Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#01 Saling bersaing menolak jabatan (24 H)

Petunjuk membaca: setiap kata atau kalimat yang linknya menyala, berarti telah diposting sejarah secara rinci, biografi, atau kisahnya. Silahkan KLIK /TAP link tersebut untuk lebih lanjut membaca.

Kemudian tibalah tahun 24 H

        Di awal-awal tahun ini Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu dikuburkan pada hari Ahad, menurut salah satu pendapat. Tiga hari kemudian Amirul Mukminin Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu dibaiat.

Kekhalifahan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu

Peristiwa terpilihnya Utsman bin Affan sebagai khalifah 

    Dahulu Umar bin Al-Khathathab telah memutuskan urusan (pemilihan khalifah sepeninggalnya) menggunakan sistem musyawarah antara enam orang. Keenam oarang itu adalah, 

  1. Utsman bin Affan, 
  2. Ali bin Abi Thalib, 
  3. Thalhah bin Ubaidillah, 
  4. Az-Zubair bin Al-Awaam, 
  5. Sa’ad bin Abi Waqqash, dan 
  6. Abdurrahman bin Auf –semoga Allah meridhai mereka semua-. 
            Keputusan pun dikeluarkan untuk menyerahkan urusan khilafah kepada salah satu dari mereka dengan ditunjuk langsung. 

            Umar mengatakan, “Aku tidak mungkin akan memikul urusan kalian selama hidup dan mati, kalau Allah menginginkan kebaikan untuk kalian, Allah akan menghimpun kalian untuk memilih yang terbaik dari mereka (berenam), sebagaimana Allah telah menghimpun urusan kalian kepada orang terbaik diantara kalian setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam."

    Karena kesempurnaan sikap wara’ Umar, beliau tidak menyebutkan Sa’id bin Zaid bin Nufail dalam deretan Ahlu Syura. Sebab, Sa’id adalah sepupu beliau. Umar khawatir kalau Sa’id nanti diangkat sehingga dia menjadi pemimpin dengan alasan dia adalah sepupunya, oleh karenanya Umar tidak menyebutkan nama Sa’id. Padahal, Sa’id termasuk dari sepuluh orang yang dipersaksikan dengan Jannah (Syurga). Bahkan disebutkan dalam riwayat Al-Mada’ini dari syaikh-syaikhnya, bahwa Sa’id dikecualikan dari mereka berenam. 

            Umar berkata, “Aku tidak akan memasukkannya dalam daftar bersama mereka.” 

            Umar juga berkata kepada Ahlu Syura, “Abdullah -yakni putra beliau- juga akan hadir di tengah-tengah kalian namun dia tidak memiliki kewenangan sedikitpun di situ. Kehadirannya hanya untuk memberi arahan dan dia tidak bisa seenaknya mengatur apapun.”

    Umar juga memberi wasiat agar yang menjadi imam shalat adalah Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi selama tiga hari sampai musyawarah selesai , Ahlu Syura harus berkumpul, rakyat hendaknya menyerahkan semuanya kepada mereka berenam sampai urusannya tuntas. Umar juga mewakilkan kepada lima puluh orang muslim untuk menangani rakyat. Beliau juga menunjuk Abu Thalhah Al-Anshari dan Al-Miqdad bin Aswad Al-Kindi untuk menyemangati rakyat. 

            Umar bin Al-Khaththab berkata, “Aku yakin, tidak seorangpun akan berpaling dari Utsman dan Ali. Keduanya dahulu telah mencatat wahyu di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wahyu yang turun dibawa Jibril untuk beliau."

    Para ulama mengatakan, “Tatkala Umar telah meninggal –semoga Allah meridhai beliau-, lalu jenazah beliau dihadirkan; Utsman dan Ali bergegas menghampiri jenazah beliau, siapakah diantara keduanya yang akan bertindak menjadi imam? 

