Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

#13 Eksposisi, Mengingat Kembali



          Sebelum kita mencoba memulai menulis Eksposisi dengan melahirkan ide tulisan sendiri, berikut ringkasan tentang Eksposisi. Ini semata-mata hanya untuk mengingat kembali, karena telah banyak yang kita bahas sejak postingan #03 Pengenalan Eksposisi sampai postingan sebelum postingan sekarang.

         Banyak yang dapat kita singkapkan dengan menggunakan bentuk Eksposisi. Setiap waktu, dimana saja, ketika sedang melakukan apa saja, kita sering mempunyai pendapat atau opini tentang sesuatu. Ini harusnya begini, itu mustinya begitu dan sebagainya. Menuliskannya dalam bentuk Eksposisi akan banyak membantu kita dalam menata jalan pikiran sehingga runtut dan sistematis. Cara-cara menulis bentuk Eksposisi ini telah kita bahas, bentuknya dan contohnyapun telah kita ketahui dengan baik. Yang belum adalah memasukkan pendapat kita ke dalam bentuk Eksposisi.

         Dan, kitapun telah mencoba melahirkan ide tulisan pada postingan sebelum ini. Bagaimana proses dari dorongan-dorongan, embrio ide sampai lahirnya ide tulisan telah kita jalani.

         Nah, sekarang kita telah punya suatu bahan yang cukup kuat dan utuh untuk sebuah Eksposisi yang baik. Kita tinggal menyusun tesisnya, kemudian kelas-kelasnya, dan akhirnya kesimpulan dan saran-saran jika ada.

         Bentuk eksposisi ini juga merupakan kerangka dasar suatu tulisan ilmiah. Sebagian besar penulisan ilmiah seperti dalam kitab-kitab, buku-buku, majalah, dan sebagainya menggunakan pola eksposisi. Disitu ada intro, tesis, ada lanjaran, ada kelas-kelas, dan ada kesimpulan, serta ada pula saran-saran.

         Pada tulisan-tulisan yang sangat formal dalam bentuk buku, intro dapat berkembang menjadi suatu bab tersendiri. Tesisnya menjadi suatu bab tersendiri pula. Demikian pula lanjaran, yaitu bab khusus yang mengungkapkan kepada pembaca bagaimana dan langkah-langkah apa yang diambil penulisnya dalam 'menangani' tesisnya., yang terwujudkan dalam susunan bab di dalam wacana itu, dan terkadang memang diberi judul "Pengaturan Bab", kadang pula diberi nama "Sistematika Penyajian".

          Kelas-kelas dan Kesimpulan pun masing-masing menjadi bab atau beberapa bab tersendiri. Sesudah Kesimpulan biasanya ada Saran-saran, yang merupakan bab tersendiri pula. Bahkan intro biasa disebut "Pengantar" yaitu bagian yang mengantarkan pembacanya langsung ke materi yang dipermasalahkan. Sering juga ada bab lain seperti "Pendahuluan", yakni berisi keterangan mengapa penulis memilih topik yang dibicarakan. Lalu, "Sepatah Kata" tentang ucapan-ucapan terima kasih.

          Kegunaan lainnya bentuk ini adalah, ketika kita harus menuliskan naskah untuk ceramah, khutbah ataupun penyampaian lisan lainnya dalam bidang yang kita kuasai. Sekali dua kali mungkin orang ingin mendengar pendapat kita. Kita tidak juga terus menerus menjadi pendengar. Penyajian lisan akan berdampak baik bagi kemampuan bicara kita. Nah, melatih diri menulis Eksposisi ini mempersiapkan diri kita pula untuk hal-hal yang semacam itu, yaitu ketika kita tampil membacakan suatu makalah kita sendiri. Penyajian lisan, jika kita susun dalam bentuk eksposisi akan lebih mudah disampaikan, lebih mudah pula bagi pendengar untuk mengingat isi materi yang disampaikan.

         Dengan sendirinya, dengan pola eksposisi kita tidak perlu menulis seluruh isi materi, cukup buat kerangkanya saja pada selembar kertas kecil saja. Disitu hanya ada tesis, lanjaran-lanjaran, kelas-kelas, kemudian kesimpulan yang harus sejalan dengan tesis atau 'tesis itu sendiri yang diucapkan dengan perkataan lain'. Semua ini agar penyajian lisan kita tidak ngelantur kemana-mana.

Belajar berpikir logis dan sistematis

         Perlu diketahui, wacana tulisan eksposisi, walaupun mempunyai bentuk yang kurang menarik, hal itu tetap musti kita pelajari. Karena, eksposisi erat sekali hubungannya dengan berpikir logis dan sistematis. Hal ini perlu kita kuasai, karena kita harus belajar bagaimana mengambil sikap, dan berlatih mendukung sikap itu dan mengutarakan secara logis. Dan, berpikir logis dan sistematis ini hanya bisa dicapai dengan latihan menulis wacana eksposisi. Latihan, latihan dan latihan, bukan teori, teori dan teori. Ingat! bahwa menulis itu ketrampilan, dan semua jenis ketrampilan butuh latihan. Banyak latihan. Kita tahu, mempelajari teori berenang tidak otomatis langsung membuat kita bisa berenang, karena berenang itupun ketrampilan yang diperoleh melalui latihan, latihan, dan sekali lagi latihan.

          Ada cara mudah untuk melatih menulis eksposisi, yaitu dengan cara menganalisa tulisan eksposisi seperti yang telah kita lakukan, lalu menuliskannya dengan pola berpikir 'menyamping', yaitu menuliskannya kembali dengan cara baru.

           Atau, kita cari tulisan eksposisi yang tesisnya tidak sependapat dengan pandangan kita, lalu kita tulis suatu eksposisi yang menentang tesisnya itu. Berpolemiklah, dan ungkapkan bantahan-bantahannya.

Latihan  
Coba uraikan kembali secara singkat dan gamblang! Apakah yang dimaksud dengan Eksposisi?
www.sketsarumah.com
www.sketsarumah.com Enggak jauh dari desain dan menulis, diimajinasikan dengan kopi di studio sketsarumah.com.

Posting Komentar untuk "#13 Eksposisi, Mengingat Kembali"

Motivasi Menulis

Gimana nih! memulai menulis
Motivasi Menulis
Kejutan dulu,
lalu Keteraturan

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kalimat

Motivasi Menulis

Merekam objek ide tulisan

Bahasa Indonesia
Belajar
Menulis Artikel

Bahasa Indonesia
Belajar
tentang Kata

Motivasi Menulis
Agar Menulis
tidak Lumpuh

Bahasa Indonesia
Belajar
Gaya Bahasa

menulis.sketsarumah.com
Seputar #sejarahislam #biografi #salafushshalih #caramenulis #deskripsi , #eksposisi , #artikel , #essay , #feature , #ceritanyata , #cerpen nonfiksi dan #novel nonfiksi di studio www.sketsarumah.com.

Ikuti yuk!
Telegram: t.me/menulissketsarumah_com
Twitter: twitter.com/menulisketsarmh

Simpan yuk!
WhatsApp: wa.me/6285100138746 dengan nama: www.sketsarumah.com