Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#02 Kisah Inspiratif ide sendiri "Hanyut" dan analisisnya

             Sekarang kita coba membuat Kisah Inspiratif lagi dari salah satu peristiwa yang ada dalam tabel peristiwa yang menarik  dan mengandung konflik yang telah disusun. 

Yaitu, peristiwa membolos seluruh murid kelas 2A SMP Kristen, Bengkulu karena ingin menonton lomba motorcross, provokator adalah teman sendiri: Benedictus Prastowo dengan nama panggilan: Beni.

Kerangka 

1. Awala : Deskripsi suasana menghangat diskusi ide membolos untuk menonton lomba motorcross di depan kelas saat momen istirahat dari pelajaran.

2. Tengahlif : Terjadi penggawatan kondisi ketika keesokan harinya tak ada murid laki-laki yang masuk sekolah, klimaksnya ketua kelas Ngadiman terseret, hanyut ikut membolos.

3. Akhirba! : Suasana mereda, ketika keesokan harinya seluruh murid kelas 2A dihukum.

            Untuk  membaca Cerpen Nonfiksi dengan judul "Hanyut" tersebut silahkan KLIK /TAP > disini 

Analisis

Alur atau Plot

            Alur atau plot adalah sebuah interrelasi fungsional antara unsur-unsur narasi yang timbul yang berupa: 

  • Tindak-tanduk
  • Karakter
  • Suasana hati (pikiran), dan
  • Sudut pandangan

            Serta ditandai oleh klimaks-klimaks dalam rangkaian tindak-tanduk itu, yang sekaligus menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan narasi.

            Dengan demikian struktur narasi “Hanyut” sudah tercakup seluruhnya dalam batasan ini, yaitu mencakup unsur-unsur yang membentuk suatu alur (tindak-tanduk, karakter dan sebagainya) dan telah mencakup pula kerangka utama dari sebuah kisah.

            Alur merupakan rangkaian pola tindak-tanduk yang berusaha memecahkan konflik yang terdapat dalam narasi itu, yang berusaha memulihkan situasi narasi ke dalam situasi yang seimbang dan harmonis. Alur merupakan kerangka dasar yang sangat penting dalam kisah. 

            Alur mengatur: 

  • Bagaimana tindakan-tindakan harus bertalian satu sama lain,
  • Bagaimana suatu insiden mempunyai hubungan dengan insiden yang lain
  • Bagaimana tokoh-tokoh harus digambarkan dan berperan dalam tindakan-tindakan itu, dan
  • Bagaimana situasi dan perasaan karakter (tokoh) yang terlibat dalam tindakan-tindakan itu yang terikat dalam suatu kesatuan dimensi waktu.

            Oleh karena itu, baik atau tidaknya penggarapan suatu alur atau plot dapat dinilai dari beberapa hal berikut:

  • Apakah tiap insiden susul-menyusul secara logis dan alamiah,
  • Apakah tiap pergantian insiden telah cukup terbayang dan dimatangkan dalam insiden sebelumnya atau apakah insiden itu terjadi hanya secara kebetulan?

            "Hanyut" cukup memenuhi apa-apa yang telah disebutkan di atas. Terjadi kesinambungan tindakan-tindakan dan insiden-insiden satu sama lain. Dan, tokoh-tokohnya pun berperan bersamaan dengan perasaan-perasaan tokoh yang ikut tergambar dalam kisah tersebut.

Pola Narasi

            Cobalah konsentrasi sebentar, bahwa dalam hidup kita ini tak bisa lari dari apa yang namanya waktu. Kehadiran kita dalam dimensi waktu membuat kita sadar ada : Awal dan Akhir, dan kita berada diantaranya. Ada masa lampau, sekarang dan masa depan, tentu saja kita berada di masa sekarang. Ada proses yang menghubungkan titik awal, tengah dan akhir; lampau, kini dan yang akan datang. Itulah alur atau plot itu. 