            Maka, Abdurrahman bin Auf mengatakan kepada keduanya, “Kalian berdua tidak memiliki hak sedikitpun dalam hal ini. Ini adalah hak Shuhaib yang telah Umar perintahkan untuk mengimami manusia.” Shuhaib pun maju lalu mengimami shalat jenazah. Shuhaib jualah yang turun ke liang kubur bersama putra beliau Abdullah dan Ahlu Syura kecuali Thalhah, saat itu Thalhah tidak hadir di situ.

    Tatkala prosesi pemakaman Umar usai, Al-Miqdad mengumpulkan Ahlu Syura di rumah Al-Miswar bin Mahramah. Ada yang berpendapat di ruangan milik Aisyah, dikatakan pula bahwa itu di Baitul Mal. Ada juga yang berpendapat di rumah Fathimah binti Qais saudarinya Adh-Dhahhak bin Qais. Namun, pendapat yang pertama lebih mendekati kebenaran, wallahu a’lam. 

            Maka, merekapun duduk di rumah (Al-Miswar), Abu Thalhah pun berdiri menyelubungi mereka. Lalu datanglah Amr bin Al-Ash dan Al-Mughirah bin Syu’bah keduanya duduk di balik pintu. Sa'ad bin Abi Waqqash pun melempari dengan kerikil dan mengusir  keduanya sembari berkata, “Kalian berdua datang supaya kalian berdua bisa mengatakan, 'Kami juga mengikuti rapat Ahlu Syura.' ” Diriwayatkan oleh Al-Mada’ini dari guru-gurunya. Wallahu a’lam tentang keabsahan kisah ini.

    Intinya, bahwa orang-orang telah menyerahkan urusan mereka kepada yang ada di dalam rumah tersebut untuk memusyawarahkan urusan mereka. Maka, banyak pembicaraan dan suara-suara bersahutan dengan keras. 

            Abu Thalhah berkata, “Aku berpikiran bahwasannya kalian akan saling bersaing menolak jabatan ini, dan aku tidak berpikiran bahwa kalian akan saling berlomba mendapatkannya.” 

            Setelah kedatangan Thalhah, maka tiga orang mencabut diri dan menyerahkannya kepada tiga yang lainnya. Az-Zubair lebih memilih menyerahkan haknya kepada Ali, adapun Sa’ad menyerahkan haknya kepada Abdurrahman bin Auf, sementara Thalhah memberikan haknya kepada Utsman bin Affan. 

            Abdurrahman pun berkata kepada Ali dan Utsman, “Siapa diantara kalian berdua yang ingin mengundurkan diri, sehingga kami akan menyerahkan kepada yang ingin. Allah dan Islam baginya, sesungguhnya Ia akan menyerahkan urusannya ini kepada yang paling utama dari kedua orang yang masih tersisa ini.” 

            Keduanya Ali dan Utsman hanya terdiam saja. 

            Maka, Abdurrahman, berkata “Aku juga akan meninggalkan hakku dalam urusan ini. Demi Allah, wajib bagiku untuk berusaha sekuat tenaga agar aku bisa mengangkat orang yang paling utama di antara kalian berdua dengan kebenaran."

            Keduanya menjawab, “Baiklah.” 

            Lalu, Abdurrahman berbicara kepada keduanya dengan menyebutkan keutamaan yang dimiliki masing-masing, Abdurrahman juga mengambil janji, bilamana salah satu dari mereka dilantik maka dia harus berlaku adil, dan yang tidak terpilih maka dia harus mendengar dan taat kepada yang terpilih. 

            Keduanya menjawab, “Baik.” Kemudian merekapun bubar.

    Diriwayatkan (menurut versi lain), bahwa Ahlu Syura menyerahkan keputusan kepada Abdurrahman bin Auf, agar beliau bisa memilih dengan sekuat tenaga orang yang paling utama untuk memimpin kaum muslimin. Maka, dikatakan bahwa Abdurrahman bertanya kepada yang memungkinkan untuk diwawancarai dari Ahlu Syura dan selainnya. 

