Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#04 Fokus pada sistem kebiasaan menulis itu asyik

Pendahuluan

          Konsep umum yang masih berlaku sampai sekarang, cara terbaik untuk menjadi seorang penulis berida adalah menetapkan sasaran-sasaran yang jelas dan dapat dilaksanakan.

          Untuk jangka masa yang lama, ini pula pendekatan yang aku pakai terkait menulis, dulu kala. Selalu target yang musti dicapai. Aku menetapkan sasaran-sasaran dalam menulis, seperti waktu itu, aku musti membuat karya-karya tulis demi mencapai target yang diinginkan institusi perguruan tinggi tempat aku mengajar. Aku harus menulis di media-media umum sebagai prestasi keilmuan di tataran para pengampu mata-mata kuliah mahasiswa.

          Ternyata, aku berhasil membuatnya beberapa, tetapi lebih banyak gagalnya. Pada akhirnya, aku sadar bahwa hasil-hasil nyata tulisan yang aku buat hampir tak berkaitan dengan bidikan-bidikan yang aku tetapkan. Lebih tersadar lagi, bahwa hasil-hasil tulisanku itu lebih sangat terkait dengan sistem kerja menulis yang telah aku jalani.

          Lantas apa bedanya sasaran tulisan dengan sistem kerja tulisan?

          Beda banget! Sasaran, bidikan atau target tulisan adalah tentang hasil tulisan yang kita ingin raih. Sedangkan, sistem kerja adalah proses menulis yang mengantar pada hasil-hasil tersebut.

          Maka, bila kita seorang penulis, sasaran kita mungkin tulisan-tulisan artikel, feature, esai yang asyik dibaca, dan buku-buku yang inspiratif hasil tulisan kita. Sedangkan, sistem kerja kita adalah seberapa sering kita menulis, bagaimana kita mengatasi kesulitan dalam menulis, kiat-kiat kita dalam menerima umpan balik kritikan terhadap tulisan kita, sebanyak mungkin meningkatkan performa menulis terus-menerus, dan sebagainya.

          Kini ada soal jawab yang penting untuk dijawab, 
          
"Andaikata kita dengan sengaja mengabaikan sepenuhnya sasaran-sasaran kita, dan berfokus hanya pada sistem kerja dalam menulis, apakah kita akan masih berhasil?

          Sebagai contoh, kita tak mengacuhkan sasaran artikel atau buku hasil tulisan, serta fokus pada sesering mungkin kita menulis, misalkan setiap hari atau bahkan lebih dari sekali per harinya, apakah kita akan mendapatkan hasil?

          Jawabanku, "Kita akan berhasil, in sya Allah."

          Sasaran dalam menulis apapun, tak perlu terlalu pusing dipikirkan. Kita pasti sudah tahu semua, jika bukan tulisan pendek (seperti, artikel, kisah inspiratif, dan varian-variannya) atau tulisan panjang berupa berbagai jenis buku dengan tema tertentu. Namun sangatlah naif jika kita hanya menghabiskan waktu berpikir dan berpikir kapan itu semua tercipta.

          Cara yang sungguh tak dapat dibantah adalah, menulis lebih baik setiap hari. Seperti ungkapan, "Hasil tulisan akan datang mengejar kita dengan sendirinya." Dan, tentu saja ini juga berlaku untuk bidang kehidupan yang lain.

          Jika kita inginkan hasil-hasil yang lebih baik, lalaikan sasaran-sasaran kita, berganti fokuslah pada sistem kerja kita.

          Apakah lalu kita tidak menetapkan sasaran? 

          Bukan begitu maksudnya. Target itu untuk menentukan arah, tetapi sistem kerja adalah untuk mendapatkan progres kemajuan. Dan, melakukan sistem kerja lebih kita fokuskan daripada hasil.