            Lihatlah! Selalu ada tiga bagian sebagai struktur dasarnya dalam pengetahuan kita atau cara kita mengetahui dalam dimensi ruang waktu.

            Narasi pun mempunyai struktur yang sama. Kisah nyata pun ditulis dari aksara pertama dan berhenti pada titik sebagai akhir, apapun isinya. Dan itu juga terdiri dari struktur tiga bagian: awal, tengah dan akhir adalah struktur alamiah. 

            Setiap Narasi memiliki sebuah alur atau plot yang didasarkan pada kesinambungan peristiwa-peristiwa dalam narasi itu dalam hubungan sebab-akibat. Ada bagian yang mengawali narasi itu, ada bagian yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari situasi awal dan ada bagian yang mengakhiri narasi itu. Alurlah yang menandai kapan sebuah narasi itu mulai dan kapan berakhir. Alur ditandai oleh puncak atau klimaks dari perbuatan dramatis dalam rentang laju narasi tersebut. Secara skematis alur tersebut mirip sekali dengan struktur a-lif-ba!, disini kita gambarkan kembali:

            Akan tetapi dalam kenyataannya, disamping klimaks utama masih terdapat klimaks-klimaks kecil. Atau dengan kata lain, ada sejumlah klimaks yang berbeda yang bergerak menuju klimaks utama. Gambarannya dapat dilihat pada skema di bawah. Garis utuh menyajikan bermacam-macam klimaks menuju klimaks yang tertinggi. Sedangkan garis putus-putus merupakan garis besar alur kisah.

Bagian Awal atau Pendahuluan

            Suatu perbuatan atau tindakan tidak akan muncul begitu saja dari kehampaan. Perbuatan harus lahir dari suatu situasi. Situasi tersebut harus mengandung unsur-unsur yang mudah meledak atau mampu meledakkannya. Setiap saat situasi mampu menghasilkan suatu perubahan yang dapat membawa akibat atau perkembangan lebih lanjut di masa depan. Ada situasi yang sederhana, tetapi ada pula situasi yang kompleks. Kompleks tidaknya suatu situasi dapat diukur dari kaitan-kaitan antara satu faktor dengan faktor yang lain, dapat diukur pula dari jumlah faktornya, dan dapat pula dari akibat-akibat yang ditimbulkannya serta rangkaian-rangkaian kejadian selanjutnya.

            Dalam menyajikan narasi yang menyangkut fakta, seperti pada narasi “Hanyut”, tugas pertama seorang penulis adalah menganalisa materi untuk memperoleh kepastian dan keyakinan mengenai mana unsur-unsur yang penting, yaitu unsur-unsur mana yang mempunyai daya ledak, agar pembaca dapat memahami perkembangan keadaan selanjutnya

            Kemudian, selanjutnya penulis bertugas menyajikan materinya dalam suatu rangkaian yang menarik, sehingga pembaca bisa menangkap dengan mudah relasi logis antara bermacam-macam unsur tadi, serta menangkap hakikat dari kegawatan situasi itu. Sehingga, pembaca menghayati ketegangan demi ketegangan yang ujung-ujungnya pembaca merasa nikmat dan merasa asyik terhibur.

Berikut kita tampilkan bagian pendahuluan narasi “Hanyut”:

            "Kapan lagi? Iko jarang-jarang ado balap motor tril di pantai. Bukan hari Minggu pulo, lhaa cemmano ndak nonton, kito galo sedang sekola ..." Beni teman sekelasku, teman tercerdas di antara teman-teman di kelas 2A, SMP Kristen mulai membuka wawasan pikiran teman-teman satu kelas, dengan menggebu-gebu. Aku mencium aroma pengaruh provokasi yang pekat.