            Abdurrahman tidak mengisyaratkan kecuali kepada Utsman, sampai-sampai Abdurrahman berkata kepada Ali, “Bagaimana pendapatmu jika aku tidak menyerahkan kursi kepadamu, lalu siapa yang akan kamu isyaratkan kepadaku?” 

            Ali menjawab, “Kepada Utsman.” 

            Abdurrahman juga bertanya kepada Utsman, “Bagaimana jika aku tidak menyerahkan kepemimpinan kepadamu, kepada siapa engkau akan menyarankan?” 

            Utsman menjawab, “Kepada Ali bin Abi Thalib.”

    Tetapi yang nampak, bahwa ini terjadi sebelum urusan kekhilafahan hanya terbatas pada tiga orang, dan sebelum Abdurrahman menarik dirinya untuk melihat siapa yang paling utama. Untuk Allah dan Islam, beliau akan berusaha memilih orang terbaik dari keduanya untuk diserahi kursi kepemimpinan.

    Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu pun bangkit mengajak orang-orang berdiskusi tentang keduanya. Beliau juga berkumpul bersama pembesar-pembesar dan para tentara, bersama yang berkerumun atau berpencar-pencar, bersama yang berdua atau sendiri-sendiri serta yang berkelompok. Sampai-sampai beliau juga menghampiri wanita-wanita yang bersembunyi di balik hijabnya, dan anak-anak kecil di taman kanak-kanak. Beliau juga berdiskusi pula dengan mereka yang berkendara dan orang-orang Arab badui yang hendak menuju Madinah selama tiga hari tiga malam. Abdurrahman tidak menemukan seorangpun yang menyelisihi untuk mendahulukan Utsman. 

            Kecuali sebuah riwayat yang dinukil dari Ammar dan Al-Miqdad, bahwa keduanya mengisyaratkan kepada Ali bin Abi Thalib, namun keduamya juga akan ikut berbaiat sebagaiman akan disebutkan. Abdurrahman terus berusaha selama rentang waktu tiga hari tiga malam, beliau amatlah jarang ketika itu memejamkan mata, yang beliau lakukan hanyalah shalat, berdoa, melakukan istikharah, serta bertanya kepada mereka yang memiliki pandangan jauh dan selainnya. Namun, beliau tidak menemukan seorangpun yang menolak Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.

    Tatkala malam yang paginya langit menguning empat hari setelah wafatnya Umar bin Al-Khaththab, Abdurrahman datang ke rumah keponakannya, Al-Miswar bin Mahramah, beliau bertanya “Apakah kamu masih tidur wahai Miswar?! Demi Allah, aku sering terjaga sejak tiga hari ini. Pergilah, panggilkan Ali dan Utsman ke sini.”

    Al-Miswar balik bertanya, “Kepada siapa dahulu aku memulai?” 

            Abdurrahman menjawab, “Terserah kamu saja.”

    Al-Miswar berkata, “Maka, aku pergi menemui Ali dan aku katakan, 'Penuhilah panggilan pamanku.' ”

    Ali bertanya, “Apakah pamanmu menyuruhmu memanggilku dan orang lain?”

    Al-Miswar menjawab, “Iya.”

    Ali balik bertanya, “Siapa dia?”

    Al-Miswar menjawab, “Utsman putra Affan.”

    Ali bertanya kembali, “Kepada siapa diantara kami pamanmu memulai?”

    Al-Miswar menjawab, “Dia tidak memerintahku untuk melakukan itu. Bahkan, paman hanya berkata, 'Panggillah terlebih dahulu diantara keduanya yang kamu inginkan.' Maka, aku datang kepadamu terlebih dulu.”

    Al-Miswar melanjutkan kisahnya, “Maka, Ali pun keluar bersamaku, tatkala kami melewati rumah Utsman bin Affan. Ali pun duduk sampai aku masuk, ternyata aku mendapati Utsman sedang melakukan witir dan dua rakaat sebelum fajar. Akupun mengundang beliau. Utsman juga berkata kepadaku sama seperti yang Ali katakan kepadaku. Utsman pun keluar, aku membawa masuk keduanya untuk bertemu dengan pamanku yang sedang mendirikan shalat." 

