Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#03 Hubungan Deskripsi dengan Wacana Tulisan yang lain

          Pertama, kita musti tahu dulu perbedaan antara berbagai wacana tulisan itu karena apa. Perbedaannya tersebut didasarkan atas maksud tujuan penulisan
  • Tulisan-tulisan yang bersifat ekspositoris bertujuan memberitahukan.
  • Sedangkan, tulisan yang bersifat argumentatif bertujuan untuk meyakinkan, dan mengubah sikap atau pendapat orang lain.
  • Sementara itu, tulisan bersifat deskriptif dan naratif (kisah /cerita) dapat digolongkan dalam satu kelompok karena mempunyai tujuan yang sama, yakni menyajikan pengalaman. Yaitu berusaha menampilkan objek dicerap oleh seluruh pancaindera para pembaca, seolah-olah mereka mengalaminya sendiri. Dalam deskripsi dan kisah, pembaca seakan-akan dipertemukan kembali dengan pemandangan-pemandangan dan kegiatan-kegiatan baik yang pernah dialami sendiri maupun pengalaman-pengalaman yang belum pernah dikenalnya.
          Jika ditinjau dari maksud tujuan, deskripsi secara umum tak bisa berdiri sendiri menjadi suatu tulisan. Namun, deskripsi hanya bisa menjadi alat bantu bagi wacana tulisan Eksposisi (pemaparan) dan Kisah. Deskripsi hanya merupakan bagian kecil yang dipergunakan oleh bentuk wacana tulisan yang lainnya untuk lebih mengkonkretkan pokok pembicaraan.

          Dalam wacana tulisan Eksposisi atau pemaparan, deskripsi merupakan alat bantu yang efektif. Yaitu, ia mampu lebih menghidupkan pokok pembicaraan. Gagasan-gagasan umum dan abstrak mungkin sulit langsung dipahami oleh para pembaca. Namun jika gagasan-gagasan umum dan abstrak tadi dipaparkan atau diberi ilustrasi-ilustrasi yang konkret, maka para pembaca akan lebih mudah mengerti.

          Hanya saja, deskripsi dalam Eksposisi tidak diperlukan kesan dan terciptanya daya khayal imajinasi pembaca. Deskripsi dalam Eksposisi hanya sekedar memberitahu sesuai maksud tujuan tulisan Eksposisi, yakni memberitahukan pembaca hanya sekedar mengetahui informasi hal tersebut. Walaupun begitu, pilihan yang tepat atas Deskripsi Ekspositoris dari suatu objek atau hal pada sebuah Eksposisi, mampu dipakai secara efektif untuk lebih meyakinkan pembaca dan merebut kepercayaan pembaca terhadap apa yang diopinikan penulis.

          Berikut suatu contoh Deskripsi Ekspositoris yang pernah disampaikan, merupakan beberapa paragraf yang dicuplik dari suatu bab yang berjudul, Mengapa kebiasaan menulis sederhana menghasilkan perubahan besar menjadi Penulis Terampil dari buku yang direncanakan "Menjadi Penulis Terampil - hanya dari kebiasaan menulis sederhana".
          
  ...        
           Akibat yang terjadi karena suatu perubahan dalam suatu kebiasaan kita, bisa diibaratkan pengaruh pengubahan arah suatu perjalanan di suatu padang pasir meskipun hanya beberapa derajat.
           Misalkan kita berjalan kaki dari kota Madinah menuju ke selatan ke kota Makkah. Lalu ketika kita mulai beranjak dari Madinah, mengubah arah 1 derajat lebih ke barat sedikit. Kita tidak akan sampai di Makkah, tetapi yang kita temui adalah kota Jeddah yang berjarak 97 kilometer berjalan kaki dari Makkah. Perubahan kecil tersebut hampir tak terdeteksi sewaktu kita berangkat. Wajah kita mungkin hanya berputar beberapa centimenter, dan ternyata pada akhirnya kita menyimpang jauh hampir seratus kilometer dari kota tujuan, Makkah.
          Demikian pula, suatu perubahan kecil pada kebiasaan sehari-hari dapat membuat kita tiba pada target yang sangat berbeda, yang akan sangat mengejutkan kita. Memilih 1% lebih baik atau 1% lebih buruk terlihat tak ada artinya pada detik ini, tetapi dalam waktu jeda yang sangat lama, pilihan-pilihan tersebut menentukan siapa kita sekarang dan siapa kita nanti. Keberhasilan adalah produk kebiasaan sehari-hari, bukan perubahan sekali jadi seumur hidup.   
          ...

Sumber: https://menulis.sketsarumah.com/2022/07/bab-02-mengapa-kebiasaan-kecil-menulis.html?m=1

***            

          Jika kita perhatikan, frekuensi munculnya Deskripsi Impresionistis, yakni deskripsi yang memunculkan imajinasi pembaca itu lebih sering muncul bersama-sama wacana tulisan Narasi atau Kisah, daripada wacana tulisan yang lainnya.

          Dalam Kisah atau Cerita (fiksi ataupun nofiksi), Deskripsi Impresionistis digunakan untuk menyiapkan dasar atau latar, baik latar tempat maupun latar waktu dari peristiwa-peristiwa dan adegan-adegan yang timbul bersama alur atau plot cerita. Latar ini tentu saja sanggup menampilkan suasana dalam kisah yang akan  mempengaruhi perasaan hati pembaca.