            Ada kemungkinan pembaca tak dapat menangkap makna situasi itu ketika membaca kisahnya untuk pertama kali; akan tetapi dengan melanjutkan pembacaannya perlahan-lahan ia dapat menangkap dan merasakan makna yang tersirat dibaliknya. Fragmen demi fragmen yang disajikan penulis sanggup merangsang keingin-tahuan pembaca, dan mampu pula menciptakan ketegangan dalam diri pembaca. Pembaca harus mendapatkan cukup banyak bahan untuk menghayati makna itu ketika ia melihat kembali seluruh cerita itu. Materi-materi itu mampu meyakinkan pembaca, bahwa seluruh tindak-tanduk dalam seluruh narasi itu merupakan perkembangan yang logis dari situasi aslinya. Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada narasi “Hanyut” yang kemudian pada bagian perkembangannya hanya dipahami secara baik, jika situasi awal juga dipahami dengan baik.

            Bagian awal yang menampilkan situasi dasar, memungkinkan pembaca memahami adegan-adegan selanjutnya. Dan karena bagian pendahuluan ini menentukan daya tarik dan hasrat pembaca pada bagian-bagian berikutnya, maka penulis harus betul-betul menemukan momen bagian kisah nyata yang mengandung magnet dan menuangkannya dengan sungguh-sungguh secara kreatif. Bagian pendahuluan harus merupakan kreativitas tersendiri yang berusaha menjaring minat dan perhatian pembaca. Kembali diingatkan tentu sesuai dengan kenyataan yang terjadi, karena ini kisah nyata. 

            Bagian pendahuluan ini tidak harus terdiri dari materi-materi yang itu-itu saja, seperti berbentuk deskripsi latar atau tidak harus berbentuk ringkasan yang kurang menarik dengan situasi awal dari seluruh cerita. Namun, bagian ini bahkan bisa berupa langsung masuk ke dalam situasi permulaan penggawatan menuju komplikasi dan keruwetan.

Bagian Tengah atau Perkembangan

            Bagian tengah adalah batang tubuh yang utama dari seluruh tindak-tanduk para tokoh. Bagian ini merupakan rangkaian dari tahap-tahap yang membentuk seluruh proses narasi. Bagian ini mencakup adegan-adegan yang dengan sendirinya meningkatkan ketegangan, atau terjadi penggawatan komplikasi yang berkembang dari situasi aslinya. Coba perhatikan adegan-adegan dalam bagian tengah narasi “Hanyut”:

            Aku melihat bola-bola mata teman-temanku sebagian membulat berbinar. Agaknya, mereka mulai mabuk tergoda dengan hasutan Beni. Apalagi, Beni adalah murid terpintar di kelas kami. Beni punya kharisma tersendiri. Kata-katanya seakan-akan sihir. Akupun tanpa sadar, agak ikut mabuk tergiur dengan modus Beni. Aku mengimajinasikan makhluk-makhluk berkaki bulat dengan telapak-telapak kotak-kotak sangar  berseliweran, saling kejar, saling lompat dan melayang seakan tanpa bobot melewati tanjakan-tanjakan bergelombang dan "superbol" dengan gagah berani. Oi! Betapa hebat dan hebohnya. Kami mau tidak mau harus  menonton. Ini baru namanya tontonan para lelaki, arena laga para pemberani. Seolah-olah kamilah yang berlaga!
            "Kito musti nonton! Idak ado kesempatan lagi. Kapan lagi ado balap tril, lhaa setahun sekali mungkin. Tapi sayangnya balap tril itu bukan diadakan hari Minggu. Bagaimana kalau kito idak usah masuk sekolah samo-samo besok?" racun sang penghasut Beni mulai meresap ke dalam aliran darah kami. Darah-darah kami telah terkontaminasi bisa-bisa gelombang suara sihir si Cerdas. Lalu, mendidih dan menggelegak di hati-hati kami. 