            "Setelah selesai shalat, pamanku menemui Ali dan Utsman, seraya mengatakan, 'Aku sudah meminta pendapat orang-orang tentang kalian berdua, aku tidak mendapati seorangpun berpaling dari kalian berdua.' ” 

            Kemudian Abdurrahman membuat perjanjian dengan keduanya sendainya salah satu dari keduanya dilantik maka dia akan berlaku adil, dan bila yang terpilih salah satu dari keduanya maka yang lain harus mendengar dan mentaatinya. 

            Abdurrahman pun keluar menuju masjid bersama dengan keduanya, Abdurrahman mengenakan sorban yang dulu Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam pakaikan kepada beliau sambil menenteng pedang. 

            Beliau mengutus utusan kepada kaum Muhajirin dan Anshar, dan menyeru orang-orang “Ash-Shalatu jami’ah…”. Masjidpun seketika penuh sampai orang-orag terjepit dan saling berdesak-desakan. Namun, akhirnya mereka berbaris rapat sampai-sampai tidak tersisa bagi Utsman tempat dudukpun melainkan hanya di bagian belakang, dan beliau ini memang seorang yang pemalu radhiyallahu ‘anhu. 

    Kemudian, Abdurrahman bin Auf menaiki minbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau berdiri di tingkat yang dahulu digunakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di situ. Beliau berdiri di situ cukup lama, dan berdoa di situ sangat lama orang-orang tidak mendengar apa doa beliau. 

            Kemudian baru setelah itu beliau berbicara, “Wahai sekalian manusia, aku sudah bertanya kepada kalian baik secara rahasia atau terang-terangan, kepada yang berdua atau yang sendirian. Namun, aku tidak mendapati salah seorang dari kalian yang berpaling dari dua orang ini, baik itu Ali atau Utsman. Maka, berdirilah menujuku wahai Ali." 

            Ali pun berdiri menuju ke dekat Abdurrahman ia berdiri di bawah minbar. 

            Lalu, Abdurrahman memegang tangannya, Abdurrahman pun bertanya “Apakah kamu siap dibaiat di atas kitab Allah, sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan di atas perbuatan Abu Bakr dan Umar?”

    Ali menjawab, “Tidak, namun sesuai dengan kekuatan dan kemampuanku.” 

            Abdurrahman pun melepaskan tangan Ali, lalu berseru “Berdirilah wahai Utsman!” lalu ia memegang tangan Utsman seraya berkata, “Apakah kamu siap dibaiat atas dasar kitab Allah, sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan di atas perbuatan Abu Bakr serta Umar?” 

            Utsman menjawab, “Ya Allah…tentu.” 

            Maka, Abdurrahman berdiri hingga kepalanya menyentuh atap masjid dan tangan beliau masih tetap memegang tangan Utsman, seraya berkata “Ya Allah, dengarkanlah dan saksikanlah, Ya Allah… dengarkanlah dan saksikanlah, ya Allah… dengarkanlah dan saksikanlah. Ya Allah..sungguh aku telah memberikan kekhilafahan yang ku tanggung di pundakku ke pundaknya Utsman.”

    Al-Miswar berkata, “Maka, manusia berdesak-desakan untuk membaiat Utsman sampai-sampai mereka membuat Utsman terselubung di bawah minbar." 

            Al-Miswar melajutkan, “Abdurrahman pun duduk di tempat duduk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menyuruh Utsman untuk duduk di bawahnya di tangga kedua. Orang-orang terus berdatangan untuk membaiat beliau. Ali membaiat Utsman pada urutan pertama," ada juga yang berpendapat Ali terakhir.