          Dengan Deskripsi Impresionistis, penulis dapat menciptakan seolah-olah suatu bingkai dari keindahan alam, letak model suatu perumahan, interior dan perabotan suatu rumah, dan sebagainya untuk menghidupkan suasana yang akan diungkapkan seorang penulis. Semua peristiwa dan tindak-tanduk tokoh yang ditampilkan dalam bingkai deskripsi akan tampak lebih menonjol, lebih serasi atau efek-efek tertentu yang diinginkan.

          Dengan demikian, para pembaca akan mendapat keyakinan dan kesan bahwa kisah itu benar-benar terjadi, karena kisah yang kita ceritakan adalah kisah nyata. Kesan itu akan timbul dari gambaran-gambaran bersifat deskriptif dalam bentuk pemandangan, peristiwa, keadaan atau tokoh yang dibicarakan.

          Deskripsi Impresionistis dalam kisah, biasanya tidak dibuat berpanjang-panjang. Deskripsi yang terlalu panjang akan menimbulkan kebosanan. Oleh sebab itu deskripsi-deskripsi dalam kisah sering berupa uraian singkat berkelidan dengan dialog-dialog atau jalannya cerita. Deskripsi yang hidup, segar, pendek-pendek dan tampak hanya sepintas lalu justru akan menampilkan realitas secara tepat. Sehingga, mudah pula terbentuk imajinasi pembaca terhadap objek yang sedang diungkapkan.

          Coba perhatikan kutipan berikut:
          
          Trem penuh sesak dengan orang, keranjang-keranjang, tong kosong danberisi, kambing dan ayam. Hari panas, orang dan binatang keringatan. Trem bau keringat dan terasi. Ambang jendela penuh dengan air ludah dan air sirih, kemerah-merahan seperti buah tomat.
          Dalam trem susah bernafas. Tapi orang merokok juga, menghilangkan keringat dan terasi. Seorang perempuan muda, Belanda - Indo, mengambil saputangannya, kecil bagaikan daun pembungkus lemper, dihirupnya udara di saputangannya, lalu katanya, "Siapa lagi yang membawa terasi ke atas trem. Tidak tahu aturan, ini kan kelas satu."
          Seorang Tionghoa, gemuk seperti Churchill, merasa tersinggung dan berkata dengan marah, kepada nona Belanda-Indo itu, "Jangan banyak omong. Sekarang kemakmuran bersama, bukan Belanda."
          Orang Tionghoa itu membungkuk, mengambil dari keranjang sayurannya sebuah bungkusan dan katanya, sambil melihatkan bungkusan itu kepada nona Belanda-Indo itu, "Ini dia terasi, mau apa?"
          Seorang perempuan tua, bungkuk dan kurus, bajunya berlubang, seperti disengaja melubangkannya, seperti renda seperai, dimarahi kondektur, "Ini kelas satu, mengapa di sini? Ayo ke belakang! Kalau tidak, bayar lagi!"
          Perempuan itu beriba-iba, meminta supaya ia dibolehkan di kelas satu saja, "Terlalu sempit di sana tuan. Saya tak bisa."
          "Ya kalau tak bisa, bayar lagi!"
          Lambat-lambat perempuan tua itu pergi ke kelas dua.
          Tiba di sana ia melihat dengan marah kepada kondektur, dan katanya, "Ah belagak betul. Sedikit saja dikasih Nippon kekuasaan sudah begitu. Sama orang tua berani. Tapi coba kalau orang Nippon, membungkuk-bungkuk. Bah! ..."

Sumber: "Kota - Harmoni", Idrus, Kesusastraan Indonesia di Masa Jepang.

          Perhatikan dengan cermat, betapa dialog-dialog singkat yang terjadi di dalam trem yang penuh sesak itu akan menjadi lebih mengandung makna, karena fakta yang diungkapkan penulis di dalam trem, dan suasana panas, bau tak nyaman lebih dirasakan lagi dengan berdesak-desakannya para penumpang.

          Manusia, tertarik kepada pada soal-soal yang berada di balik benda-benda. Yaitu, 
          
✓ apa yang diperbuat manusia terhadap benda-benda tadi, 
✓ peristiwa-peristiwa apa yang berlangsung di sekitar benda-benda tersebut, 
✓ dan peranan apa yang dimainkan benda-benda tersebut dalam peristiwa-peristiwa tadi.

          Benda-benda atau barang-barang itu hanyalah latar belakang bagi pagelaran gagasan-gagasan penulis. Ia sebagai alat untuk lebih mengkonkretkan gagasan atau tindak-tanduk pelaku-pelakunya. Oleh sebab itu, walaupun deskripsi mampu menyajikan kepada pembaca hakikat yang sebenarnya dari apa yang diamati penulis, deskripsi itu tetap dijalin dengan wacana tulisan Eksposisi ataupun Kisah.

          Hal tersebut bukan berarti deskripsi tak begitu penting bagi seorang penulis.

          Sebaliknya, tanpa adanya deskripsi, banyak wacana tulisan akan terasa hambar dan kosong, tak mampu meyakinkan sugesti para pembaca. Tulisan-tulisan seperti cerita, syair, artikel, laporan baik biasa maupun ilmiah akan menjadi rangkaian yang membosankan.

          Dengan mempergunakan deskripsi secara tepat akan mempertajam pencerapan baik secara indrawi maupun nalar. Dan, akan memicu keasyikan kita dalam membaca karya-karya sastrawi maupun ilmiah.

***

www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

Posting Komentar untuk "#03 Hubungan Deskripsi dengan Wacana Tulisan yang lain"

Hanya dari kebiasaan menulis sederhana
Menjadi Penulis Terampil
Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis

Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com