            Dan, juga pada adegan ini (ada sedikit kisah dengan alur kilas-balik /flash-back):
             
            Sekonyong-konyong kemudian aku teringat sesuatu. Aku baru sadar kalau aku ini ketua kelas 2A. Ah, rupanya aku ikut hanyut arus arung jeramnya Beni, dan hampir terjebak dalam pusarannya. Tidak! Aku harus hadang persekongkolan ini. Aku selalu kena batunya jika teman-teman kelasku 'ngaco'. 
            Aku terkenang sesuatu sesaat kemudian. Suatu waktu, pada pelajaran bahasa Inggris, guru bahasa Inggris, Ibu Din memerintahkan  kami untuk mengikuti membaca beberapa kata-kata bahasa Inggris, agar bacaan kami benar. Celakanya, setelah selesai kata-kata dibaca bersama, tenyata teman-temanku tetap mengikuti kata-kata yang diucapkan Ibu Din walaupun itu kata-kata dalam bahasa Indonesia. Entah siapa yang iseng memulainya. Jangan-jangan Beni juga si biang kerok. Lebih celaka lagi, tak sampai disitu, ketika mata Ibu Din mulai melotot, bola matanya seperti akan keluar, mengeras wajahnya, dan urat-urat lehernya terlihat saling tarik-menarik, teman-temanku sekelas tetap kompak senasib sepenanggungan mengikuti kalimat-kalimat yang keluar dari lisan Ibu Din.  
            Begitu selesai di ujung kalimat terakhir pada puncak suhu seratus derajat Celcius darah Ibu Din, Ibu Din tak menunggu lama lagi, gak pake lama, langsung serta-merta angkat kaki dari ruangan kelas. Meluncur, kembali menuju ke ruang guru. Mendarat di singgasananya disana. Cemberut. Ngambek. 
            Duh, akhirnya siapa lagi yang mewakili seisi kelas untuk meminta maaf kepada Ibu Din kalau bukan aku sebagai ketua kelas. Runyam sudah! 
            "Jangan, ... Nanti kito akan kena marah dan hukuman!" aku menjerit lirih, meminta belas kasihan teman-temanku yang sudah keblinger bayangan-bayangan motor tril mengudara, berakrobatik, dan kehebatan-kehebatan para penunggangnya yang gagah berani. 
            "Akhirnyo ambo jugo yang kena, apo idak ingek peristiwa Ibu Din ngambek?" aku mulai berusaha menyadarkan teman-temanku, membangunkan teman-teman yang setengah pingsan akibat biusan si biang kerok, melawan godaan-godaan si jenius yang absurd. 
            Teman-temanku menatapku. Aku seakan-akan merasa bicara pada teman-temanku yang terhalang kaca tebal kedap suara. Mereka melihatku, tapi tak mampu mendengarku. Mereka seolah-olah menonton filem bisu dan aktornya aku terlihat seperti sedang berteriak-teriak. 
            "Kito musti kompak, kalo ado apo-apo ya kito tanggung besamo lah," Beni sok mengajak teman-temanku, seolah-olah hasungan menuju kebaikan. Menutupinya dengan solidaritas pertemanan di atas pengorbanan bersama. Beni telah tak perduli dengan nasibku. Padahal ia teman baikku juga. Kesenangan duniawi memang tidak ada kata teman. Yang penting nikmat, sikat! 
            Omong kosong! Aku tetap tidak setuju. Pelanggaran tetap pelanggaran. Mau diubah kata-katanya dengan apapun, hakekatnya tetap sama. Ini makar terhadap pendidikan namanya. Huh! 
            "Aku tidak setuju!" tegasku, wajahku dan rahangku mulai mengatup kencang. Aku tak perduli, walaupun ada juga rasa takut berada pada posisi bertentangan dengan Beni.

            Kemudian pada adegan ini, meningkatkan ketegangan dan terjadi penggawatan komplikasi pula:

            Wal hasil, suasana istirahat menjadi bukan rehat dan mengendurkan pikiran setelah pusing dengan pelajaran lagi, akan tetapi menjadi letih, bersitegang, dan otak semakin lelah. 
            Wajah-wajah temanku terlihat datar tanpa ekspresi menatapku. Ada riak-riak resah di mata-mata mereka. Sepertinya api telah terlalu besar, menjilat-jilat liar, sedangkan aku bagaikan air "blangwir" pemadam kebakaran yang datang terlambat. Airnya sedikit pula. Waduh! 
            "Teng, teng, teng ...!" bunyi pukulan pada lonceng yang terbuat dari velg truk bekas tanda masuk ke kelas merobek suasana panas kami. 
            Siang itu, perdebatan aku dan Beni tanpa penyelesaian, apapun yang akan terjadi esok hari.

