Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#16 Aksi Dua Menit

PEDOMAN KETIGA

Menjadikan AKSI 
Kebiasaan Menulis MUDAH

           Kebiasaan adalah perilaku otomatis yang akan mempengaruhi keputusan-keputusan sadar berikutnya. Saking otomatisnya, kebiasaan bisa dituntaskan dalam beberapa menit bahkan hanya dalam beberapa detik. Namun, kebiasaan juga dapat membentuk atau melanjutkan kepada aksi-aksi berikutnya beberapa menit, bahkan dalam hitungan jam.

          Kebiasaan bagaikan pintu tol menuju jalan tol bebas hambatan. Pintu itu tanpa sadar menggiring kita beralih dengan cepat ke perilaku berikutnya. Dan, tentu rasanya lebih mudah melanjutkan apa yang sudah dimulai dari pada langsung melakukan sesuatu yang sulit.

          Contoh saja, terkadang kita hanya berniat buka ponsel "sebentar saja", ternyata bisa berlanjut menjadi setengah jam, buka ini buka itu. Begitu pula, misalnya kita ingin "ngemil sedikit", ternyata tanpa terasa toples camilan sekonyong-konyong melompong, habis tanpa tersisa. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan tanpa berpikir, ternyata bisa berlanjut kepada perilaku yang lebih banyak dalam hal waktu maupun perbuatannya.

          Hal ini, sejatinya telah kita alami sejak kecil. Ketika kita berusia setingkat Sekolah Dasar, kita hanya tahu pagi-pagi mandi, sarapan, memakai seragam sekolah, kaus kaki, sepatu, lalu bawa tas sekolah. Kita waktu itu tak tahu atau tepatnya tak memikirkan, sampai di kelas sekolah kita akan belajar, pun belajar apa saja. Kita hanya melakukan "ritual rutinitas" yang kita lakukan di pagi hari seperti yang telah disebutkan di atas. Dan, ternyata ritual tersebut menjadikan kegiatan yang lebih penting sebagai lanjutannya.

          Setiap hari, selalu ada momen yang akan berlanjut dan memberikan hasil yang lebih besar. Aksi-aksi yang kecil tersebut merupakan momen-momen yang menentukan. Seperti, 
  • momen ketika kita memutuskan masak sendiri atau membeli makanan di luar, 
  • memilih mengendarai mobil atau sepeda motor ketika ke luar ingin membeli untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, 
  • momen memilih mengerjakan tugas dari pengajar atau ngopi sambil ngobrol dengan teman-teman. 
          Keputusan memilih yang mana, akan menemui jalan-jalan bercabang yang berbeda. Bisa baik, bisa buruk.

          Perbedaan hari baik maupun hari buruk seringkali ditentukan oleh pilihan momen pertama yang menentukan. Setiap pilihan menentukan lintasan yang kita ambil pada detik-detik berikutnya. Setiap momen pertama akan berlanjut seperti jalan bercabang, bertumpuk-tumpuk. Dan, akhirnya mengantarkan kita pada hasil-hasil yang sangat berlainan.

Aksi dua menit

          Aku memulai profesiku sebagai desainer rumah alias arsitek, setiap hari dengan suatu "ritual". Apakah itu? Setelah mandi pagi, aku duduk di kursi kerjaku, dan menyalakan laptopku. Ritualku bukan mendesain rumah, tetapi menyalakan laptop. Begitu laptop telah menyala, maka ritualku telah terlaksana. Itu adalah aksi ringan, tetapi aku lakukan berulang-ulang setiap pagi setelah mandi, yang akhirnya menjadi kebiasaan dan tentu mudah dikerjakan. Kemudahan tersebut, mengurangi kemungkinan aku melewatkannya dan mengganti dengan perilaku lainnya. Dan, aku tak usah memikirkannya, karena telah otomatis terjadi.