Penulis berhasil dan penulis gagal memiliki sasaran yang sama

         Jika kita berpusat pikiran pada orang-orang yang berhasil sebagai penulis, dan menganggap mereka mempunyai sasaran-sasaran yang mantap, ini keliru. Apalagi, kita terlewat pada orang-orang yang gagal sebagai penulis - tentu saja terlewat, karena nama-nama yang gagal sebagai penulis tidaklah terkenal - , mereka tentu mempunyai tujuan yang sama dalam sasaran, tetapi tak berhasil.

         Sehingga, jika penulis yang sukses dan penulis yang gagal memiliki sasaran yang sama, dengan jelas dapat kita simpulkan bahwa, sasaran bukanlah pembeda antara penulis berhasil dengan penulis gagal.

         Bukan target menerbitkan buku yang mendorong seorang penulis menjadi ahli dalam dunia tulis menulis. Secara logika, seorang penulis tentu saja ingin menerbitkan buku, setiap bulan misalnya. Sasaran pasti ada, dan tak usah ribet dengan itu. Nah, ketika mewujudkan sistem kerja menulis kecil-kecil secara berkesinambungan, barulah kita akan mendapatkan hasil yang eminen.

Menggapai sasaran tulisan hanya perubahan sesaat

          Bayangkan, kita punya usaha penerbit buku. Sasaran kita menerbitkan buku-buku berkualitas dengan kreativitas tinggi, sehingga buku-buku itu laku keras. 

          Jika kita mendapatkan secara outsource penulis yang andal, kita akan memiliki naskah-naskah potensial untuk diterbitkan, untuk saat itu.

          Namun, jika kita mempertahankan sasaran-sasaran kita seperti disebutkan di atas, sementara kita malas mempelajari teknik yang benar membuat naskah yang kreatif, maka dalam waktu yang tak lama kita akan kebingungan mempertahankan sasaran tersebut. Kita akan kembali butuh pada penulis-penulis outsource dengan kreativitas tinggi, sementara yang demikian masih langka. 

          Masih terekam dalam ingatanku, ketika mau mencoba usaha penerbitan. Kala itu, membutuhkan penterjemah. Maka, dihubungilah seorang rekan yang juga mempunyai usaha penerbit, dengan harapan memberi informasi person yang mampu menterjemahkan kitab berbahasa Arab.

          "Wah, saya ada penterjemah, hanya saja itulah modal kami sebagai penerbit, mohon maaf jika kami keberatan memberikan informasinya."

          Betapa berharganya seorang penterjemah, atau penulis yang piawai bagi sebuah penerbit. Penulis, apalagi yang kreatif merupakan mesin penghasil bahan baku mentah bagi suatu penerbit sebagai produsen buku.

          Kita kembali ke permasalahan sasaran penerbit di atas, maka kita mengobati, tanpa mengatasi sumber penyebabnya.

          Kita akan terus mengejar hasil produk buku dengan ciri khas tersebut, tanpa mengubah atau tanpa membina personal tetap dalam penerbit untuk mendalami secara rinci teknik penulisan naskah yang kreatif. 

          Meraih sasaran produk buku, hanya menjadikan tujuan sesaat. Itu lawan dari pertumbuhan. Kita mengira yang perlu dipertahankan adalah ciri khas produk buku, padahal masalahnya bukan pada hasil.

          Yang perlu ditata dan dibangun adalah sistem-sistem dalam penerbit yang menyebabkan hasil-hasil buku yang berkarakter. Ketika kita fokus di hasil, kita memecahkan masalah bersifat sementara. Agar kita konsisten pada hasil lebih baik, justru kita penting memecahkan masalah di tingkat sistem produksi. Betulkan masukan, maka keluaran otomatis akan menjadi benar dengan sendirinya.

Sasaran memenjarakan kebahagiaan sebagai penulis

          Senja temaram yang sama dengan senja-senja yang lain di ibukota. Bising klakson kendaraan, hangatnya hawa knalpot, dan bau sangit asap legam bis kota. Aku sedang berada di atas sadel grand bulusku menunggu hijaunya lampu lalu lintas di persimpangan kompleks perumahan para menteri kabinet di bilangan Rasuna Said, Kuningan. 

