Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#02 Deskripsi dan Pencerapan

           Deskripsi Impresionistis mempunyai kaitannya yang erat dengan keadaan, sifat dan penampakan sesuatu di dunia kita. Artinya sesuatu itu mampu dicerap oleh pancaindera kita, maka perlu dijelaskan pengertian pencerapan pancaindera.

          Jika ada seseorang mengatakan, "Pohon itu sangat rindang." Maka, perkataan tersebut menjelaskan kepada kita bahwa indera penglihatannya mencerap pohon tersebut dengan sifat dan ciri-ciri khusus yang disebut "rindang". Contoh lain, seperti pernyataan-pernyataan "murottal itu sangat merdu, bunga itu semerbak baunya, kopi itu amat pahit, kasur itu empuk" dan sebagainya. Penyampaian-penyampaian tersebut berturut-turut mengungkapkan kepada kita cerapan pancaindera kita dalam hal pendengaran, penciuman, perasa (lidah), dan peraba (kulit).

          Namun, pernyataan-pernyataan tersebut masih terlalu global, dan belum tentu bisa dimasukkan dalam kategori pemerian atau deskripsi. Mengapa demikian? Karena belum mampu menciptakan perasaan dan interpretasi dalam diri pembaca, tentang ciri-ciri, sifat dan hakikat objek yang dideskripsikan.

          Mengapa suatu pohon disebut "rindang"?
✓ Bagaimana taraf kerindangannya?
✓ Berapa jumlah cabang-cabangnya?
✓ Berapa panjang dahan-dahannya?
✓ Bagaimana peranan dedaunannya terhadap pohon tersebut?
          Sehingga, seluruhnya dapat terwujud pada sebatang pohon yang "rindang".

          Suatu objek deskripsi tidak hanya terbatas pada apa yang sanggup dilihat, didengar, dicium, dirasa atau diraba. Namun, kita mampu pula mengadakan deskripsi dengan perasaan hati. Boleh jadi perasaan yang timbul terhadap suatu objek deskripsi berupa: ketakutan, kecemasan, keengganan, kejijikan, cinta, terharu, benci, dendam, dan sebagainya.

          Suasana perasaan dapat timbul dalam suatu peristiwa, semisal keadaan perasaan yang timbul oleh sangat panasnya terik matahari, atau dinginnya musim dingin yang mencekam. Seluruhnya bisa dideskripsikan secara cermat oleh seorang penulis yang terampil. Lebih dari itu, ia sanggup mengungkapkan apa yang dipikirkan atau direncanakan akibat kondisi perasaan yang tersulut.

          Seorang penulis yang piawai tak akan merasa puas dengan pernyataan-pernyataan yang umum. Bahkan, jika perlu ia justru menghindari kata-kata umum tersebut seperti "rindang", "merdu", "semerbak", dan sebagainya. Oleh sebab itu, deskripsi menghendaki pengamatan suatu objek dengan cermat dan tepat. Penulis musti menyajikan rincian-rincian dengan memanfaatkan pengalaman-pengalaman faktualnya, sehingga tampak objek tersebut benar-benar hidup di pikiran para pembaca.

          Contoh saja, "bunyi yang nyaring" tidak dideskripsikan bunyi yang nyaring saja, tetapi musti didetailkan ke dalam berbagai nuansa, sesuai karakter dan sifat bunyi yang dicerap oleh pendengaran. Bunyi yang nyaring tersebut, bisa diungkapkan dalam beragam bentuk berbeda, sesuai sifatnya. Seperti:
✓ dentum
✓ degam
✓ degar
✓ gedebuk
✓ gemerincing
✓ gerdam
✓ pekik
✓ lolong
✓ raung
✓ ratap
✓ jerit
✓ teriak
✓ dan sebagainya.

         Demikian pula untuk pencerapan pancaindera yang lain, bisa dirinci seperti contoh di atas.
         Maka, dalam mengolah suatu deskripsi yang baik, dituntut dua perkara:
  1. Kemampuan berbahasa dari sang penulis, yang kaya akan nuansa dan bentuk.
  2. Kecermatan pengamatan dan ketelitian penyelidikan.
         Dengan kedua hal tersebut, seorang penulis sanggup menggambarkan objek dengan rangkaian kata-kata yang penuh makna dan tenaga. Sehingga para pembaca dapat menerima penggambaran penulis seolah-olah mereka melihat sendiri dihadapan mereka.

          Diksi atau pilihan kata yang tepat dapat menciptakan gambaran yang hidup dan segar dalam imajinasi pembaca. Kata-kata khusus dapat mewakili perbedaan-perbedaan yang sangat kecil dan halus dari apa yang dicerap oleh pancaindera. Bersamaan itu pula, perbedaan yang sangat rinci itu mustilah membentuk satu kesatuan yang kompak tentang objek tersebut.

          Mungkin kita ingat di dalam bentuk wacana tulisan Kisah Impresionistis, juga ada istilah show don't tell. Dimana, itu merupakan teknik bercerita secara rinci tentang tindak-tanduk seorang tokoh dalam kisah tersebut. Perbuatan seorang tokoh mampu dipecah atas komponen-komponen perbuatan. Dan, komponen-komponen perbuatan itu dirangkai dalam satu kesatuan perbuatan. Sehingga para pembacapun bisa menyerap kalimat-kalimatnya di dalam pikiran. Tujuannya sama, yaitu menstimulus imajinasi atau daya khayal para pembaca.

          Demikian pula Deskripsi Impresionistis, hanya saja perbedaan yang didetailkan bukan perbuatan, akan tetapi sifat, ciri-ciri dari suatu objek.

***
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

Posting Komentar untuk "#02 Deskripsi dan Pencerapan"

Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menjadi Penulis Terampil
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com