    Adapun yang disebutkan oleh mayoritas ahli sejarah seperti Ibnu Jarir dan selainnya. Dari beberapa rawi yang tidak dikenal, bahwasannya Ali berkata kepada Abdurrahman, “Kamu telah menipuku, kamu sebenarnya dari awal memang ingin membaiat Utsman. Sebab, dia itu adalah besanmu dan supaya dia bisa merapatkan suatu hal denganmu setiap hari .” Dan bahwasannya Ali berlambat-lambat membaiat Utsman, sampai-sampai Abdurrahman mengatakan kepada Utsman, “Siapa saja yang melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar (janji) sendiri; dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.” (Q.S al-Fath: 10) dan kabar-kabar lainnya yang bertolak belakang dengan yang apa yang ada di Kitab Shahihain. Maka, itu semua tertolak, baik yang mengatakannya atau yang sekedar menukilnya. Wallahu a’lam. 

            Intinya yang sesuai dengan shahabat, adalah yang menyelisihi  persangkaan mayoritas orang-orang bodoh dari Rafidhah dan para tukang kisah yang dungu yang tidak mampu membedakan antara berita yang shahih dan dhaif, yang memiliki cacat, atau syadz dengan yang kuat. Allah lah yang memberi taufik kepada yang benar.

    Ulama sejarah juga berbeda pendapat terkait hari dibaiatnya Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Al-Waqidi meriwayatkan dari guru-gurunya bahwa Utsman dibaiat pada hari Senin pada malam terakhir bulan Dzulhijjah tahun 23H, dan beliau memulai tugasnya pada bulan Al-Muharram tahun 24 H. tetapi, pendapat ini sangat aneh.

    Al-Waqidi juga meriwayatkan pula dari Ibnu Juraij dari Ibnu Abi Mulaikah, beliau berkata, “Utsman dilantik setelah lewat beberapa dari bulan Muharram tiga hari lebih beberapa malam selepas pembunuhan Umar.” Dan ini lebih aneh lagi ketimbang yang sebelumnya.

    Saif berkata, dari Khulaid bin Dzafarah dan Mujalid mereka berdua menyatakan, “Utsman diangkat setelah tiga hari berlalu dari bulan Muharram pada tahun 24 H.” Demikian pula Saif meriwayatkan dari Umar dari Amir Asy-Sya’bi, ia berkata “Ahlu Syura bersepakat memilih Utsman setelah tiga hari berlalu dari bulan Muharram tahun 24 H, kala itu waktu sudah memasuki Ashar dan muadzinnya Shuhaib sudah mengumandangkan adzan orang-orang pun berkumpul antara waktu adzan dan iqamah, Shuhaib pun keluar lalu mengimami manusia. Utsman pun juga menambahkan sebanyak 100 dalam pemberiannya. Berbagai penduduk negeri juga mengirim utusannya masing-masing. Dan Shuhaib inilah yang melakukan itu semua.

            Aku (Ibnu Katsir) katakan, "Yang nampak dari konteks baiat beliau yang kami sebutkan, itu terjadi sebelum tergelincirnya matahari, disebabkan beliau dibaiat manusia di masjid, maka beliau dibawa pergi ke gedung pelantikan. Seperti dari yang telah lalu dari berbagai perbedaan pendapat. Maka, yang tersisa membaiat beliau, dan seolah-olah baiat tersebut baru selesai selepas shalat dhuhur.

    Hari itu Shuhaib bertindak sebagai imam shalat Zhuhur di Masjid Nabawi, adapun shalat pertama sebagai imam yang dilakukan Utsman pada masa kepemimpinannya itu adalah shalat Ashar, seperti yang disebutkan oleh Asy-Sya’bi dan selainnya. 

            Adapun khutbah pertama beliau, maka Saif bin Umar meriwayatkan dari Badr bin Utsman dari pamanya, ia berkata “Tatkala Ahlu Syura membaiat Utsman, beliau keluar dalam keadaan beliau adalah yang paling merasakan duka cita. Beliaupun naik ke atas minbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyampaikan pidatonya kepada manusia. 