          Proses duduk di kursi kerja, dan menyalakan laptop sampai siap dipakai, mungkin hanya sekitar dua menit. Aku tak peduli setelah itu mengerjakan apa. Karena jika dipikir dari awal musti mendesain rumah, maka pikiranku akan sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang akan dihadapi. Jika menemui tugas yang diberi cukup mudah, mungkin tak terlalu pengaruh dalam memulainya. Namun, jika aku sudah tahu tugas untuk kali itu cukup sulit dan rumit, tentu boleh jadi belum apa-apa aku enggan menyalakan laptop. Ah, nanti-nanti saja, habis ruwet sih.

          Oleh sebab itu, aku punya ritual dua menit menyalakan laptop tersebut. Selanjutnya? Biarkan berjalan dengan sendirinya. Ini akan lebih mudah untuk tugas yang lebih sulit selanjutnya.

          Kita akan mendapatkan, hampir setiap kebiasaan terkait menulis bisa diubah menjadi aksi dua menit.

Membaca buku atau kitab setiap habis shalat Isya bisa kita ubah menjadi membaca satu halaman.
✓ Mengetik atau menulis kata-kata mutiara para ulama bisa kita ubah menjadi menulis sebuah kata mutiara ulama.
Menulis satu artikel tulisan bisa kita ubah menjadi menulis satu paragraf atau membuat kerangka tulisan.
Menulis suatu kisah inspiratif hari ini, bisa kita ubah menjadi mencatat ide tulisan hari ini.
Memposting tulisan disertai image dan mempublishnya, bisa kita ubah menjadi hanya memposting postingan.
✓ Dan sebagainya.

          Idenya adalah  membuat kebiasaan menulis dimulai semudah mungkin. Kebiasaan menulis tidaklah harus semacam tantangan. Aksi-aksi menulis berikutnya mungkin menyulitkan, tetapi 
dua menit pertamanya musti mudah. 

   Yang musti kita lakukan adalah kebiasaan pembuka menulis, yang secara wajar menggiring kita ke arah yang lebih berliku.

          Kebiasaan menulis dapat kita petakan sebagai berikut:
          ✓ Sangat mudah: menulis satu kalimat.
          ✓ Mudah: menulis satu paragraf.
          ✓ Cukup mudah: menulis seribu kata.
          ✓ Sulit: menulis artikel sebanyak lima ribu kata.
          ✓ Sangat sulit: menulis buku.

          Lalu, jika bisa mulai dari yang mudah dahulu, mengapa harus mulai dari yang sulit?

          Kitapun terkadang merasa aneh, tiba-tiba bersemangat membaca beberapa halaman setelah membaca satu halaman. Menulis satu ber paragraf-paragraf setelah menulis satu paragraf. Rupanya pikiran kita itu seperti mesin mobil. Ketika pertama dinyalakan masih dingin dan belum dijalankan, tetapi lambat laun mesin mulai panas, dan mobil siap dijalankan kemana maunya pengemudi.

          Dengan demikian, kita tak akan memulai kebiasaan menulis apapun, jika berpikir kita musti bisa menulis dahulu. Namun, yang paling penting di sini adalah menguasai kebiasaan memulai sesuatu. Dan, sesuatu itu adalah keterampilan menulis. Kebiasaan menulis harus dimulai sebelum disempurnakan. Namanya "kesempurnaan" tentu dimulai dari sesuatu yang tidak sempurna atau belum sempurna. Kemudian lambat laun bertransformasi menjadi sempurna. Hal ini sangat dipahami oleh kita, siapapun kita, dan di bidang apapun. Betul gak?

          Jika kita tidak sanggup meyakini dasar memulai kebiasaan menulis, kecil harapan kita untuk menguasai detail-detail keterampilan menulis tingkat berikutnya. Kita harus melakukan kebiasaan menulis versi mudahnya secara konsisten, sebelum melakukan optimalisasi, varian-varian, bahkan menuju modifikasi tulisan.

          Kita mungkin tak sanggup mengotomatiskan seluruh proses kebiasaan menulis, tetapi kita bisa menjalankan aksi pertama menulis tanpa dipikir. Jadikan permulaan menulis lebih mudah, maka selanjutnya akan berjalan dengan sendirinya.