*** 

            Bagian tubuh karangan telah melepaskan dirinya dari situasi umum atau situasi awal, dan telah mulai memasuki tahap komplikasi. Komplikasi diungkapkan dengan menguraikan secara terperinci peranan semua unsur narasi berupa; perbuatan atau tindak-tanduk tokoh-tokoh, interelasi antara tokoh-tokoh dan tindak-tanduk mereka yang menimbulkan perbenturan kepentingan. Perbenturan-perbenturan kepentingan yang menimbulkan konflik baik yang terbuka maupun tertutup; bagaimana pertikaian-pertikaian antar tokoh yang dikisahkan berangsur-angsur memuncak melalui perumitan permasalahan.

            Konflik hanya akan dimengerti dan dapat dipahami dengan baik, jika situasi awal pada bagian pendahuluan telah disajikan secara jelas.  Semua yang terjadi pada tahap perkembangan hanyalah merupakan kausalitas, merupakan sebab-akibat dari suasana awal. Kausalitas antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, antara satu tindakan dengan tindakan yang lain harus terjalin dalam jaringan yang logis. Peranan tokoh (karakter) harus pula seimbang dengan fungsinya terhadap seluruh karangan.

            Bagian yang menegangkan yang merupakan klimaks dari perkembangan narasi sangat mungkin terjadi dalam kisah nyata. Dengan melihat kembali seluruh peristiwa dalam narasi, kita dapat melihat titik-titik kritis, yaitu tahap-tahap yang mengandung ketegangan-ketegangan baru, yang setiap kali muncul dalam rangkaian narasi tersebut. Tahap-tahap itu dapat menyediakan bahan-bahan yang penting untuk membagi paragraf-paragraf (dan bab-bab jika dalam kisah nyata riwayat hidup atau novel nonfiksi) secara alamiah.

            Bagian perkembangan ini dapat dibagi lagi atas beberapa tahap yang lebih kecil, tergantung sifat dan besarnya narasi. Pada permulaan perkembangan tentu saja terjadi pertikaian sebagai akibat logis dari situasi awal yang mengandung faktor-faktor peledak. Dari pertikaian-pertikaian itu timbul penggawatan yang menyiapkan jalan untuk mencapai puncak klimaks dari seluruh narasi.

            Dengan demikian dapat kita katakan, bahwa prinsip-prinsip yang ada pada narasi fiktif (fiksi) dapat diterapkan pada jenis narasi kisah nyata. Suatu penyimpangan kecil saja dari rangkaian peristiwa atau tindakan akan membuyarkan perhatian pembaca. Hakikat struktur yang ditampilkan oleh penulis adalah makna yang menyentuh perasaan pembaca, dan sekaligus menjadi faktor penarik perhatian pembaca, makna yang membangkitkan respon emosional pembaca.

            Berikut kita hadirkan puncak klimaks dan peristiwa-peristiwa yang telah dekat menghantar pada klimaks tersebut pada kisah “Hanyut”:

            Tapi, eh! Ada yang janggal di dalam kelasku. Teman-teman semakin banyak berdatangan, namun tanpa aku sadari dan akhirnya aku tersadar juga, lho mengapa teman-temanku yang datang perempuan semua? Dimana teman-temanku yang laki-laki? Mengapa hanya aku yang laki-laki? Di seberang sana terdengar bisik-bisik, kasak-kusuk, dan cekakak-cekikik teman-teman perempuanku, sambil melirik aku. Aku mulai panik. Ada apa ini? Woi! dimana kalian para lelaki! 
            Buntung aku! Aku baru ingat hari ini, hari balap motor tril di pantai Panjang! Bukankah kemarin aku berdebat dengan Beni. Mereka pasti kompak membolos. Waduh bagaimana dengan aku? Malang benar nasibku. Aku ketua kelas. Aku tetap masuk sekolah? Dan, belajar di antara teman-teman perempuanku, aku hanya sendiri "til" laki-lakinya. Malu? Pasti! Mereka pasti mengolok-olok Diman banci, Diman banci! Diman teman-temannya perempuan. Tuh, lihat! 
            Namun, ada gelombang suara seolah berdesis sejuk dalam hatiku, "Diman kamu di atas kebenaran, kenapa takut? Berdirilah dengan gagah membawa bendera kebenaran, walaupun engkau sendiri." 
            Bagaimana ini? Aku lihat jam tanganku. Jam 06.55. Lima menit lagi lonceng velg bekas itu berdentang. Aduuh, tolooong hatiku melolong. Aku ingat-ingat teman-temanku kemaren kasak-kusuk. Aku masih bisa mendengar mereka akan kumpul di rumah Ndang yang di pinggir pantai sebelum ke pantai Panjang. 
            Tetapi, jika aku ikut mereka tentu aku mengkhianati pendirianku. Aku jadi bajingan pendidikan. 
            Tiga menit lagi. 
            Kepalaku berputar ke kanan dan ke kiri. Celingak celinguk. Guru-guru mulai berdatangan. Aku bisa lihat, tentu saja mereka lewat depan kelas 2A. Ruang guru di sebelah. Jangan-jangan ada guru yang lihat. Dan, bertanya kenapa kelas 2A perempuan semua. Gawat! 
            Aku melirik jam tangan, dua menit lagi. 
            Tentu aku yang akan ditanya. Aku lelaki satu-satunya. Aku ketua kelas. Ketua kelas. Ketua... 
            Satu menit lagi.  
***

Bagian Akhir atau Penutup

            Akhir suatu perbuatan bukan hanya menjadi titik yang menjadi pertanda berakhirnya tindak-tanduk. Namun lebih tepat jika kita katakan, bahwa akhir dari perbuatan atau tindakan itu merupakan:
Titik dimana tenaga-tenaga atau kekuatan-kekuatan yang diemban dalam situasi yang tercipta sejak semula membersit keluar dan menemukan pemecahannya.

            Akhir dari suatu tindakan yang berbentuk sederhana adalah kesadaran baru yang timbul pada tokoh-tokoh yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung dalam kisah.

            Mari kita lihat bagian akhir narasi “Hanyut”, akan terjadi pemecahan dan kesadaran pada tokoh-tokohnya:

            "Ahaa, selamat datang Dimaaann...." senyum Ndang merekah seolah menyambut tamu agung. Ndang berdiri di depan rumahnya dengan tangan terbuka. Semua teman-teman laki-laki kelasku yang lainnya telah ada. Ada Beni. Mereka semua - untuk saat ini – wajah-wajah mereka aku lihat seperti wajah Beni semua. Huh! Sebal aku rasanya. Aku seperti anak kecil terseret ombak laut semakin ke tengah lautan tanpa daya, sedang aku meronta-ronta. Aku ingin berteriak, tetapi tak ada suara yang keluar. Badanku hanyut ke tengah samudra, tapi jiwaku masih di tepi pantai. Tubuhku terbawa ke rumah Ndang, tetapi jiwaku tetap ada di kelas 2A. 
            Akhirnya, kami semua murid laki-laki kelas 2A sampai di pantai Panjang. Apapun yang aku tonton menjadi tak menarik lagi bagiku. Pandanganku kemana, pikiranku kemana. Inikah dunia paralel itu? Sejatinya aku adalah satu, tetapi hidup di dua dunia. Pantai Panjang dan kelas 2A. 
            Hanya satu yang senantiasa menjadi fokus pikiranku: apa yang akan kami hadapi di sekolah esok hari? 
            "Ayo yang tegap, jangan lemes begitu!" bentak pak Darto guru matematika kami. 
            "Ini juga, kamu yang tegap!" gelegar kalimat keluar dari pita suara pak Darto kembali. 
            Beeegghh!!” pak Darto yang badannya kekar dan besar melontarkan kepalan tangannya dengan secepat petinju juara kelas berat World Champion ke arah temanku sekelas. 
            Nafasku tertahan. Ternyata tinju pak Darto yang kuat itu tidak sampai menyentuh sedikitpun pada tubuh temanku. Pak Darto hanya berpura-pura akan menghantam, dan ia hanya memukul dadanya sendiri, sehingga menimbulkan suara berdebam. Namun, cukup mengejutkan dan seperti pukulan betulan. Kami menciut. Mengkeret. 
            "Kalian gagah berani ketika membolos, menonton tontonan para lelaki. Sekarang kalian harus tegar juga menjalani resikonya! Kalian laki-laki!" hardik pak Darto kembali hampir-hampir merobek gendang-gendang suara telinga kami. 
            Siang itu, kami seluruh murid laki-laki kelas 2A berbaris memanjang satu baris. Berdiri di halaman sekolah kami yang terletak di tengah-tengah sekolah. Halaman itu dikelilingi kelas-kelas dalam formasi berbentuk huruf U. Sehingga kami semua tampak oleh mata-mata seluruh murid sekolah dari semua penjuru sekolah. 
            Mentari memanggang kami, entah sampai kapan.  
 