            Utsman memuja-muji serta menyanjung Allah, serta bershalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian mengatakan, 

"Sesunnguhnya kalian berada di negeri penjara dan hidup dalam sisa-sisa umur. Maka, bersegeralah mengiringi ajal kalian dengan mempersembahkan kebaikan yang kalian mampu. Sungguh kalian telah diberi baik pagi atau sore. Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini dihamparkan untuk menipu, sehingga 'Janganlah sekali-kali kehidupan dunia ini memperdaya kalian, dan jangan sampai ia menipu kalian dalam menaati Allah.' (Q.S Luqman: 33) ambillah pelajaran dari generasi yang telah berlalu kemudian bersungguh-sungguhlah jangan sampai kalian terbuai. Di mana budak-budak dunia dan saudara-saudaranya, yang lebih mendahulukan dunia dan memakmurkannya serta menikmatinya sepanjang hidupnya. Bukankah dunia akan mengusir mereka?! Lemparkan dunia ini di manapun Allah melemparkannya lalu kejarlah akhirat, sesungguhnya Allah telah membuat untuk dunia sebuah permisalan yang lebih baik, 'Dan buatlah untuk mereka permisalan kehidupan dunia ini, ia laksana hujan yang Allah turunkan dari langit sehingga menyuburkan tetumbuhan bumi, kemudian tetumbuhan tersebut kering dan diterbangkan oleh angin. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta-harta dan anak-anak adalah perhiasan kehiduan dunia, tetapi kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi asa.' (Q.S al-Kahfi; 45-460)."

            Al-Miswar berkata, "Kemudian orang-orang menghampiri beliau untuk berbaiat."

Saya katakan: Bahwa khutbah ini bisa jadi setelah shalat Ashar pada waktu itu atau sebelum Zhuhur. Dan Abdurrahman pada waktu itu duduk di bagian teratas minbar. Pendapat kedua ini lebih mendekati kebenaran. Wallahu a’lam. 

Adapun yang disebutkan oleh orang-orang, bahwasannya khutbah pertama yang Utsman sampaikan, beliau gemetar dan tidak mengerti apa yang ia sampaikan, sampai-sampai beliau berkata, “Wahai hadirin, sesungguhnya untuk yang pertama ini aku kesulitan, dan bila aku masih hidup….aku akan menyampaikan khutbah sebagaimana mestinya.” Hal ini disebutkan oleh pemilik kitab Al-Aqdu Al-Farid dan yang lainnya, yang diriwayatkan dari orang-orang yang menyebutkan kisah hanya bagian akhirnya saja. Akan tetapi, (tentang keabsahan) sanad periwayatan ini, jiwaku masih ragu. Wallahu a’lam.

    Adapun pendapat Asy-Sya’bi, bahwa Utsman untuk manusia sebanyak seratus, yakni pada upah untuk masing-masing tentara. Beliau melakukan hal ini sesuai dengan keputusan dari Umar. Dan Umar juga telah menjatahkan bagi setiap orang satu dirham pada malam hari untuk dipergunakan berbuka, dan untuk istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua dirham. Dan tatkala Utsman memegang tampuk kekuasaan beliau menyetujui hal ini bahkan menambahnya. Beliau juga membuat taplak meja untuk orang-orang yang beribadah, i’tikaf, musafir, dan fakir miskin. Semoga Allah meridhai beliau.

    Dan dahulu bila Abu Bakr menyampaikan khutbah beliau berdiri bawah tangganya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan tatkala Umar berkuasa, maka beliau berdiri di bawah anak tangganya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. dan tatkala Utsman berkuasa beliau berkata, “Kebiasaan ini sudah lama.” 

            Utsmanpun naik ke tangga yang dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di situ. Beliau juga menambah adzan pertama untuk shalat Jum’at, sebelum adzan yang dahulu dikumandangkan di hadapan beliau apabila beliau lekas duduk di minbar.


Sejarah Islam
Zaman Khalifah Utsman bin Affan

Biografi
Salafush Shalih

www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

2 komentar untuk "#01 Saling bersaing menolak jabatan (24 H)"

Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis
Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com