          Mungkin kita beranggapan bahwa, aksi dua menit ini seolah-olah kita membohongi diri kita sendiri. Karena, sebetulnya kita tahu target kita adalah melakukan penulisan melebihi waktu dua menit. Nah, sekarang kita bertanya pada diri kita sendiri, "Jika kita tahu ini hanyalah trik psikis, mengapa kita mau mengulanginya?"

          Lalu, bisa juga dalam pikiran kita mengatakan, "Aksi dua menit ini, maksa banget deh." Maksudnya, "dipaksa-paksakan", atau "dicari-cari pembenarannya". Maka, cobalah kita melakukan kebiasaan menulis, entah membaca, atau menulis atau kebiasaan menulis lainnya hanya selama dua menit lalu berhenti. Sepertinya kita sulit untuk berhenti. Pikiran sudah memanas. Dan terbukti bahwa aksi dua menit ternyata bukan strategi untuk memulai, tetapi aksi untuk keseluruhan kebiasaan menulis.

          Menulis setiap hari, ayat-ayat Al-Qur'an dan tafsirnya, atau menulis kata-kata mutiara ulama, atau bahkan menulis buku harian (diary) sekalipun, hampir setiap orang mendapatkan manfaat dari itu semua. Namun, dengan berjalannya waktu, kebanyakan orang menyerah dan berhenti, karena menganggap itu seperti kewajiban atau beban.

          Lalu bagaimana sebaiknya agar konsisten?

          Caranya, itu semua dapat selalu kita lakukan ketika berada pada posisi di bawah titik sebelum kegiatan menulis terasa seperti beban atau kewajiban. Kita harus berhenti menulis sebelum kegiatan menulis itu terasa seperti beban. Kita dapat menulis diary cukup satu kalimat tentang hari yang telah kita lewati.

          Bukankah ada pedoman "Jika tak bisa menjalankan keseluruhan, jangan ditinggal semuanya." 
  • Lebih baik menulis satu kalimat dari pada tidak menulis sama sekali. 
  • Lebih baik membaca satu paragraf dari pada tidak mengambil buku sama sekali. 
  • Lebih baik melakukan sedikit, dari pada apa yang banyak kita harapkan sama sekali tidak dilakukan.
          Contoh pembentukan kebiasaan menulis:

  • Fase 1, menyalin kata-kata mutiara ulama dari beberapa buku atau beberapa kitab, jika mampu menterjemahkan. Jika di bidang dunia, bisa menyalin kalimat-kalimat motivasi wira usaha.
  • Fase 2, mencoba menulis paragraf, 
          ✓ baik berbentuk deskriptif (penggambaran) suasana suatu ruangan atau lingkungan. 
          ✓ Atau paragraf suatu kronologis suatu kejadian. 
          ✓ Bisa juga paragraf deduktif (kalimat pokok di awal paragraf).
Jika masih bingung, bisa kita menulis suatu paragraf tulisan seseorang yang telah jadi, tetapi dengan cara kita baca dulu, pahami, lalu tulis ulang tanpa melihat paragraf yang telah jadi tersebut.
  • Fase 3, mencoba menulis wacana tulisan berbentuk Eksposisi. Rancang kerangkanya lebih dahulu, baru setelah itu tulis paragraf-paragrafnya dengan patokan kerangka tersebut. Lebih lengkapnya bisa baca buku "Menulis Artikel Asyik Dibaca".
  • Fase 4, mencoba menulis Artikel dari eksposisi yang telah kita tulis dengan menyelipkan fakta-fakta kejadian yang mendukung opini eksposisi tersebut sebagai penguat argumentasi-argumentasinya.
  • Fase 5, mencoba menulis varian-varian Artikel seperti, Profil, Artikel Perjalanan, Feature, dan sebagainya.
  • Fase 6, mencoba menulis Kisah Inspiratif. Untuk latihan perdana, bisa memakai tokoh utama kita sendiri, tetapi namanya disamarkan.
         Ingat setiap meningkat ke fase berikutnya, selalu dimulai dengan aksi dua menit. Karena sejatinya aksi dua menit adalah aksi keseluruhan.

***
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

Posting Komentar untuk "#16 Aksi Dua Menit"

Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menjadi Penulis Terampil
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com