***

            Bila seorang penulis ingin menyusun sebuah kisah nyata, ia menganggap bagian akhir cerita adalah merupakan:
 
Titik dimana perbuatan dan tindak-tanduk dalam seluruh narasi itu memperoleh maknanya yang bulat dan penuh.

            Pada bagian ini, merupakan: 

Titik dimana para pembaca terangsang untuk melihat seluruh makna kisah. Bagian ini sekaligus merupakan titik dimana struktur dan makna memperoleh fungsinya sebulat-bulatnya.

            Dengan kata lain, bagian penutup merupakan: 

Titik tempat pembaca sepenuhnya merasa, bahwa struktur dan makna sebenarnya merupakan unsur dari persoalan yang sama. Keduanya adalah persoalan itu sendiri.

            Nama lain daripada bagian terakhir dari suatu narasi adalah peleraian. Dalam bagian ini akhirnya komplikasi dapat diatasi dan diselesaikan. Namun demikian tidak selalu terjadi, bahwa bagian peleraian betul-betul memecahkan masalah yang dihadapi. Seringkali terjadi bahwa, penyelesaian itu bersifat semu. Hal ini memungkinkan, bahwa sebetulnya penyelesaian itu tidak ada, yang ada adalah: 

Hal yang menjadi pangkal bagi persoalan yang baru akan timbul

            Dan, memang layaknya alur dalam kehidupan, bahwa akhir dari tindakan menjadi awal persoalan berikutnya, dan itu merupakan alur dari peristiwa berikutnya. 
            Namun, dalam hal ini kita tegaskan saja, bahwa pengertian alur disini, dalam peleraian tetap dicapai akhir dari rangkaian suatu tindakan.

            Perhatikan akhir narasi “Hanyut”, ia tidak betul-betul memecahkan masalah yang ada. Penyelesaiannya bersifat semu yang ini akan menjadi pangkal dari persoalan baru. Alur baru bagi kisah lainnya:         
            Siang itu, kami seluruh murid laki-laki kelas 2A berbaris memanjang satu baris. Berdiri di halaman sekolah kami yang terletak di tengah-tengah sekolah. Halaman itu dikelilingi kelas-kelas dalam formasi berbentuk huruf  U. Sehingga kami semua tampak oleh mata-mata seluruh murid sekolah dari semua penjuru sekolah. 
            Mentari memanggang kami, entah sampai kapan. 
 
***
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

Posting Komentar untuk "#02 Kisah Inspiratif ide sendiri "Hanyut" dan analisisnya"

Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis
Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi , #novel nonfiksi , #kisah inspiratif , #biografi inspiratif di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/+6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com