Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Hanya 4%

           Mengapa sebagian orang, mampu bertahan pada kebiasaan-kebiasaan menulis? Padahal kita tahu sendiri, bahwa kebanyakan kita sulit untuk tetap termotivasi.

           Bagaimana kita bisa merancang kebiasaan-kebiasaan menulis yang membuat kita semakin tertarik, bukan malah menjauh?

          Para ahli nenemukan, bahwa mempertahankan motivasi dan hasrat yang memuncak adalah mengerjakan tugas dengan tingkat kesulitan yang masih terkendali.

          Bagaimana maksudnya?

          Pikiran manusia menyukai tantangan, tetapi hanya ketika dalam zona kesulitan optimal. Bila kita suka bermain futsal, dan bermain melawan anak-anak berusia 5 tahun, kita akan segera merasa bosan. Selalu menang, terlalu mudah. Sebaliknya jika kita melawan pemain-pemain bola tingkat nasional, kita akan segera kehilangan semangat karena kesulitan mengalahkannya.

         Nah, sekarang kita coba bermain futsal melawan team yang setara. Selama pertandingan kita akan menang beberapa angka, dan kehilangan beberapa angka. Kita punya peluang baik untuk menang jika kita sungguh-sungguh berusaha. Fokus team kita menguat. Perhatian team kita tak mudah teralihkan, dan tertarik sepenuhnya apa yang sedang dihadapi. Inilah yang namanya tantangan, tetapi dengan tingkat kesulitan yang masih terkendali.

          Manusia mengalami motivasi puncak ketika sedang mengerjakan tugas-tugas yang tepat berada di tepi luar sedikit kemampuannya saat ini. Menurut penelitian tugas harus kira-kira 4% di atas kemampuan saat ini. Tidak terlalu sulit, tidak terlalu mudah. Pas.

          Bagaimana dengan menulis?

          Untuk itulah perlunya kita petakan adanya fase-fase tingkatan dalam melatih kebiasaan menulis. Ada fase dasar 1, fase dasar 2 dan fase lanjutan. Kembali mengingatkan, bahwa:
          
          ✓ Dasar 1 adalah fase jika kita merasa belum mahir membuat kalimat. Maka, yang penting kita lakukan adalah sesering mungkin berlatih menyalin tulisan-tulisan yang kita sukai. Seperti ayat Kitab Suci dan tafsirnya, hadits dan syarahnya, perkataan-perkataan Salafush Shalih, dan sebagainya. Atau di bidang dunia, kita bisa menyalin ulang tulisan-tulisan bidang marketing, branding, motivasi bisnis, dan sebagainya. Selanjutnya bisa meningkat, dilatih menulis suatu paragraf, dimana paragraf yang akan kita salin, kita baca dulu, dipahami, lalu kita tulis ulang dengan menutup atau tanpa melihat paragraf tersebut.
          
          ✓ Dasar 2 adalah fase jika kita telah merasa mampu membuat paragraf, dan pernah mencoba membuat suatu tulisan artikel. Hanya saja di sini kita masih menulis hanya menggunakan semangat dan hasrat, belum mengetahui struktur tulisan yang benar. Maka, kita hendaknya tetap dalam kebiasaan menulis, tetapi sudah mulai mempelajari dan meperbaiki struktur tulisan kita sesuai bentuk wacana tulisan yang benar.
          
          ✓ Lanjutan adalah fase bila kita telah merasa sanggup menulis suatu artikel (baca: eksposisi) dengan struktur yang benar. Maka, kita mulailah mengembangkannya dalam varian-varian bentuk wacana tulisan yang beragam. Memadukan antara bentuk deskripsi, eksposisi, bahkan kisah (narasi). Bentuk-bentuk wacana tulisan seperti Feature (dibaca ficer), Profil, Perjalanan, Kisah Inspiratif nonfiksi, Biografi Inspiratif nonfiksi, New Journalisme atau Jurnalisme Sastra, dan sebagainya. Sehingga tulisan-tulisan kita menjadi tidak membosankan dan asyik dibaca.
          
          Masing-masing orang bisa mengukur dirinya, "Apakah aku termasuk fase mana?". Dengan mengetahui termasuk fase mana, maka kita akan dalam kondisi optimal "dengan tingkat kesulitan yang masih terkendali". Kita akan melakukan kebiasaan menulis pada fase tidak terlalu mudah, tidak pula terlalu sulit. 
          
          Kita tidak menzalimi diri kita. Kita menempatkan diri kita sesuai kadar kita.
          
          Jangan pula memberatkan diri kita memaksakan untuk bisa pada tingkat lanjutan, padahal kita tahu kadar kemampuan menulis kita baru pada tingkat dasar 1, misalnya. Sehingga kita kesulitan, dan akhirnya patah arang, putus semangat. Begitu pula sebaliknya.

          Ikuti saja prosesnya. Fokus pada kebiasaan menulis sesuai fasenya terus-menerus, suatu saat nanti secara alami kita akan berpindah dari fase satu ke fase lainnya, tanpa terasa. Bahkan mungkin kita lupa bahwa saat itu masih belajar menulis terus, padahal telah ahli.
          
          Ingat, kesulitan terkendali, yang akan menjadikan tantangan yang masih mampu kita lewati adalah hanya 4% di atas kemampuan kita saat ini.
          
          Agar apa? Supaya konsisten, dan terjaga motivasi menulis kita. (ibman)
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

Posting Komentar untuk "Hanya 4%"

Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menjadi Penulis Terampil
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com