          "Koran, koran ... Harian Terbit!" teriakan tukang jual koran, yang memang sejak tadi mataku mencari-cari sumber teriakan.

          "Koran!" panggilku menjerit.

          Tukar menukar uang dan koran barupun, cepat berlangsung. Koran baru serta merta telah dalam gengaman tanganku.

          Lampu hijau masih lama akan menyala, langsung aku buka lembaran tengah harian tersebut. Benar saja, tulisan opiniku terbit di koran tersebut, Jum'at 2 Mei 2003, aku terbahagia.

          Mendahulukan sasaran menjadi masalah kejiwaan tentang kebahagiaan sebagai penulis. Kita sering terjebak dengan hal tersebut.

          Bertahun-tahun kebahagiaan berupa terbitnya suatu tulisan di media massa menjadi obsesi kenikmatan di masa yang akan datang bagiku. Ketika itu terwujud di suatu harian umum ibukota, aku tanpa sadar agak terhenti dalam kegiatan menulis. Aku terperangkap dalam batasan-batasan.

          Lebih dari itu semua, sasaran menimbulkan konflik dalam jiwa kita. Jika kita berhasil, kita akan senang, sedangkan bila gagal kita akan kecewa. Kita seolah-olah terpenjara dalam kerangkeng kebahagiaan yang terbatas. Ini membuat pandangan kita tentang kebahagiaan, picik dan kerdil.

          Membatasi kebahagiaan kita hanya  berdasarkan satu jalur dunia menulis, ini hal yang sempit. Di lain pihak, ternyata masih banyak koridor kreativitas bentuk tulisan lain yang dapat ditempuh demi meraih kesuksesan.

          Lawan dari itu semua, adalah mengutamakan sistem kerja menulis. Ketika kita menikmati proses menulis, bukan produk tulisan, kita tak perlu menunggu untuk sampai pada batas tertentu baru bahagia. 

          Kita akan merasa asyik kapanpun ketika kegiatan menulis berjalan. Bahkan proses menulis itu mampu menghasilkan kesuksesan dalam ragam yang tak terbatas, sebagaimana tak terbatasnya kreativitas dalam tulisan.

Sasaran menulis tak selaras dengan kemajuan keterampilan menulis dalam jangka waktu tak terbatas

          Pada ujungnya, pola pikir berkiblat pada sasaran dapat menciptakan efek "selesai". Banyak orang belajar dan berlatih menulis, mengikuti kelas-kelas pelatihan menulis, berlomba dalam perlombaan menulis, bahkan sampai membuat buku bareng antologi. Namun, ketika telah lulus dari pelatihan, memenangkan lomba dan menerbitkan buku antologi, setelah itu mereka berhenti menulis.

Ketika seluruh kesungguhan menulis mereka difokuskan pada sasaran tertentu, apa yang tersisa untuk mendorong kemajuan menulis mereka setelah sasaran tercapai? 

          Maka dari itulah, banyak yang tadinya penulis, kemudian berguguran meninggalkan kebiasaan menulis setelah sasaran tulisan tercapai.

          Tujuan menetapkan sàsaran menulis adalah terbitnya buku, misalnya. Namun, tujuan membangun sistem kerja menulis adalah terus berprestasi dalam dunia menulis. Pola pikir jangka panjang, bahkan tanpa batas waktu adalah berpikir tanpa terlalu fokus pada sasaran tunggal. Selalu bicara tentang siklus kemajuan keterampilan menulis terus menerus tiada akhir.

          Komitmen kita terhadap proses kebiasaan menulislah yang akan menentukan kemajuan keterampilan menulis kita. (ibman)

***
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Sederhana itu Lebih - Less is More. Desain bukanlah menambah-nambah biar berfungsi, tetapi desain adalah menyederhanakan agar berdaya guna.

Posting Komentar untuk "#04 Fokus pada sistem kebiasaan menulis itu asyik"

Menjadi Penulis Terampil
Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com