkan kebiasaan buruk terjadi. Bagaimana tidak? Pikiran sadar kita lebih mudah untuk melakukan hal-hal yang jelek dari pada yang baik. Jika kita hari ini baru mulai belajar merokok, paru-paru kita memang tidak langsung rusak. Bila anak kita pertama kali makan snack yang tidak sehat, juga hari itu tidak langsung sakit. Jika kita bekerja lembur dan mengabaikan anak-anak dan keluarga, hari itu juga mereka akan memaafkan kita. Jika kita menunda pekerjaan, tentu masih ada hari esok.

          Keburukan-keburukan tersebut mungkin hanya 1% dari seluruh kehidupan kita. Namun, jika kita mengulang-ulang kejelekan yang hanya 1% tersebut, hari demi hari, kita melakukan keputusan-keputusan buruk, merepetisi kesalahan-kesalahan kecil, itu semua akan bunga berbunga yang akan mengantarkan kepada masalah besar.

          Akibat yang terjadi karena suatu perubahan dalam suatu kebiasaan kita, bisa diibaratkan pengaruh pengubahan arah suatu perjalanan di suatu padang pasir meskipun hanya beberapa derajat.

         Misalkan kita berjalan kaki dari kota Madinah menuju ke selatan ke kota Makkah. Lalu ketika kita mulai beranjak dari Madinah, mengubah arah 1 derajat lebih ke barat sedikit. Kita tidak akan sampai di Makkah, tetapi yang kita temui adalah kota Jeddah yang berjarak 97 kilometer berjalan kaki dari Makkah. Perubahan kecil tersebut hampir tak terdeteksi sewaktu kita berangkat. Wajah kita mungkin hanya berputar beberapa centimenter, dan ternyata pada akhirnya kita menyimpang jauh hampir seratus kilometer dari kota tujuan, Makkah.

          Demikian pula, suatu perubahan kecil pada kebiasaan sehari-hari dapat membuat kita tiba pada target yang sangat berbeda, yang akan sangat mengejutkan kita. Memilih 1% lebih baik atau 1% lebih buruk terlihat tak ada artinya pada detik ini, tetapi dalam waktu jeda yang sangat lama, pilihan-pilihan tersebut menentukan siapa kita sekarang dan siapa kita nanti. Keberhasilan adalah produk kebiasaan sehari-hari, bukan perubahan sekali jadi seumur hidup.

          Kesimpulannya, gak penting banget  seberapa berhasilnya kita atau bahkan betapa gagalnya kita. Yang penting banget adalah apakah kebiasaan-kebiasaan kita telah menempatkan kita pada rel menuju kesuksesan atau tidak. Arah tujuan lebih utama dari hasil tujuan itu sendiri. 

          Jika kita seorang penulis, tetapi menghabiskan waktu lebih banyak dengan selain menulis, berarti kita di arah yang salah. Namun kebalikannya, jika kita bukan seorang penulis, tetapi menulis sedikit demi sedikit setiap hari, in syaa Allah kita telah berada di lintasan yang benar, walaupun pergerakannya sangat lambat. Pasti sampai, dengan izin Allah.

          Hasil-hasil kita, menunjukkan ukuran kebiasaan-kebiasaan kita. Coba kita pahami ini, kesehatan tubuh kita menunjukkan ukuran kebiasaan makan kita. Ilmu pengetahuan kita merupakan ukuran yang mengikuti kebiasaan belajar kita. Seberapa rapi rumah kita menunjukkan tingkat kebiasaan kita dalam hal beres-beres rumah.

Kita akan mendapatkan apa yang selalu kita ulangi

          Jika ingin mengetahui ke mana tujuan kita dalam menulis, yang harus kita lakukan hanya melihat keberhasilan-keberhasilan kecil menulis atau kegagalan-kegagalan kecil menulis sehari-hari. Dan ini sudah bisa menunjukkan atau seolah-olah "meramalkan" hasil 3, 6 atau bahkan 9 tahun ke depan. 

          Apakah kita, membaca buku, belajar, dan menulis sesuatu yang baru setiap hari?

          Perlagaan-perlagaan kecil seperti inilah yang akan menentukan taqdir masa depan menulis kita. Dengan izin Allah.

          Waktulah yang akan memperbesar distorsi (penyimpangan) keberhasilan atau kegagalan. Waktu yang membunga-berbungakan apapun yang kita tuangkan ke dalamnya. Kebiasaan baik berupa menulis menjadikan waktu teman baik kita. Begitu pula kebiasaan buruk atau sia-sia akan menjadikan waktu musuh dalam selimut kita.

          Coba kembali kita bedakan fakta-fakta berikut yang sangat sulit kita bantah.

          Semakin sering kita memandang diri kita adalah sosok yang tak berharga dan minder, semakin kuat pula kecenderungan kita untuk memandang hidup seperti itu, kita terjerembab dalam lingkaran tanpa ujung. Sehingga akhirnya kitapun mempunyai pikiran terhadap orang lain dengan cara begitu. Orang lain selalu kita pandang sebagai orang tak berharga, licik dan rendahan. Kita akan merasa orang-orang seperti itu ada dimana-mana.

          Sebaliknya, orang cenderung membalas perilaku kita kepada kita sesuai apa yang kita lakukan terhadap orang lain. Namun, bukan berati itu tujuan kita sesuai keimanan kita, tetap niatkan untuk balasan di negeri tanpa kematian lagi. Hanya saja faktanya demikian. Menjadi sedikit lebih ramah dalam setiap interaksi kepada orang lain akan menghasilkan jaringan hubungan yang kuat dan luas seiring dengan berjalannya waktu. 

          Bukankah Nabi kita shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, "Janganlah meremehkan kebaikan sedikitpun, walau sekedar engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah berseri." (HR Muslim no. 2626).

          Begitu pula, belajar sesuatu yang baru saat ini tidak membuat kita langsung cerdas, tetapi komitmen dan konsisten untuk belajar sampai ke liang lahad dapat mengubah diri kita. Semua kitab dan buku yang kita baca, tidak hanya mengajarkan kita sesuatu yang baru bagi kita, tetapi mereka akan membuka cara berpikir yang berbeda dari pada gagasan-gagasan lama kita. Begitulah mekanisme ilmu pengetahuan, ia bekerja dan tumbuh di atas gundukan demi gundukan. Bunga berbunga.

          Kebiasaan itu seperti sehunus pedang yang tajam di kedua bilah sisi. Kebiasaan buruk atau sia-sia mampu menebas kita sebagaimana kebiasaan baik menulis dapat membentuk diri kita.

          Kita musti, harus dan tidak boleh tidak tahu cara kerja kebiasaan menulis, cara merancangnya sesuai keinginan baik kita. Dan, bagaimana menjauhi bahaya yang menghalangi kebiasaan menulis, yaitu ancaman salah satu sisi tajam pedang kebiasaan.

***
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.

Posting Komentar untuk "#02 Mengapa kebiasaan menulis sederhana menghasilkan perubahan besar menjadi Penulis Terampil"

Menjadi Penulis Terampil
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com